Pendidikan

Misi pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD salah satunya “Mewujudkan Aksesibilitas dan Kualitas Pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan Kebutuhan lainnya.” tolak ukur keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator tersebut antara lain Angka Partisipasi Kasar, Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Putus Sekolah (APS). Capaian indikator pendidikan Kabupaten Banyuwangi tahun 2016 dapat di lihat dalam tabel berikut.

Tabel Capaian Indikator Bidang Pendidikan Tahun 2016

No

Indikator

Target

Capaian

1

APK TK/RA/TK-LB

79,43

95,56

2

APK SD/SD-LB/MI/Paket A

105

103,63

3

APM SD/MI/Paket A

99,94

99,95

4

APK SMP/SMP-LB/MTs/Paket B

101,17

105,68

5

APM SMP/MTs/Paket B

88,8

92,47

6

Angka Melajutkan SD/MI ke SMP/MTs

101,81

106,14

7

APK SMA/MA/SMK/Paket C

84,32

88,87

8

APM SMA/SMA-LB/MA/SMK/Paket C

69,5

75,92

9

Angka Melanjutkan SMP/MTs keSMA/SMK/MA/SMA-LB

98,99

102,42

10

Angka Melek Huruf (usia 15-59 tahun)

99,2

99,33

11

Angka Rata-Rata Lama Sekolah

7,11

6,87

12

Angka Kelulusan SD/MI

100

100

13

Angka Kelulusan SMP/MTs

100

100

14

Angka Kelulusan SMA/SMK/MA

100

100

Sumber : LKPJ Kabupaten Banyuwangi 2016

Kinerja urusan pendidikan di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan 14 indikator sebagian besar menunjukan kinerja yang sangat baik yaitu terlihat prosentase pencapaian sebesar 100% bahkan beberapa indikator menunjukkan capaian 100% lebih, hal tersebut menandakan bahwa kesadaran masyarakat Banyuwangi terhadap dunia pedidikan tinggi serta komitmen pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus melakukan berbagai pembenahan di antaranya perbaikan kualitas pengajar, penambahan tenaga guru, perbaikan fasilitas penunjang pengajaran seperti penambahan ruang kelas dan perbaikan ruag kelas baik yang rusak berat maupun rusak sedang serta pembenahan yang lainnya. Angka pencapaian tertinggi adalah untuk APK TK/RA/TK-LB yang mencapai 120% hal tersebut mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan di usia dini semakin meningkat.

Realisasi Indikator UrusanPendidikan Kabupaten BanyuwangiTahun 2011-2015

 

No

 

Uaraian

TAHUN

2011

2012

2013

2014

2015

1

APK (%)

 

 

 

 

 

 

- SD/MI/Paket A

106,68

102,91

104,93

109,02

103,60

 

- SMP/MTs/ Paket B

97,27

101,44

103,26

100,67

101,14

 

-SMA/SMK/MA/ Paket C

59.25

76,68

76,71

76,75

83,32

2

APM (%)

 

 

 

 

 

 

- SD/MI

98,47

98,10

98,41

99,91

99,93

 

- SMP/MTs

80,45

84,32

88,64

88,67

88,76

 

- SMA/SMK/MA

44,89

57,02

60,81

68,84

68,90

3

Angka Putus Sekolah (%)

 

 

 

 

 

 

- SD/MI

0,04

0,04

0,04

0,03

0.03

 

- SMP/MTs

0,48

0,44

0,42

0,39

0.33

 

- SMA/SMK/MA

1,01

0,94

0,83

0,84

0.39

4

Angka Melek Huruf (%)

