Pemerataan yang dimaksud diukur dengan beberapa indikator yaitu : APK, APM, perbandingan antara jenjang, Rasio Pendidikan, Angka melanjutkan dan angka pelayanan sekolah.

Berdasarkan Angka Partisipasi (APK) yang ada, ternyata APK tertinggi di tingkat SD/MI yaitu : 108,36 % dan yang terendah di tingkat SM/MA yaitu : 54,22%. Tingginya APK tersebut di tingkat SD/MI adalah akibat banyaknya siswa usia di luar usia sekolah yang berada di jenjang tersebut yakni sejumlah 13.143 siswa. Bila dilihat dari desa dan kota APK tingkat SM yang lebih tinggi terdapat di Kecamatan Giri dan Kecamatan Glagah yaitu masing-masing sebesar 266.99 % dan 153.30 % hal ini disebabkan dua kecamatan tersebut terletak pada perbatasan ibukota kabupaten dan terdapat sekolah yang difavoritkan, sedangkan tingkat terendah terdapat di Kecamatan Kalipuro yaitu sebesar 7.55 % pada tingkat desa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa SD/MI mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan tingkat lainnya.

Bila sekolah antar jenjang dibandingkan, maka makin tinggi sekolah makin kurang, hal ini ditunjukkan dari jumlah lembaga di tingkat SLTP berbanding dengan lembaga di tingkat SD sebesar yakni sejumlah 1:5, di tingkat SM berbanding dari jumlah SLTP sebesar 1:2. Makin sedikit jumlah sekolah di jenjang yang makin tinggi menunjukkan makin mahalnya biaya sekolah yang lebih tinggi. Untuk lebih jelasnya angka APS dan APK dapat dilihat dari tabel berikut ini.


Indikator pemerataan Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008/2009

NO INDIKATOR SD+MI SLTP+MTs SM/MA
1
APK
108,36
93,69
54,22

a. Laki-laki
109,23
89,10
53,28

b. Perempuan
107,43
92,42
55,22

c. Kota
122,02
122.21
160.65

d. Desa
107,73
86,56
43,51
2
APS
102,49
91,07
59,03

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi

Peningkatan mutu dimaksud diukur dengan berbagai indikator yaitu prosentase lulusan TK/RA/BA, angka mengulang, angka putus sekolah, angka lulusan, angka kelayakan guru mengajar, presentase kondisi ruang kelas, prosentase fasilitas sekolah. Khususnya untuk SLTP dan SMA ditambah dengan indikator kesesuaian guru mengajar menurut bidang study. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Angka Mengulang, Putus Sekolah dan Kelulusan

NO
Jenis
Angka Mengulang
Putus Sekolah
Lulusan 
1
TK
0
0
104
2
SD
5.176
78
20.621
3
MI
20
0
86
4
SMP
35
231
10.166
5
SMPT
0
0
20
6
MTs
3
27
2.762
7
SMA
40
87
3.641
8
MA
0
32
795
9
SMK
51
89
1.778

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi

Angka Mengulang, Putus Sekolah dan Kelulusan Sekolah Swasta Tahun 2009

NO
Jenis
Angka Mengulang
Putus Sekolah
Lulusan 
1
TK
0
0
19.848
2
RA/BA
0
0
1.435
3
SD
48
5
988
4
MI
566
45
4.443
5
SMP
56
129
3.6
6
MTs
6
56
3.749
7
SMA
46
203
1.572
8
MA
12
26
596
9
SMK
19
161
3.153

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi

Indikator Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar  dan Menengah

No
Indikator
SD+MI
SMP+MTs
SM/MA
1 Prosentase kelayakan (sesuai UU Guru dan Dosen)
38.89
80.75
88.59
2 Rasio  kesesuaian ijasah dengan bidang study yang diajarkan 
0
1
0.99
3 Prosentase kesesuaian   guru mengajar dgn ijasah
0
99.77
99.19
4 Prosentase Kondisi Ruang Kelas



  a. Baik
47.99%
81%
80.78%
  b. Rusak Ringan
26.47%
10.34%
10.02%
  c. Rusak Berat
25.54%
8.65%
9.21%

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi

Efesiensi internal diukur dari jumlah keluaran, tahun - siswa putus sekolah, mengulang, lama belajar, tahun - siswa terbuang, tahun masukan per lulusan, dan rasio keluaran per masukan.

Berdasarkan jumlah keluaran, ternyata yang paling tinggi di tingkat SD+MI dan paling rendah adalah SLTP+MTs lalu disusul tingkat SM+MA. Jumlah putus sekolah dan mengulang yang seharusnya 0 (nol) yang berarti sangat efesiensi ternyata yang paling mendekati adalah tingkat SLTP+MTs jika ditinjau dari rata-rata gabungan antara siswa mengulang dan putus sekolah, selanjutnya disusul pada tingkat SM+MA, dan terakhir ditingkat SD+MI. Jika dilihat dari lama belajar-lulusan, maka ditingkat SLTP memiliki lama belajar yang paling efisien yaitu 3,66 sedangkan pada SD+MI dan SMA/MA/SMK masing-masing 7,00 pada tingkat SD+MI dan pada tingkat SLTA 3,91.

