Berantas Kemiskinan, Banyuwangi Genjot Perbaikan Empat Sektor Ini

16-02-2017 Berantas Kemiskinan, Banyuwangi Genjot Perbaikan Empat Sektor Ini

Banyuwangi – Angka kemiskinan Banyuwangi mengacu pada data BPS pada 2015 yang mencapai 9,17 persen menjadi pekerjaan rumah yang terus diupayakan oleh Pemkab Banyuwangi. Meski dibandingkan dengan angka kemiskinan pada tahun 2010 yang 20,09 persen terus menurun, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas tetap berupaya keras untuk menekan angka tersebut seminimal mungkin.

“Meski dari tahun ke tahun angka kemiskinan di Banyuwangi ini terus menurun, tapi angka 9,17 persen yang setara dengan 146 ribu jiwa warga Banyuwangi ini, cukup banyak. Perlu kerja keras lebih untuk bisa menekan angka tersebut seminimal mungkin,” ungkap Bupati Anas saat membuka Musrembangcam se-Kabupaten Banyuwangi di Pantai Blimbingsari, Banyuwangi Kamis (16/2).

Untuk itu, ada empat sektor yang akan menjadi fokus garapan Pemkab Banyuwangi dalam mengentaskan kemiskinan. Mulai dari tingkat pendidikan, kesehatan, produktivitas pertanian dan Industri Kecil Menengah (IKM). “Masing-masing kecamatan kita potret berdasarkan empat sektor tersebut, yang langsung kita sandingkan dengan tingkat kemiskinannya,” jelas Anas di hadapan peserta musrenbangcam yang terdiri dari camat, kepala desa, kepala satuan kerja, tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Setiap sektor sendiri dibagi dalam empat kuadran. Kuadran pertama adalah kecamatan yang tingkat kemiskinan rendah dengan kondisi empat sektor dimaksud (pendidikan, kesehatan, produktivitas pertanian dan IKM) yang tinggi. Sedangkan kuadran kedua, kecamatan tingkat kemiskinan tinggi dan kondisi empat sektor juga tinggi.

Kuadran ketiga, mencerminkan tingkat kemiskinan rendah, tapi kondisi empat sektor tersebut juga rendah. Adapun kuadran keempat atau kuadran yang paling rendah adalah kondisi keempat sektornya rendah dan tingkat kemiskinannya tinggi.

Untuk kecamatan yang berada pada kuadran empat dalam bidang pendidikan terdiri dari enam kecamatan. Di antaranya adalah Kecamatan Kalibaru, Kalipuro, Gambiran, Muncar, Wongsorejo dan Singojuruh. “Rendahnya tingkat pendidikan ini, kita ukur dari tingginya angka putus sekolah. Angka 2015 lalu, total di Banyuwangi ada 5191 anak yang putus sekolah, dan berhasil kita entaskan sebanyak 5.093 anak. Seiring waktu, sekarang ada 571 anak putus sekolah yang perlu diselesaikan,” harap Anas.

Sedangkan kecamatan yang berada pada kuadran empat dengan tingkat kesehatan rendah meliputi empat kecamatan. Di antaranya adalah Kecamatan Songgon, Kalipuro, Wongsorejo dan Muncar. Untuk tingkat kesehatan tersebut, diukur antara lain berdasar jumlah pengidap Tubercolisis (TB paru). “Sampai saat ini, ada 1719 kasus TB di Banyuwangi,” ungkap Anas.

Kuadran empat dibidang produktivitas pertanian terdiri dari lima kecamatan yang meliputi Kecamatan Kalibaru, Licin, Glenmore, Kalipuro dan Wongsorejo. Produktivitas pertanian sendiri diukur dari hasil panen masing-masing kecamatan.

 Sedangkan kuadran keempat dalam jumlah IKM yang rendah meliputi sepuluh kecamatan yang terdiri dari Singojuruh, Kabat, Siliragung, Wongsorejo, Kalipuro, Gambiran, Songgon, Licin dan Kalibaru. Hal ini mengacu pada jumlah IKM di masing-masing kecamatan. Kecamatan dikatakan memiliki IKM rendah, bila jumlah pelaku IKM kurang dari 900 orang.