87,36

88,08

88,44

97.09

97,1

Sumber : RPJMD Kabupate Banyuwangi 2016

Pada Urusan Pendidikan, terdapatbeberapa indikator meliputi AngkaPartisipasi kasar (APK), Angka PartisipasMurni (APM), Angka Putus Sekolah (APS)dan Angka Melek Huruf (AMH). Dari Tabel diatas, nilai APK bisa lebih dari 100%.Hal ini disebabkan karena jumlahmurid yang bersekolah pada jenjangpendidikan tertentu mencakup anakberusia di luar batas usia sekolah padajenjang pendidikan yang bersangkutan.Sebagai contoh, banyak anak-anak usiadiatas 15 tahun, tetapi masih sekolah ditingkat SMP atau juga banyak anak-anakyang belum berusia 12 tahun tetapi telahmasuk SMP. Adapun capaian kinerjaindikator AngkaPartisipasi Kasar (APK) Tahun 2011-2015pada jenjang pendidikan SD/MI capaianAPK pada tahun 2011-2015 mengalamikondisi yang fluktuatif, dimana pada tahun2011 mencapai 106,68%, menurunmenjadi 102,91% di tahun 2012,meningkat menjadi 104,93% di tahun2013, meningkat kembali menjadi 109,02%di tahun 2014 dan mengalami penurunanmenjadi 103,6% di tahun 2015. Padajenjang pendidikan SMP/MTs capaian APKpada tahun 2011-2015 juga mengalamikondisi yang fluktuatif, dimana pada tahun2011 mencapai 97,27%, meningkatmenjadi 101,44% di tahun 2012, kembalimengalami peningkatan menjadi 103,26%di tahun 2013, kemudian menurunmenjadi 100,67% di tahun 2014 danmengalami peningkatan menjadi 101,14%di tahun 2015. Sedangkan pada jenjangpendidikan SMA/SMK/MA capaian APKpada tahun 2011-2015 mengalamipeningkatan pada setiap tahunnya, dimanapada tahun 2011 mencapai 59,25%,meningkat menjadi 76,68% di tahun 2012,meningkat menjadi 76,71% di tahun 2013,meningkat kembali menjadi 76,75% ditahun 2014 dan kembali mengalamipeningkatan menjadi 83,32% di tahun2015.

Capaian kinerja indikator APM pada tahun 2011-2015 pada jenjang pendidikan SD/MImengalami kondisi yang fluktuatif, dimanapada tahun 2011 mencapai 98,47%,menurun menjadi 98,1% di tahun 2012,meningkat menjadi 98,41% di tahun 2013,meningkat kembali menjadi 99,91% ditahun 2014 dan mengalami peningkatankembali menjadi 99,93% di tahun 2015.Pada jenjang pendidikan SMP/MTs capaianAPM pada tahun 2011-2015 mengalamipeningkatan di setiap tahunnya, dimanapada tahun 2011 mencapai 80,45%,meningkat menjadi 84,32% di tahun 2012,kembali mengalami peningkatan menjadi88,64% di tahun 2013, kemudianmeningkat menjadi 88,67% di tahun 2014dan mengalami peningkatan menjadi88,76% di tahun 2015. Sedangkan padajenjang pendidikan SMA/SMK/MA capaianAPM pada tahun 2011-2015 mengalamipeningkatan pada setiap tahunnya, dimanapada tahun 2011 mencapai 44,89%,meningkat menjadi 57,02% di tahun 2012,meningkat menjadi 60,81% di tahun 2013,meningkat menjadi 68,84% di tahun 2014dan kembali mengalami peningkatanmenjadi 68,9% di tahun 2015.

Realisasi capaian indikator AngkaPutus Sekolah (APS) pada jenjangpendidikan SD/MI dan SMP/MTsmenunjukkan tren positif, yakni selalumengalami penurunan di setiap tahunnya.Pada jenjang pendidikan SD/MI realisasicapaian indikator angka putus sekolah ditahun 2011 hingga tahun 2013 sebesar0,04%, mengalami penurunan di tahun2014 yakni 0,03% dan stagnan pada tahun2015 pada prosentase 0.03%. Pada jenjangpendidikan SMP/MTs realisasi capaianindikator angka putus sekolah di tahun2011 sebesar 0,48%, mengalamipenurunan di tahun 2012 menjadi 0,44%,tahun 2013 menjadi 0,42 % dan ditahun2014 menjadi 0,39% dan 0.33% padatahun 2015.Sedangkan angka putus sekolahpada jenjang pendidikan SMA/SMK/MAmenunjukkan realisasi capaian yangfluktuatif, namun cenderung mengalamipenurunan, pada tahun 2011 prosentaseAPS sebesar 1.,01%, turun menjadi 0.94 ditahun 2012, kemudian turun lagi di tahun2013 menjadi 0.83%, namun APS kembalinaik menjadi 0.84% pada tahun 2014 dankembali turun cukup signifikan menjadi0,39% pada tahun 2015. Pada paparancapaian APS tersebut telahmenggambarkan upaya PemerintahDaerah Kabupaten Banyuwangi dalammenekan jumlah anak yang putus sekolahhingga dibawah 1% sebagai wujud daritanggung jawab terhadap hak masyarakatuntuk mendapatkan pendidikan dasar yanglayak.Sedangkan Realisasi angka melekhuruf tahun 2011-2014 perkembangannyacukup bervariatif, tahun 2011 sebesar87,36%, tahun 2012 meningkat menjadi88,08%, tahun 2013 menurun menjadi88,04%, angka melek huruf kembalimenurun pada tahun 2014 menjadi97,09% dan tahun 2015 kembalimeningkat menjadi 97,1%.