Untuk melihat efesiensi tidaknya suatu sekolah juga dapat diukur dari tahun masukan per lulusan atau rasio masukan dibagi lulusan, angka tertinggi terdapat pada tingkat SM/MA yakni sebesar 3,84 dan terendah pada tingkat SLTP yakni sebesar 3,56, sedangkan untuk tingkat SD sebesar 6,61 (artinya : semakin mendekati waktu lamanya belajar normal akan semakin baik). Banyaknya sekolah, Murid dan Guru Negeri dan Swasta Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Banyaknya sekolah, Murid dan Guru Negeri Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

No
Jenis
Sekolah
Kelas
Guru
Murid
1
TK
2
9
24
216
2
SD
788
5.452
8.408
135.107
3
MI
3
20
47
618
4
SMP
73
954
1.907
35.46
5
SMPT
5
12
94
294
6
MTs
12
211
420
8.954
7
SMA
17
308
738
12.118
8
MA
4
72
146
3.067
9
SMK
7
199
485
7.129

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi


Banyaknya sekolah, Murid dan Guru Swasta Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

No
Jenis
Sekolah
Kelas
Guru
Murid
1
TK
673
1.651
2.841
36.811
2
RA/BA
43
87
163
2.062
3
SD
35
255
394
6.261
4
MI
223
1.385
2.357
29.771
5
SMP
82
636
1.348
15.253
6
MTs
67
374
1.191
12.909
7
SMA
31
185
291
6.26
8
MA
24
98
372
2.683
9
SMK
28
379
769
15.669

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi

Derajat Kesehatan Masyarakat Banyuwangi:


Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.

Mortalitas dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Ibu melahirkan per 1.000 kelahiran hidup.

a. Angka Kematian Bayi

Irfant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu, program- program kesehatan di Indonesia banyak yang menitik beratkan pada upaya penurunan AKB. AKB merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1.000 kelahiran hidup.

Berdasarkan hasil dari kompilasi data pencatatan dan pelaporan di Dinas Kesehatan khusus dari LB3 KIA selama tahun 2009 terdapat jumlah kematian bayi sebesar 104 yang dilaporkan dari 23.702 kelahiran hidup (4,4 per 1.000 kelahiran hidup). Kasus tertinggi terjadi pada Kecamatan Licin (15,3 per 1.000 kelahiran hidup). Sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Kabat dan Kalibaru Kulon, yang tidak terdapat kematian bayi pada tahun 2009.

Antara Tahun 2005-2009, di Kabupaten Banyuwangi terjadi penurunan angka kematian bayi, sebagaimana pada grafik di bawah ini :

Angka Kematian Bayi (Dilaporkan) Kabupaten Banyuwangi

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa antara tahun 2005 - 2009 terjadi penurunan Angka Kematian Bayi. Kecenderungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya.

Pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berperan melalui perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (AKABA) menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.

Berdasarkan hasil dari kompilasi data pencatatan dan pelaporan di Dinas Kesehatan dan KB khusus dari LB3 KIA selama Tahun 2009 terdapat jumlah kematian balita sebesar 10 yang dilaporkan dari 23.702 kelahiran hidup (0,4 per 1.000 kelahiran hidup).

Secara ideal angka kematian tersebut harus mencakup seluruh pelayanan kesehatan swasta (BP, BKIA, RS Swasta) dan Pemerintah. Namun sampai saat ini laporan dari pihak swasta belum optimal.


Jumlah Kelahiran dan Kematian Bayi dan Balita Menurut Kecamatan Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan
Jumlah
%
Lahir Mati
Jumlah
Kematian Bayi
Jumlah
Kematian Balita
Lahir Hudup
Lahir Mati
Lahir Hidup
+
Lahir Mati
Wongsorejo
1.116
11
1.12
1,00
7
1
Kalipuro
984
16
969
1,25
10
0
Giri
415
3
384
0,40
1
1
Glagah
472
4
474
0,40
3
0
Licin
392
6
331
0,90
6
0
Banyuwangi
1.617
12
1.542
1,20
8
2
Kabat
1.09
10
1.184
8,50
0
0
Rogojampi
1.492
6
1.519
0,40
9
1
Singojuruh
794
5
810
0,30
6
0
Songgon
843
3
833
0,20
1
1
Srono
1.085
1
1.09
0,15
5
0
Muncar
1.956
3
1.997
0,30
7
0
Tegaldlimo
1.037
1
1.093
0,10
2
0
Purwoharjo
1.053
0
1.132
0
2
0
Cluring
1.046
1
1.007
0,10
1
0
Gambiran
979
2
1.047
0,20
3
0
Tegalsari
786
2
807
0,10
2
0
Genteng
1.096
1
1.09
0,10
9
1
Sempu
1.176
6
1.214
1,25
10
1
Glenmore
839
15
961
1,45
3
0
Kalibaru
1.046
5
1.002
0,25
0
1
Bangorejo
1.014
6
1.037
0,55
5
0
Pesanggaran
674
3
594
0,50
3
1
Siliragung
720
4
613
0,35
1
0
Jumlah
23.702
126
23.828
0,26
104
10
Angka Kematian (Dilaporkan)
4.388
0,4

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

Keterangan :

Angka Kematian (dilaporkan) tersebut belum bisa menggambarkan AKB/KABA yang sebenarnya di populasi


c. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu Maternal bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan kehamilan, persalinan dan nifas. (Depkes RI, 2009)

Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

Kasus kematian ibu yang meninggal pada saat hamil, bersalin dan nifas yang dilaporkan di Kabupaten Banyuwangi terdapat sebanyak 23 kasus dari sebanyak 23.702 kelahiran hidup (97,04).