Dengan potret yang detail per masing-masing kecamatan, Bupati Anas berharap, sasaran kinerja dari empat sektor tersebut bisa lebih fokus. “Kecamatan yang berada pada kuadran empat akan menjadi fokus garapan kita bersama,” kata Anas.

Anas menjelaskan telah menyiapkan strategi untuk mengatasi masalah ini. Menekan angka putus sekolah, pemkab melakukan beberapa terobosan. Di antaranya adalah dengan membentuk tim Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah) dan  Siswa Asuh Sebaya (SAS). Dari dua program tersebut, pemkab terus melakukan pencarian anak yang putus sekolah guna dicarikan solusi untuk dapat melanjutkan kembali pendidikannya. “Jadi, kedepannya, tidak ada lagi rumusan anak tak bisa lagi sekolah,” ungkapnya.

Sedangkan dalam bidang kesehatan sendiri, salah satu yang dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi adalah meningkatkan kwalitas layanan kesehatan dari tingkat Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas, hingga Rumah Sakit Daerah. Melalui Call Center Kemiskinan, warga Banyuwangi yang tidak mampu akan mendapat penangan cepat dan gratis.

“Jika ada warga miskin yang sakit, langsung saja laporkan ke Call Center Kemiskinan untuk segera bisa dirujuk ke rumah sakit. Tak perlu lagi laporan ke Bupati karena proses administratifnya terlalu panjang,” jelasnya.

Khusus untuk TB paru, Anas akan terus meminta puskesmas lebih pro aktif mendekati pasien untuk terus berobat. "Sanitasi penduduk juga akan menjadi perhatian utama kami, karena bakteri TB ini bisa menyebar karena lingkungan rumah yang kurang sehat," jelas Anas.

Terkait produktivitas pertanian, pemkab salah satunya akan meningkatkan jaringan irigasi di Kabupaten Banyuwangi. Sampai saat ini, irigasi primer dibangun sepanjang 3.718 KM, irigasi sekunder sepanjang 2.204 KM, dan irigasi tersier mencapai 797 KM.

“Untuk 2017 sendiri, kami anggarkan 150 Miliyar untuk pembangungan jaringan irigasi. waduk Bajulmati juga akan melengkapi irigasi yang ada di Banyuwangi. Selain itu, kami juga memberikan bantuan sarana dan prasarana pertanian untuk meningkatkan produktivitas,” ungkapnya.

Peningkatan IKM di masing-masing kecamatan dilakukan pemkab dengan terus menggenjot pelatihan-pelatihan kewirausahaan berbasis sekolah kejuruan, komunitas maupun desa.

“Tahun ini Pemkab Banyuwangi mengadakan 600 paket pelatihan kewirausahaan bersinergi dengan sekolah kejuruan agar hasilnya lebih terukur. Mulai dari perbengkelan, pelatihan travel dan bahasa asing. Kami juga akan melibatkan perguruan tinggi seperti Poliwangi untuk terlibat dalam pelatihan,” tuturnya.

Sementara itu, potret kemiskinan Banyuwangi secara regional menunjukkan trend positif. Pada tahun 2015, berdasarkan data BPS Jawa Timur, angka kemiskinan Banyuwangi berada di bawah rata-rata tingkat kemiskinan Jawa Timur. Bahkan, dibandingkan dengan pemerintah kabupaten lain di Jawa Timur, Banyuwangi merupakan kabupaten ketiga dengan tingkat kemiskinan terendah.

“Memang masih ada ribuan warga miskin di Banyuwangi, namun secara bertahap akan kami tangani. Apalagi, saat ini energi positif sedang meliputi rakyat Banyuwangi, saya yakin kita bisa menghadapi tantangan ke depan. Dengan kerja keras dan kerja sama kita semua, serta doa segenap masyarakat Banyuwangi, tingkat kemiskinan di Banyuwangi bisa terus kita tekan seminimal mungkin.,” harap Anas (Humas)


Copyright © 2017 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

Jalan Ahmad Yani 100 Telp. 0333 425001

Website : www.banyuwangikab.go.id