Tabel Realisasi Indikator Bidang Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011-2015

BIDANG URUSAN/ INDIKATOR

2011

2012

2013

2014

2015

Angka rata-rata lama sekolah

6,38

7,25

7,25

7,12

 

Sekolah Dasar (SD/MI)

 

 

 

 

 

Angka partisipasi sekolah

102,65

101,59

102,87

100,37

100,45

Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah

97,16

101,51

101,72

100,97

100,40

Rasio guru/murid

16,96

16,42

15,95

15,85

15,62

Rasio guru/murid per kelas rata-rata

24,08

18,92

19,15

14,88

18,,31

Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs)

 

 

 

 

 

Angka partisipasi sekolah

99,48

95,83

98,82

99,59

99,84

Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah

91,98

96,58

102,73

114,,73

118,68

Rasio guru terhadap murid

16,98

17,02

16,60

16,30

16,14

Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata

4,08

25,68

24,54

2,60

21,61

Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA)

 

 

 

 

 

Angka partisipasi sekolah

50,75

68,59

74,19

76,29

74,84

Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah

59,52

65,60

67,09

80,40

74,68

Rasio guru terhadap murid

14,74

13,74

4,77

13,93

13,37

Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata

37,05

24,86

26,02

24,23

23,59

Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara)

87,36

88.08

88.44

97.09

97,10

Fasilitas Pendidikan (Dalam%)

 

 

 

 

 

Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik

87,04%

87,25%

88,04%

90,72%

92,20%

Sekolah pendidikan SMP/MTs kondisi bangunan baik

84,88%

94,38%

88,25%

96,94%

97,01%

Sekolah pendidikan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik

96,8%

98,06%

98,18%

99,32%

97,31%

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

 

 

 

 

 

APK Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

75,44%

78%

75,65%

76,93%

78,18%

Angka Kelulusan

 

 

 

 

 

Angka Kelulusan (AL) SD/MI

99,80%

99,76%

99,92%

100%

100%

Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs

99,69%

99,85%

99,94%

99,98%

100%

Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA

97,12%

99,31%

99,99%

99,98%

100%

Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs

99,98%

101,69%

100,40%

100,19%

101,76%

Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA

88,39%

89,93%

98,96%

98,88%

99,81%

Rasio Lembaga SD, SMP, SMA Berakreditasi A

15:85%

17:83%

18:83%

20:80%

18:82%

Persentase Paket Keahlian SMK Berakreditasi A

37,32%

48,39%

48,39%

48,39%

49%

Lembaga Pendidikan Non Formal Berakreditasi (%)

3,38%

4,23%

5,08%

5,93%

9,32%

Sumber :RPJMD Kabupaten Banyuwangi 2016

Penyelenggaraan urusan pendidikandapat dibagi menjadi beberapa aspektujuan diadakannya indikator kinerjaurusan.Diantaranya adalah indikator yangdigunakan untuk melihat tingkatanpartisipasi pendidikan, melihat sejauhmana tingkat buta huruf masyarakat,melihat ketersediaan dan pemerataantenaga pendidik dan melihat ketersediaansarana prasarana penunjang pendidikan.Rata-rata lama sekolah (RLS) adalah rata-ratajumlah tahun yang dihabiskan olehpenduduk berusia 25 tahun ke atas,dengan asumsi usia penduduk 25 tahunsudah menyelesaikan semua pendidikanformal. Capaian Rata-rata lama sekolah(RLS) Kabupaten Banyuwangi tahun 2011pada angka 6,53 tahun, tahun 2012 padaangka 6,68 dan 2013 sebesar 6,84 tahun,dan tahun 2014 selama 6,87 tahun.Angka Partisipasi Sekolah merupakanukuran daya serap lembaga pendidikanterhadap penduduk usia sekolah. Realisasipencapaian indikator mengalamipeningkatan dari tahun 2011 sampaidengan 2014 di berbagai jenjang.