Jumlah Kematian Ibu Maternal Menurut Kecamatan Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan
Jumlah Lahir Hidup
Jumlah
Kematian Ibu Hamil
Kematian Ibu Bersalin
Kematian Ibu Nifas
Jumlah
Wongsorejo
1.116
0
1
0
1
Kalipuro
984
0
0
3
3
Giri
415
0
0
1
1
Glagah
472
0
0
0
0
Licin
392
0
0
0
0
Banyuwangi
1.617
0
0
3
3
Kabat
1.09
1
0
0
1
Rogojampi
1.472
0
0
2
2
Singojuruh
794
0
0
1
1
Songgon
843
0
0
0
0
Srono
1.085
1
0
1
2
Muncar
1.956
0
0
1
1
Tegaldlimo
1.037
0
0
0
0
Purwoharjo
1.053
2
0
1
3
Cluring
1.046
0
0
0
0
Gambiran
979
0
0
1
1
Tegalsari
786
0
0
0
0
Genteng
1.096
0
0
0
0
Sempu
1.176
0
0
0
0
Glenmore
839
1
0
1
2
Kalibaru
1.046
0
0
1
1
Bangorejo
1.014
1
0
0
1
Pesanggaran
674
0
0
0
0
Siliragung
720
6
1
16
23
Jumlah
23.702
6
1
16
23
Jumlah Kematian Ibu Maternal
97.04

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

Keterangan :

* Jumlah Kematian ibu maternal = jumlah kematian ibu hamil + jumlah kematian ibu bersalin + jumlah kematian ibu nifas * Angka kematian ibu maternal (dilaporkan) tersebut di atas belum bisa menggambarkan AKI yang sebenarnya di populasi.

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu penyakit yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas berhubungan dengan terjadinya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non fatal. Angka Morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat daripada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai mortalitas yang rendah (Depkes, RI 2009).

Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda ( double burden). Di satu sisi masih dihadapi masih tingginya penyakit infeksi (baik remerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun di sisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktifitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Pada Tahun 2009, di Banyuwangi ditemukan 11 kasus AFP pada penderita

usia < 15 tahun. Dengan jumlah penduduk < 15 tahun sebanyak 398.348 jiwa, ditemukan AFP rate sebesar 2,76 per 100.000 penduduk < 15 tahun dan terjadi kematian sebanyak 3 orang , sehingga CFR (Crude Fatality Rate) sebesar 27,27 %.

b. TB Paru

Pada Tahun 2009, terdapat sebanyak 807 kasus TB Paru BTA (+), diobati 807 orang, dan yang sembuh 690 orang (85.5%). Penderita TB terbanyak terdapat pada kecamatan Muncar dan Purwoharjo sebanyak 74 orang, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Giri dengan ditemukan 4 kasus.

c. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Jumlah bayi penderita Pneumonia di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 yakni 1.103 balita dan 100 % ditangani.


AFP Rate, % TB Paru Sembuh dan Pneumonia Balita Ditangani Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
AFP
< 15 TH
BTA (+) diobati
Sembuh
% Sembuh
Jumlah Penduduk
Jumlah Pend. Balita
Balita Ditangani
% Balita Ditangani
Wongsorejo
0
84
71
85,11
43
43
43
100
Kalipuro
0
19
12
63,16
139
139
139
100
Giri
1
6
6
100,0
271
271
271
100
Glagah
0
10
7
70
4
4
4
100
Licin
0
12
8
66,67
1
1
1
100
Banyuwangi
3
55
53
97,43
40
40
40
100
Kabat
0
69
63
89,10
0
0
0
0
Rogojampi
2
49
41
82,24
94
94
94
100
Singojuruh
0
30
29
96,67
10
10
10
100
Songgon
0
66
65
98,48
75
75
75
100
Srono
0
15
8
55,55
91
91
91
100
Muncar
1
74
58
80,46
69
69
69
100
Tegaldlimo
0
24
21
90,63
117
117
117
100
Purwoharjo
1
74
66
89,36
24
24
24
100
Cluring
1
18
11
61,11
11
11
11
100
Tegalsari
0
16
14
87,50
0
0
0
0
Genteng
0
21
17
81,36
4
4
4
100
Sempu
2
15
15
100,0
50
50
50
100
Glenmore
0
73
72
91,66
55
55
55
100
Kalibaru
0
13
10
76,92
0
0
0
0
Bangorejo
0
19
15
80,35
5
5
5
100
Pesanggaran
0
11
6
64,28
0
0
0
0
Siliragung
0
7
6
85,71
0
0
0
0
RSUD Blambangan
0
8
6
75
0
0
0
0
Jumlah
11
807
690
85,50
1.1
1.103
1.1
100
Jumlah Kesakitan
2,76
85,50

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

d. HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu terjadinya penularan HIV. Selama tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi dilaporkan sebanyak 310 kasus IMS yang ditemukan dan semuanya ditangani, sedangkan kasus HIV/AIDS dilaporkan sebanyak 186 dan semuanya ditangani.

Tabel HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
HIV/AIDS
IMS
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Wongsorejo
0
0
0
7
7
100
Kalipuro
0
0
0
0
0
0
Giri
0
0
0
9
9
100
Glagah
0
0
0
10
10
100
Licin
0
0
0
4
4
100
Banyuwangi
73
73
100
7
7
100
Kabat
0
0
0
0
0
0
Rogojampi
0
0
0
20
20
100
Singojuruh
0
0
0
85
85
100
Songgon
0
0
0
18
18
100
Srono
0
0
0
25
25
100
Muncar
0
0
0
5
5
100
Tegaldlimo
0
0
0
7
7
100
Purwoharjo
0
0
0
18
18
100
Cluring
0
0
0
19
19
100
Gambiran
0
0
0
0
0
0
Tegalsari
0
0
0
4
4
100
Genteng
113
113
100
0
0
0
Sempu
0
0
0
19
19
100
Glenmore
0
0
0
1
1
100
Kalibaru
0
0
0
0
0
0
Bangorejo
0
0
0
14
14
100
Pesanggaran
0
0
0
0
0
0
Siliragung
0
0
0
12
12
100
Jumlah
186
186
100
310
310
100

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

e. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebanyak 769 kasus dan keseluruhan telah diobati. Kasus DBD terbanyak terdapat pada Wilayah Kecamatan Cluring sebanyak 128 kasus.

f. Diare

Jumlah kasus diare di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 yang tercatat dari 45 Puskesmas sebanyak 15.198 kasus, balita yang terkena diare yang ditangani 15.198 kasus dan semuanya tertangani (100 %).

