Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, khususnya untuk jenis rumput laut yang tumbuh di daerah tropis, yaitu Kappaphycus alvarezii (cottonii), Eucheuma denticulatum (spinosum), dan Gracilaria sp. Kontribusi Indonesia dalam bahan baku rumput laut sudah diakui internasional, tetapi peran dan kontribusi Indonesia dalam industri pengolahan masih harus ditingkatkan, dan masih memiliki peluang cukup besar, paling tidak untuk industri agar-agar dan karagian, kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, Jana Tjahjana Anggadiredja pada acara jumpa pers di Jakarta, Kamis (18/3).
Menurut Jana Tjahjana yang juga Ketua Masyarakat Rumput Laut Indonesia (MRLI), program pengembangan industri rumput laut nasional sejalan dengan program pembangunan sektor dan pengembangan komoditi lainnya, terutama untuk mendukung penciptaan lapangan pekerjaan, mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat dan pertumbuhan perekonomian nasional (pro-job, pro-poor, dan pro-growth).
Secara nasional, katanya, Indonesia terlambat dalam melakukan penguatan struktur industri rumput laut nasional, sehingga meskipun Indonesia menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia untuk
jenis cottonii dan spinosum, tetapi harga bahan baku masih dikendalikan oleh pembeli dari luar negeri.
Oleh karena itu, kata Jana Tjahjana, langkah yang harus segera dilakukan adalah memrogramkan penguatan struktur industri rumput laut nasional dari hulu ke hilir, kemudian membuat cetak biru pengembangan industri rumput laut nasional yang berkelanjutan dengan strategi pencapaiannya dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
Tentunya dengan melibatkan berbagai pihak pemangku kepentingan, khususnya para pelaku usaha, katanya.
Ia menjelaskan, program yang bersinergi dan terkoordinasi dengan baik antar-kementerian terkait (pemerintah) dan para pelaku usaha, yaitu para petani, pedagang, eksportir, dan industri pengolah,
termasuk lembaga keuangan bank, non-bank dan koperasi, akan menjadi kunci keberhasilan pencapaian cetak biru pengembangan industri rumput laut nasional secara berkelanjutan.
Untuk itu, katanya, tim rumput laut BPPT bekerja sama dengan MRLI (Indonesian Seaweed Society) dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) kini sedang melakukan kajian dan perumusan strategi pengembangan industri rumput laut nasional secara berkelanjutan.
Kajian itu nantinya akan menjadi bahan masukkan bagi kementerian terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset dan Teknologi, dan para pelaku
usaha, katanya.
Sedangkan mengenai sasaran capaian tahun 2014, di antaranya adalah peta kesesuaian lokasi budidaya cottonii, spinosum, sacol, dan gracilaria. Kemudian ketersediaan kebutuhan bibit di setiap sentra produksi, peningkatan produksi cottonii sebanyak 300.000 ton kering, sacol 30.000 ton kering, spinosum 30.000 ton kering, dan gracilaria sebanyak 60.000 ton kering.
Selain itu, kata Jana, juga penyerapan 25 persen produksicarageenophyte oleh industri dalam negeri, dengan pengertian lain, tersedia kapasitas industri karagian sekitar 26.000 ton, dan penyerapan 60 persen produksi agarohyte oleh industri dalam negeri atau tersedianya kapasitas industri agar sekitar 5.000 ton.
Termasuk peningkatan ekspor carageenan dalam jumlah nasional menjadi sekitar 250.000 ton kering dan peningkatan ekspor agarophyte menjadi sekitar 20.000 ton kering, kata Jana.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis, dalam kesempatan yang sama mengemukakan, Indonesia akan menjadi penyelenggara pelaksanaan International Seaweed Symposium (ISS) XXI pada bulan April 2013 di Bali.
Menurutnya, ISS XXI memiliki arti penting bagi Indonesia, karena paling tidak Indonesia sudah diakui secara internasional, bukan saja sebagai produsen bahanbaku, tetapi juga sebagai produsen hasil olahan, dan tentunya sudah ada pengakuan pula dari segi kegiatan ilmiahnya.
Dikemukakan, MRLI, ARLI dan BPPT, akan berkonsorsium dengan Kementerain Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, dan asosiasi lainnya, yaitu Ikatan Fikologi Indonesia (IFI) yang anggotanya terdiri atas para periset algae, serta Asosiasi Pengelola Petani Rumput Laut Indonesia (Aspperli) yang anggotanya
petani dan pengusaha pengepul untuk mempersiapkan diri menjadi penyelenggara ISS XXI (T.Gs/ysoel)
sumber : www.depkominfo.go.id