Angkapartisipasi sekolah untuk SD/MI telahmencapai target yang ditentukan darisetiap tahunnya, tahun 2011 capaiansebesar 102,65%, mengalami penurunanpada tahun 2012 sebesar 101,59%,mengalami peningkatan pada tahun 2013menjadi 103,87%, mengalami penurunanpada tahun 2014 menjadi 100,37% danpada tahun 2015 meningkat menjadi100,45%.Indikator angka partisipasi sekolah(SMP/MTs) pada tahun 2011 adalah99,48%, tahun 2012 menurun menjadi95,83%, tahun 2013 meingkat menjadi98,82%, tahun 2014 meningkat menjadi99,59%, dan tahun 2015 meningkatmenjadi 99,84%. Indikator ini telahmencapai target yang telahditentukankarena meningkatnya kesadaranmasyarakat terhadap pentingnyapendidikan untuk jenjang SMP/MTs.Pada tingkatan SMA/SMK dan MA,realisasi indikator angka partisipasi sekolahtahun 2011 sebesar 50,75%, tahun 2012sebesar 68,59%, pada tahun 2013mengalami peningkatan menjadi 74,19%,pada tahun 2014 capaian pada angka76,29% dan tahun 2015 menjadi 74,84%Indikator rasio ketersediaansekolah untuk SD/MI terhadap pendudukusia sekolah pada tahun 2011 sebesar113,17%, tahun 2012 sebesar 101,51%,tahun 2013 sebesar 101,72%, tahun 2014sebesar 100,97% dan tahun 2015 menjadi100,40%.Untuk SMP/MTs rasio ketersediaansekolah terhadap penduduk usia sekolahtahun 2011 sebesar 91,98%, tahun 2012sebesar 96,58%, tahun 2013 sebesar101,73%, tahun 2014 sebesar 114,73% dantahun 2015 menjadi 118,68%.Untuk SMA/SMK/MA rasioketersediaan sekolah terhadap pendudukusia sekolah tahun 2011 sebesar 59,52%,tahun 2012 sebesar 65,60%, tahun 2013sebesar 67,09%, tahun 2014 sebesar80,40% dan tahun 2015 menjadi 74,68%.

Selanjutnya adalah indikator dalamurusan pendidikan meliputi rasioguru/murid pada tingkat SD/MI,SMP/MTsdan SMA/MA, rasio guru/murid perkelasrata-rata pada tingkat SD/MI, SMP/MTsdan SMA/MA. Untuk SD/MI rasio guruterhadap murid tahun 2011 sebesar16,96%, tahun 2012 sebesar 16,23%,tahun 2013 sebesar 15,95%, tahun 2014sebesar 15,83% dan tahun 2015 15,62%.Sedangkan untuk rasio guru terhadapmurid per kelas rata-rata untuk jenjangSD/MI tahun 2011 sebesar 24,08%, tahun2012 sebesar 18,92%, tahun 2013 sebesar19,15%, tahun 2014 sebesar 14,88%.Untuk SMP/MTs rasio guru terhadap muridtahun 2011 sebesar 16,98%, tahun 2012sebesar 17,02%, tahun 2013 sebesar16,60%, dan tahun 2014 sebesar 14,88%dan tahun 2015 sebesar 18,31%.Sedangkan untuk rasio guruterhadap murid per kelas rata-rata untukjenjang SMP/MTs tahun 2011 sebesar24,28%, tahun 2012 sebesar 25,68%,tahun 2013 sebesar 24,54% dan tahun2014 sebesar 22,60% dan tahun 2015sebesar 21,61%.Rasio guru terhadap muridSMA/SMK/MA tahun 2011 sebesar14,74%, tahun 2012 sebesar 13,74%,tahun 2013 sebesar 14,77%, dan tahun2014 sebesar 13,93% dan tahun 2015sebesar 13,37%. Sedangkan untuk rasioguru terhadap murid per kelas rata-ratauntuk jenjang SMA/SMK/MA tahun 2011sebesar 37,05%, tahun 2012 sebesar24,862%, tahun 2013 sebesar 26,02%, dantahun 2014 sebesar 24,23% dan tahun2015 sebesar 23,59%. UNESCO pada tahun2014 menetapkan perbandingan rasio guruterhadap siswa 26:1 untuk negara-negaraAsia, dan 24:1 untuk negara-negara yangberpenghasilan menengah.Realisasi penduduk yang berusia>15 tahun melek huruf (tidak buta aksara)tahun 2011-2014 di KabupatenBanyuwangi perkebangannya cukupbervariatif dari tahun ke tahun, tahun 2011sebesar 87,36%, capaian tahun 2012meningkat menjadi 88,08%, tahun 2013sebesar 88,44%, namun kondisi ini mulaimembaik di tahun 2014 capaian kinerjameningkat signifikan menjadi 97,09% dantahun 2015 sebesar 97,10%. Hal inidikarenakan adanya gerakanpemberantasan Tributa/ Gempita yangmelibatkan seluruh Elemen Masyarakattermasuk Pelibatan guru bersertifikasiuntuk menjadi tutor bagi warga belajar.