Tabel DBD Dan Diare Pada Balita Ditangani Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
DBD
DIARE
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Jumlah Kasus
Jumlah Diare Pada Balita
Jumlah Diare Pada Balita Ditangani
% Balita Ditangani
Wongsorejo
14
14
100
745
282
282
100
Kalipuro
48
48
100
1598
369
369
100
Giri
19
19
100
594
452
452
100
Glagah
10
10
100
580
305
305
100
Licin
3
3
100
160
76
76
100
Banyuwangi
89
89
100
3.002
1.51
1.51
100
Kabat
47
47
100
653
368
368
100
Rogojampi
111
111
100
2.805
1.573
1.573
100
Singojuruh
25
25
100
266
634
634
100
Songgon
8
8
100
1.034
140
140
100
Srono
56
56
100
1.379
583
583
100
Muncar
29
29
100
4.194
1.686
1.686
100
Tegaldlimo
9
9
100
1.612
860
860
100
Purwoharjo
29
29
100
1.872
680
680
100
Cluring
128
128
100
3.221
1.512
1.512
100
Gambiran
31
31
100
1.259
597
597
100
Tegalsari
9
9
100
131
68
68
100
Genteng
33
33
100
2.164
1.091
1.091
100
Sempu
4
4
100
1.232
560
560
100
Glenmore
10
10
100
1.111
437
437
100
Kalibaru
14
14
100
1.16
313
313
100
Bangorejo
30
30
100
1.583
669
669
100
Pesanggaran
2
2
100
758
317
317
100
Siliragung
1
1
100
254
116
116
100
Jumlah
769
769
100
33.37
15.2
15.2
100

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi


Tabel Persentase Penderita Malaria Diobati, Dirujuk dan Meninggal Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
DBD
Dirujuk ke RS
Meninggal
Sudah Diperiksa
Positif
% Positif
Positif Diobati
% Diobati
Wongsorejo
0
0
0
0
0
0
0
Kalipuro
0
0
0
0
0
0
0
Giri
0
0
0
0
0
0
0
Glagah
0
0
0
0
0
0
0
Licin
0
0
0
0
0
0
0
Banyuwangi
0
0
0
0
0
0
0
Kabat
0
0
0
0
0
0
0
Rogojampi
0
0
0
0
0
0
0
Singojuruh
0
0
0
0
0
0
0
Songgon
0
0
0
0
0
0
0
Srono
0
0
0
0
0
0
0
Muncar
22
22
100
22
100
0
0
Tegaldlimo
5
5
100
5
100
0
0
Purwoharjo
5
5
100
5
100
0
0
Cluring
7
7
100
7
100
0
0
Gambiran
0
0
0
0
0
0
0
Tegalsari
0
0
0
0
0
0
0
Genteng
0
0
0
0
0
0
0
Sempu
0
0
0
0
0
0
0
Glenmore
0
0
0
0
0
0
0
Kalibaru
0
0
0
0
0
0
0
Bangorejo
0
0
0
0
0
0
0
Pesangga-ran
2
2
100
2
100
0
0
Siliragung
0
0
0
0
0
0
0
Jumlah
41
41
100
41
100
0
0
Angka Kesakitan  (API)  
per 1000 PDDK Resiko
0,041


h. Kusta

Di Kabupaten Banyuwangi, jumlah penderita Kusta PB yang dilaporkan pada Tahun 2008 sebanyak 2 orang dan yang telah selesai menjlani pengobatan (RFT PB) pada Tahun 2008 sebanyak 8 orang (100%). Sedangkan untuk Kusta Tipe M, jumlah penderita yang dilaporkan pada Tahun 2007 adalah sebanyak 64 orang, dan yang telah selesai menjalani pengobatan (RFT MB) pada Tahun 2009 sebanyak 59 orang (92,19%).

i. Filaria (Kaki Gajah)

Hingga kini jumlah penderita filariasis yang dilaporkan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 11.699 kasus filariasis di Indonesia. Pada tahun 2009 Kabupaten Banyuwangi dari 12 orang penderita filariasis yang ditemukan, 100 % telah ditangani. Penderita tersebut berasal dari Kecamatan Giri, Glagah, Banyuwangi, Kabat, Tegaldlimo, Genteng dan Bangorejo.

j. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

a. Tetanus Neonatorum

Pada Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi terdapat 1 kasus Tetanus Neonatorium, dan tidak menyebababkan kematian pada penderita.

b. Campak

Jumlah kasus Campak di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009, hasil dari kompilasi data atau informasi dari 45 Puskesmas terdapat sebanyak 56 kasus. Jumlah ini meningkat daripada tahun sebelumnya yang terdapat 51 kasus. Kasus terbanyak tercatat pada Puskesmas Kedungwungu Kecamatan Tegaldlimo.

c. Difteri, Pertusis, Hepatitis

Difteri termasuk penyakit menular yang menular yang jumlah kasusnya relatif rendah. Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 terdapat kasus Difteri sebanyak 5 kasus dan tidak menyebabkan meninggal.