Fasilitas pendidikan juga menjadiindikator dalam urusan pendidikan.Fasilitas pendidikan ini dapat dilihat darikondisi bangunan sekolah yang baik.Meningkatnya capaian kondisi bangunanbaik pada setiap jenjang pendidikantentunya tidak terlepas dari upayarehabilitasi bangunan yang dilakukan padasetiap tahunnya.Realisasi indikator pendidikan anakusia dini (PAUD) mengalami capaian yangfluktuatif. Capaian target tersebuttentunya tidak terlepas dari semakintingginya kesadaran orang tua untukmenyekolahkan anaknya terutamapendidikan untuk anak usia dini. Angkakelulusan adalah perbandingan antarajumlah siswa yanglulus dengan siswa padajenjang (kelas/tingkat) terakhir. Kelulusanterkait dengan erat dengan mutu prosespembelajaran. Siswa dapat lulus jika prosespembelajaran bermutu sehingga dayaserap mereka bagus sehingga lulus ujianakhir. Dalam 5 tahun terakhir AngkaKelulusan siswa di Kabupaten Banyuwangitelah menunjukkan tren perkembanganyang positif, dengan adanya kenaikandisetiap tahunnya.Tingginya AngkaKelulusan dipengaruhi oleh beberapafaktor diantaranya pemberian pelayananyang baik, motivasi yang tinggi, sertasemangat tinggi para guru untukmengantarkan anak didiknya dengan baik.Pemerintah memiliki kewajibandalam memastikan masyarakat usiasekolah mengenyam pendidikan disetiapjenjang, transisi antar jenjang sangatrawan meningkatkan angka putus sekolah.Oleh sebab itu indikator melanjutkansangat penting guna memastikanmasyarakat usia sekolah melanjutkanpendidikan hingga pada jenjang tertinggi.Peningkatan kinerja Angka Melanjutkan(AM) di Kabupaten Banyuwangi setiaptahun, tidak terlepas dari adanya programBantuan Oprasional Sekolah (BOS) olehpemerintah.

Capaian kinerja indikator rasiolembaga SD, SMP, SMA berakreditasi A diKabupaten Banyuwangi pada tahun 2011-2015 mengalami kondisiyang fluktuatif.Capaian kinerja indikator rasio lembaga SD,SMP, SMA berakreditasi A di KabupatenBanyuwangi tentunya juga dipengaruhioleh tenaga pendidik dan pengajar yangprofessional, capaian lulusan setiap tahunserta fasilitas yang disediakan di sekolah.Capaian kinerja indikator persentase paketkeahlian SMK berakreditasi A pada tahun2011 mencapai 37,32%. Kemudianmengalami peningkatan di tahun 2012mencapai 48,39%, capaian tersebutstagnan hingga tahun 2014 dan kembalimengalami peningkatan capaian di tahun2015 yakni mencapai 49%.Capaian kinerja indikator lembagapendidikan non formal berakreditasi diKabupaten Banyuwangi dalam kurun waktulimatahun terakhir, yakni tahun 2011sampai tahun 2015 selalu mengalamipeningkatan. Pada tahun 2011 capaianindikator ini sebesar 3,38%, meningkat ditahun 2012 menjadi 4,23%, meningkat ditahun 2013 menjadi 5,08%, meningkat ditahun 2014 menjadi 5,93% dan kembalimengalami peningkatan di tahun 2015menjadi 9,32%.Setelahberakhirnya era MilleniumDevelopment Goals (MDG’s), duniadihadapkan pada era pembangunan baruyaitu Sustainable Development Goals(SDG’s).Pembangunan denganmemperhatikan isu keseimbanganlingkungan, saat ini menjadi titik fokusdalam pembangunan global.Dimana saatkualitas lingkungan hidup menjadi bagianyang tak terpisahkan dalam programprogramperencanaan pembangunan.Secara sederhana kualitas lingkunganhidup diartikan sebagai keadaanlingkungan yang dapat memberikan dayadukung optimal bagi kelangsungan hidupmanusia pada suatu wilayah.

Derajat Kesehatan Masyarakat Banyuwangi:


Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.

Mortalitas dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Ibu melahirkan per 1.000 kelahiran hidup.

a. Angka Kematian Bayi

Irfant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu, program- program kesehatan di Indonesia banyak yang menitik beratkan pada upaya penurunan AKB. AKB merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1.000 kelahiran hidup.

Berdasarkan hasil dari kompilasi data pencatatan dan pelaporan di Dinas Kesehatan khusus dari LB3 KIA selama tahun 2009 terdapat jumlah kematian bayi sebesar 104 yang dilaporkan dari 23.702 kelahiran hidup (4,4 per 1.000 kelahiran hidup). Kasus tertinggi terjadi pada Kecamatan Licin (15,3 per 1.000 kelahiran hidup). Sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Kabat dan Kalibaru Kulon, yang tidak terdapat kematian bayi pada tahun 2009.

Antara Tahun 2005-2009, di Kabupaten Banyuwangi terjadi penurunan angka kematian bayi, sebagaimana pada grafik di bawah ini :

Angka Kematian Bayi (Dilaporkan) Kabupaten Banyuwangi

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa antara tahun 2005 - 2009 terjadi penurunan Angka Kematian Bayi. Kecenderungan penurunan AKB dapat dipengaruhi oleh pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya.

Pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berperan melalui perbaikan gizi yang pada gilirannya mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (AKABA) menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.

Berdasarkan hasil dari kompilasi data pencatatan dan pelaporan di Dinas Kesehatan dan KB khusus dari LB3 KIA selama Tahun 2009 terdapat jumlah kematian balita sebesar 10 yang dilaporkan dari 23.702 kelahiran hidup (0,4 per 1.000 kelahiran hidup).

Secara ideal angka kematian tersebut harus mencakup seluruh pelayanan kesehatan swasta (BP, BKIA, RS Swasta) dan Pemerintah. Namun sampai saat ini laporan dari pihak swasta belum optimal.


Jumlah Kelahiran dan Kematian Bayi dan Balita Menurut Kecamatan Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan
Jumlah
%
Lahir Mati
Jumlah
Kematian Bayi
Jumlah
Kematian Balita
Lahir Hudup
Lahir Mati
Lahir Hidup
+
Lahir Mati
Wongsorejo
1.116
11
1.12
1,00
7
1
Kalipuro
984
16
969
1,25
10
0
Giri
415
3
384
0,40
1
1
Glagah
472
4
474
0,40
3
0
Licin
392
6
331
0,90
6
0
Banyuwangi
1.617
12
1.542
1,20
8
2
Kabat
1.09
10
1.184
8,50
0
0
Rogojampi
1.492
6
1.519
0,40
9
1
Singojuruh
794
5
810
0,30
6
0
Songgon
843
3
833
0,20
1
1
Srono
1.085
1
1.09
0,15
5
0
Muncar
1.956
3
1.997
0,30
7
0
Tegaldlimo
1.037
1
1.093
0,10
2
0
Purwoharjo
1.053
0
1.132
0
2
0
Cluring
1.046
1
1.007
0,10
1
0
Gambiran
979
2
1.047
0,20
3
0
Tegalsari
786
2
807
0,10
2
0
Genteng
1.096
1
1.09
0,10
9
1
Sempu
1.176
6
1.214
1,25
10
1
Glenmore
839
15
961
1,45
3
0
Kalibaru
1.046
5
1.002
0,25
0
1
Bangorejo
1.014
6
1.037
0,55
5
0
Pesanggaran
674
3
594
0,50
3
1
Siliragung
720
4
613
0,35
1
0
Jumlah
23.702
126
23.828
0,26
104
10
Angka Kematian (Dilaporkan)
4.388
0,4