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B yang dapat merusak hati.

Penyebaran penyakit tersebut melalui suntikan yang tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan, melalui hubungan seksual.

Bila dibandingkan Tahun 2007 yang tidak terdapat kasus Pertusis dan Hepatitis B, pada Tahun 2008 ditemukan 2 kasus Pertusis dan 188 kasus Hepatitis B. Sedangkan Tahun 2009 tidak terdapat kasus.

Status gizi seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan kesehatan secara umum, disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individu. Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari.

Program ini merupakan salah satu indikator kinerja pelayanan minimal pada sasaran dimaksud.

Kunjungan Neonatus (KN2) di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebesar 22.677 (91.74%) dari target 24.720. Sejak tahun 2005-2009 terjadi peningkatan cakupan kunjungan Neonatus (KN2) seperti dapat dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Tren Cakupan KN2 Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005 - 2009

gizi

2. Kunjungan Bayi

Setiap bayi (usia 0-1 tahun) diharapkan mendapatkan pelayanan sesuai standart oleh tenaga kesehatan yang kompeten menimal 4 kali. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar, vitamin A (bayi di atas 6 bulan), Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) bayi, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan buku KIA. Dengan program kunjungan bayi diharapkan setiap bayi hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal. (Dinkes Jatim, 2008).

Kunjungan bayi di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebesar 24.397 (98.69%) dari target 24.721 bayi yang ada. Kualitas pelayanan kunjungan bayi diharapkan akan mampu mempercepat penurunan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup bayi. Untuk mendapatkan gambaran kunjungan bayi selama 5 (lima) tahun bisa dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Cakupan Kunjungan Bayi Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005 - 2009

kunjungan bayi

3. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori, yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular sexual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan (Depkes RI, 2009).

Jumlah BBLR yang dilaporkan selama Tahun 2009 dari 45 Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 384 (1.62%) dari 23.702 kelahiran hidup, dan 100 % ditangani. Jika dibandingkan dengan tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 0,58%.

Tabel Cakupan Kunjungan Neonatus, Bayi dan Bayi BBLR Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
Neonatus
Bayi
Bayi Lahir
Jumlah Bayi
kn2
%
Kunjungan
%
Jumlah Lahir Hidup
BBLR
% BBLR
Wongsorejo
1.071
1.053
98.44
1.219
113.82
1.116
14
1.25
Kalipuro
568
461
81.16
475
84.67
984
13
2.88
Giri
446
396
88.79
442
99.1
415
4
0.96
Glagah
516
465
90.12
472
91.47
472
5
1.06
Licin
504
365
72.42
398
78.97
392
9
2.3
Banyuwangi
1.602
1.603
99.17
1.629
101.28
1.617
27
1.86
Kabat
1.204
1.053
88.89
1.09
182.69
1.09
13
1.27
Rogojampi
1.481
1.377
93.04
1.474
99.29
1.472
14
1.1
Singojuruh
734
744
101.36
811
110.49
794
8
1.01
Songgon
781
816
104.48
843
107.94
843
14
1.66
Srono
1.387
1.038
75.06
1.242
89.68
1.085
10
0.92
Muncar
1.921
1.864
97.12
1.988
102.86
1.956
31
1.82
Tegaldlimo
991
994
99.29
1.037
103.98
1.037
19
1.85
Purwoharjo
1.007
1.05
104.27
1.053
104.56
1.053
16
1.53
Cluring
1.06
990
95.91
1.111
107.6
1.046
9
0.92
Gambiran
1.041
972
93.4
994
95.56
979
14
1.44
Tegalsari
737
766
103.93
789
107.06
786
6
0.76
Genteng
1.312
1.085
83.38
1.17
89.33
1.096
13
1.18
Sempu
1.17
1.1
96.42
1.224
111.77
1.176
37
3
Glenmore
1.089
765
70.56
965
88.35
839
17
2.01
Kalibaru
952
936
98.32
1.065
111.87
1.046
9
0.86
Bangorejo
1.056
991
94.33
1.033
98.2
1.014
11
1.1
Pesanggaran
715
611
86.23
677
95.12
674
7
1.04
Siliragung
808
720
89.11
720
89.11
720
8
1.11
Jumlah
24.72
22.677
91.74
24.397
98.69
23.702
328
1.38

4. Status Gizi Balita

Status Gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometrik yang menggunakan Indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) dengan status gizi yang bersifat umum dan tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk dan kurang mengidentifikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4 % dan gizi kurang 13 % atau 18,4 % untuk gizi buruk dan kurang. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan MDG untuk Indonesia sebesar 18,5 %, maka secara nasional target sudah melampaui, namun pencapaian di berbagai propinsi belum merata. Dari laporan hasil survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga dan SKRT selama periode 1998-2000 persentase balita gizi buruk dan gizi kurang menurun. Namun, mulai tahun 2001- 2005, persentase balita gizi buruk dan gizi kurang terus meningkat. Tahun 2005 diketahui bahwa persentase balita yang bergizi baik/normal sebesar 68,48% (Depkes RI, 2007)

Gambaran pencapaian gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi antara tahun 2005 - 2009 sebagaimana digambarkan pada grafik di bawah ini :

Grafik Jumlah Balita Gizi Buruk Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005-2009

gizi

Grafik di atas menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terjadi kenaikan maupun penurunan jumlah balita gizi buruk. Bila dibandingkan dengan tahun 2005 maka jumlah penurunan sekitar 13,52%. Hal ini disebabkan semakin membaiknya keadaan ekonomi masyarakat, memberikan ASI yang cukup, memberikan makanan yang bergizi dan adanya program makanan tambahan bagi yang bergizi buruk atau kurang.

Jumlah balita gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi tahun 2009 sebanyak 275 balita, atau sekitar 0,31 % dari 122.793 balita yang ditimbang. Jika dibandingkan dengan tahun 2008, mengalami penurunan sebesar 84 balita gizi buruk atau 0,08 %. Sedangkan berdasarkan penimbangan balita yang dilakukan selama tahun 2009, ternyata terdapat balita BGM sebesar 1,76% (sebanyak 1.549 balita BGM dari 122.793 balita yang ditimbang) Sedangkan berdasarkan penimbangan balita yang dilakukan selama Tahun 2008, ternyata terdapat balita BGM sebesar 1,40% (sebanyak 1.276 balita BGM dari 91.205 balita yang ditimbang)

Dilihat dari indikator di atas, derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi telah mengalami kemajuan yang cukup bermakna. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat antara lain ditunjukkan dengan makin menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu, menurunnya prevalensi gizi kurang pada Balita, serta meningkatnya umur harapan hidup. Namum demikian disparitas derajat kesehatan antar wilayah dan antar kelompok tingkat sosial ekonomi penduduk masih tinggi. Derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi juga masih dibawah rata-rata kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur lainnya. Upaya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya telah terjangkau di daerah pelosok pedesaan, namun tantangan ke depan adalah meningkatkan pada pelayanan rujukan khususnya pada Kelas III di Rumah Sakit.

Sarana Kesehatan meliputi :

1. Puskesmas

Pada Tahun 2009 jumlah Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 45 buah. Dari jumlah tersebut 15 Puskesmas telah menjadi Puskesmas Perawatan (33,33%). Secara konseptual Puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan setiap puskesmas dapat melayani sasaran penduduk rata-rata 30.000 penduduk. Dengan jumlah puskesmas tersebut berarti satu puskesmas di Kabupaten Banyuwangi rata-rata melayani sebanyak 35.121 jiwa.

Jumlah Puskesmas Pembantu pada tahun 2009 105 buah, dengan rasio Puskesmas Pembantu terhadap Puskesmas rata-rata 2,33:1, artinya setiap Puskesmas didukung oleh 2 sampai 3 Puskesmas Pembantu. Selain itu dalam menjalankan tugas operasionalnya Puskesmas didukung oleh Puskesmas Keliling Roda 4 sebanyak 53 unit, Posyandu sebanyak 2.180 unit serta Polindes 212 unit.

2. Rumah Sakit

Jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebanyak 11 buah dengan rincian Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 buah, Rumah Sakit Umum Swasta 4 buah, Rumah Sakit Khusus 5 buah serta 1 (buah) Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik Ketergantungan Obat.

Adapun rasio Rumah Sakit terhadap penduduk 1 : 146.882 artinya 1 Rumah Sakit melayani penduduk 146.882 jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 jumlah seluruh Rumah Sakit Umum di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 6 buah dengan rincian Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 buah, Rumah Sakit Umum Swasta 4 buah, Rumah Sakit Khusus 4 buah, serta 1 (satu) unit Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik ketergantungan Obat.

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi, yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Berbagai indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemafaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).

Selama tahun 2009 pencapaian BOR (pemanfaatan tempat tidur) adalah sebesar 61,1 rata-rata lama hari perawatan (LOS) sebesar 3,6 rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI) sebesar 2,3 persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) sebesar 44 per 1.000 pasien keluar, serta persentase pasien keluar yang meninggal > 48 jam perawatan (NDR) sebesar 12,4 per 1.000 pasien keluar

3. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu dan Polindes.

Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyeleng-garakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 ada 2.180 unit dengan rincian dapat dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Jumlah Posyandu menurut Strata

saran kesehatan

Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana. Jumlah Polindes untuk Tahun 2009 sebanyak 212 unit.

Poskesdes merupakan suatu tempat yang dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Selain digunakan untuk pelayanan kesehatan, juga dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat dalam mendukung program kesehatan. Dari 217 desa dan kelurahan di

Kabupaten Banyuwangi semua telah ada poskesdesnya walaupun tidak semua mempunyai bangunan sendiri karena masih ada yang penempatannya bersama di gedung balai desa.

Tenaga Kesehatan :

Jumlah dan jenis sumber daya manusia kesehatan di Kabupaten Banyuwangi sebesar 1.693 orang, yang tersebar di Puskesmas 860 orang, Dinas Kesehatan 30 orang, Rumah Sakit 793 orang, serta sarana kesehatan lain 10 orang. Persebaran dan jumlah SDM kesehatan di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik Persebaran SDM Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

SDF

Adapun jumlah SDM kesehatan dibedakan menurut 9 kelompok yaitu : medis sebanyak 196 orang, keperawatan (perawat dan bidang) medis sebanyak 731 orang, kebidanan 533 orang, farmasi sejumlah 82, gizi 40 orang, teknisi medis sebanyak 61 orang, sanitasi sebanyak 22 orang dan kesehatan masyarakat sebanyak 19 orang.

Jumlah, persentase dan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk menurut jenisnya disajikan pada tabel berikut :

Tabel Jumlah Persentase dan Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap Penduduk

No
Jenis Tenaga
Jumlah
%
Rasio Per
100.000 penduduk
1
Medis
196
11,66
12,13
2
Perawat
731
43,00
45,24
3
Bidan
533
31,72
32,99
4
Farmasi
82
4,88
5,08
5
Gizi
40
2,00
2,48
6
Teknisi Medis
61
3,39
3,78
7
Sanitasi
22
1,30
1,36
8
Kesehatan Masyarakat
19
1,13
1,18
Jumlah
1.684
100,00
104,24

Ruang dilihat sebagai wadah interaksi sosial, ekonomi, budaya antara manusia lainnya dan ekosistem serta sumberdaya buatan. Sudut pandangan yang demikian merupakan arah dan kebijakan dari pembangunan di bidang penataan ruang sehingga terjadi harmonisasi diantaranya guna optimalisasi penataan dan pemanfaata ruang.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada intinya adalah rencana pemanfaatan ruang yang disusun untuk menjaga keserasian pembangunan wilayah dan sektor dalam rangka pelaksanaan program-program pemba-ngunan yang ada di wilayah. Sebagai suatu rencana, RTRW tidak hanya menggambarkan tata letak dan keterkaitan hirarki ruang, baik antara kegiatan maupun antar pusat kegiatan, akan tetapi kualitas komponen-komponen yang menjadi penyusunan ruang.

Pada dasarnya Urusan tata ruang diarahkan pada revitalisasi penataan ruang dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang daerah yang optimal dan berkelanjutan.

Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Sumber : UU No. 26 Tahun 2007 pasal 35 :( Pengendalian Pemanfaatan Ruang dilakukan melalui penetapan Peraturan Zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi )

 

 

Tujuan Pengembangan Wilayah di Kabupaten Banyuwangi :

  1. Terwujudnya harmonisasi pengelolaan kawasan lindung dan mitigasi daerah rawan bencana dalam rangka pengembangan wilayah Kabupaten Banyuwangi;
  2. Tersedianya infrastruktur sehingga dapat mengurangi ketimpangan wilayah dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi;
  3. Berkembangnya sentra ekonomi unggulan Kabupaten Banyuwangi yang berbasiskan pada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan pariwisata.
  4. Berkembangnya pendidikan yang berbasis sumberdaya daerah dalam rangka mendukung pengembangan wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Rencana Sistem Pusat-Pusat Pengembangan Wilayah di Kabupaten Banyuwangi :

- Hierarki tingkat kekotann di Kabupaten Banyuwangi:
  • Pusat Kegiatan Wilayah : Kota Banyuwangi
  • Pusat Kegiatan Lokal : Kota Genteng, Rogojampi, Muncar
  • Pusat Kegiatan Promosi Lokal : Kota Kalipuro, Wongsorejo, Bangorejo.
  • Pusat Pelayanan Kawasan : Kota Kalibaru, Singojuruh, Srono, Pesanggaran, Purwoharjo, Tegaldlimo, Cluring, Glenmore, Kabat, Sempu, Songgon, Glagah, Wongsorejo, Giri, Tegalsari, Licin, Siliragung

- SWP Banyuwangi:

1. Kota Banyuwangi :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi kabupaten Banyuwangi Bagian Utara yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi.

2. Kota Rogojampi :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi kabupaten Bagian Tengah Timur yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pengembangan bandar udara Blimbingsari dan Fishery Town bagi Kabupaten Banyuwangi.

3. Kota Genteng :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi Bagian Tengah Barat yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pertumbuhan terbesar ke - 2 di Kabupaten Banyuwangi.

4. Kota Bangorejo :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi Bagian Selatan yang sekaligus berfungsi sebagai Agropolitan.

 Download

Urusan Pekerjaan Umum yang meliputi bidang kebinamargaan yang meliputi antara lain infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan ikutannya ;   bidang pengairan yang meliputi infrastruktur antara lain bendungan, waduk dan saluran pembawa serta tangkis sungai dan pantai merupakan salah satu pemicu dalam pembangunan suatu wilayah dan sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penyediaan infrastruktur yang memadai akan memberikan percepatan pergerakan arus barang dan jasa di wilayah sehingga aktivitas ekonomi juga akan semakin tinggi. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang dan jasa maupun penumpang.

Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan irigasi merupakan salah satu aspek terpenting  untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Ketersediaan infrastruktur sebagaimana dimaksud diatas akan menunjang pengembangan wilayah seperti kawasan timur Kabupaten Banyuwangi yang secara bertahap disediakan prasarana jalan yang memadai sehingga mampu membedah potensi ekonomi, yang nantinya diharapkan sebagai jalur alternatif distribusi barang, jasa dan penumpang menuju kawasan produksi dan distribusi / pelabuhan.

Berdasarkan hasil catatan Balai Pemeliharaan Jalan DPU Bina Marga Propinsi Jawa Timur dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2006-2007 tidak ada peningkatan panjang jalan yang beraspal, yaitu sebesar 100,53 km jalan negara dan 114,35 km jalan propinsi.

Namun demikian terdapat peningkatan kondisi jalan negara dari panjang jalan dalam kondisi baik sebesar 45,98 km menjadi 46,98 km. Untuk jalan kabupaten, pada tahun 2006, kondisi jalan dari seluruh ruas jalan mengalami peningkatan dari 1.096,8 km dalam kondisi baik, sedangkan kondisi jalan kabupaten yang rusak ringan menurun dari 314 km pada tahun 2006 menjadi 137 km pada tahun 2008.

Kebijakan umum pembangunan urusan pekerjaan umum diarahkan pada peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan, sumber daya air dan irigasi yang meliputi antara lain : pembangunan sarana dan prasarana wilayah yang mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan sarana dan prasarana penunjang sektor unggulan pertanian dan pariwisata, peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan dan pembangunan infrastruktur sumberdaya air dan irigasi yang mendorong peningkatan produksi pertanian.


Keputusan Menteri Pekerjaan Umum    Nomor 631/KPTS/M/2009
Tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya sebagai Jalan Nasional di Kabupaten Banyuwangi

Nomor Ruas
Nama Ruas
Panjang Ruas
Lama
Baru
131.2
074
Bts Kab Jember-Genteng Kulon 
31.345
132 
075
Genteng kulon-Jajag-Benculuk 
15.960
133 
076
Benculuk-Rogojampi
17.130
134
077
Rogojampi-Bts Kota Banyuwangi
7.492
134.14.K 
077.11.K
Jl.S.Parman
1.510
134.13.K 
077.12.K
Jl. Adi Sucipto
1.400
134.12.K 
077.13.K
Jl. A. Yani
1.200
134.11.K 
077.14.K
Jl. PB Sudirman
1.520
025.13.K 
078.11.K
Jl. Basuki Rahmad
1.491
025.12.K 
078.12.K
Jl. Yos Sudarso
2.824
025.11.K 
078.13.K
Jl. Gatot Subroto
3.395

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 630/KPTS/M/2009
Tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Dalam Jaringan Jalan Primer
Menurut Fungsinya sebagai Jalan Arteri dan Jalan Kolektor 1 di Kabupaten Banyuwangi

Nomor Ruas
Baru
Nama Ruas
Panjang Ruas
Ket
024.1
025
Bts Kab Situbondo- Bajulmati
57.010
Arteri
131.2
074
Bts.Kab.Jember-Genteng kulon
31.345
Kolektor 1
132
075
Genteng Kulon-Jajag- Benculuk
15.960
Kolektor 1
133
076
Benculuk-Rogojampi
17.130
Kolektor 1
134
077
Rogojampi-Bts.Kota Banyuwangi
7.492
Kolektor 1
134.14.K
077.11.K
Jl. S. Parman
1.510
Kolektor 1
134.13.K
077.12.K
Jl. Adi Sucipto
1.400
Kolektor 1
134.12.K
077.13.K
Jl. A. Yani
1.200
Kolektor 1
134.11.K
077.14.K
Jl. PB. Sudirman
1.520
Kolektor 1
025.13.K
078.11.K
Jl. Basuki Rahmad
1.491
Arteri
025.12.K
078.12.K
Jl. Yos Sudarso
2.824
Arteri
025.11.K
078.13.K
Jl. Gatot Subroto
3.395
Arteri

Keputusan Gubernur tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan
Dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Fungsinya

Nomor Ruas
Nama Ruas
Panjang Ruas
Ket
Lama
Baru
132 241 Genteng kulon- Wonorekso 14.880 Kolektor 2
133 242 Wonorekso-Rogojampi 4.690 Kolektor 2
135 243 Genteng-Temuguruh 9.870 Kolektor 3
136 244 Temuguruh-Wonorekso 5.720 Kolektor 3
138.1 245 Benculuk-Glagah Agung 9.620 Kolektor 3
138.2 246 Glagah Agung-Grajagan 9.700 Kolektor 3
161 247 Jajag-Bangorejo-Pesanggaran 21.930 Kolektor 3
164 249 Glagah Agung-Tegal Dlimo 13.000 Kolektor 3

Perkembangan Panjang Jalan Negara, Propinsi Menurut Jenis Permukaan, Kondisi dan Kelas Jalan Tahun 2008 – 2009

No
Keadaan
2008
2009
Negara
Prop
Negara
Prop
I Jenis Permukaan        
  - Aspal 100.530 114.350 100.530 114.350
  - Kerikil - - - -
  - Tanah - - - -
  - Lainnya - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350
II Kondisi Jalan        
  - Baik 46.980 48.245 39.395 48.880
  - Sedang 53.550 61.905 59.235 59.220
  - Rsk Rgn - 4.200 2.900 6.250
  - Rsk Brt - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350
III Kelas Jalan        
  - Kelas I - - - -
  - Kelas II 34.400 - 34.400 -
  - Kelas III - - - -
  - Kelas IIIA 66.130 - 66.130 -
  - Kelas IIIB - 17.130 - 17.130
  - Kelas IIIC - 97.220 - 97.220
  - Kelas IV - - - -
  - Kelas V - - - -
  - Lainnya - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Propinsi Jawa Timur UPT Banyuwangi

Urusan Perhubungan di Kabupaten Banyuwangi dapat dikategorikan relatif maju sejak empat tahun terakhir ini. Meski tergolong kota sedang, Banyuwangi berfasilitas cukup memadai dalam urusan perhubungan, misalkan saja jenis angkutan dalam kotanya, ada taxi beragometer, angkutan kota yang    sering disebut lin, serta jenis angkutan tradisional lainnya.


Jumlah Kendaraan Menurut Jenisnya 2007-2009

Jenis
2007
2008
2009
Bus Umum
353
91
342
Bus Bkn Umum
26
36
41
Mobil Box
181
382
424
Mobil Penumpang Umum
509
581
268
Truck Umum
1.714
2.112
2.18
Truck Bkn Umum
1.575
1.752
2.038
Truck Gandeng
270
243
246
Kontainer
39
39
47
Pick Up
4.964
4.798
4.568
Jenis
2007
2008
2009
Sepeda Motor
271.391
307.592
374.446
Jeep
1.62
1.693
1.756
Sedan
2.335
2.451
2.57
Colt Station
10.955
11.629
12.449
Truck
5.491
5.699
6.025
Colt Pick Up
7.360
7.529
7.863
Bus
170
183
204
Ambulance
49
56
59
Dokar
1.240
1.240
1.240
Becak
1.477
1.477
1.477


Copyright © 2017 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

Jalan Ahmad Yani 100 Telp. 0333 425001

Website : www.banyuwangikab.go.id