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

Keterangan :

Angka Kematian (dilaporkan) tersebut belum bisa menggambarkan AKB/KABA yang sebenarnya di populasi


c. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu Maternal bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan kehamilan, persalinan dan nifas. (Depkes RI, 2009)

Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

Kasus kematian ibu yang meninggal pada saat hamil, bersalin dan nifas yang dilaporkan di Kabupaten Banyuwangi terdapat sebanyak 23 kasus dari sebanyak 23.702 kelahiran hidup (97,04).

Jumlah Kematian Ibu Maternal Menurut Kecamatan Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan
Jumlah Lahir Hidup
Jumlah
Kematian Ibu Hamil
Kematian Ibu Bersalin
Kematian Ibu Nifas
Jumlah
Wongsorejo
1.116
0
1
0
1
Kalipuro
984
0
0
3
3
Giri
415
0
0
1
1
Glagah
472
0
0
0
0
Licin
392
0
0
0
0
Banyuwangi
1.617
0
0
3
3
Kabat
1.09
1
0
0
1
Rogojampi
1.472
0
0
2
2
Singojuruh
794
0
0
1
1
Songgon
843
0
0
0
0
Srono
1.085
1
0
1
2
Muncar
1.956
0
0
1
1
Tegaldlimo
1.037
0
0
0
0
Purwoharjo
1.053
2
0
1
3
Cluring
1.046
0
0
0
0
Gambiran
979
0
0
1
1
Tegalsari
786
0
0
0
0
Genteng
1.096
0
0
0
0
Sempu
1.176
0
0
0
0
Glenmore
839
1
0
1
2
Kalibaru
1.046
0
0
1
1
Bangorejo
1.014
1
0
0
1
Pesanggaran
674
0
0
0
0
Siliragung
720
6
1
16
23
Jumlah
23.702
6
1
16
23
Jumlah Kematian Ibu Maternal
97.04

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

Keterangan :

* Jumlah Kematian ibu maternal = jumlah kematian ibu hamil + jumlah kematian ibu bersalin + jumlah kematian ibu nifas * Angka kematian ibu maternal (dilaporkan) tersebut di atas belum bisa menggambarkan AKI yang sebenarnya di populasi.

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu penyakit yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas berhubungan dengan terjadinya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non fatal. Angka Morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat daripada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai mortalitas yang rendah (Depkes, RI 2009).

Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda ( double burden). Di satu sisi masih dihadapi masih tingginya penyakit infeksi (baik remerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun di sisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktifitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Pada Tahun 2009, di Banyuwangi ditemukan 11 kasus AFP pada penderita

usia < 15 tahun. Dengan jumlah penduduk < 15 tahun sebanyak 398.348 jiwa, ditemukan AFP rate sebesar 2,76 per 100.000 penduduk < 15 tahun dan terjadi kematian sebanyak 3 orang , sehingga CFR (Crude Fatality Rate) sebesar 27,27 %.

b. TB Paru

Pada Tahun 2009, terdapat sebanyak 807 kasus TB Paru BTA (+), diobati 807 orang, dan yang sembuh 690 orang (85.5%). Penderita TB terbanyak terdapat pada kecamatan Muncar dan Purwoharjo sebanyak 74 orang, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Giri dengan ditemukan 4 kasus.

c. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Jumlah bayi penderita Pneumonia di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 yakni 1.103 balita dan 100 % ditangani.


AFP Rate, % TB Paru Sembuh dan Pneumonia Balita Ditangani Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
AFP
< 15 TH
BTA (+) diobati
Sembuh
% Sembuh
Jumlah Penduduk
Jumlah Pend. Balita
Balita Ditangani
% Balita Ditangani
Wongsorejo
0
84
71
85,11
43
43
43
100
Kalipuro
0
19
12
63,16
139
139
139
100
Giri
1
6
6
100,0
271
271
271
100
Glagah
0
10
7
70
4
4
4
100
Licin
0
12
8
66,67
1
1
1
100
Banyuwangi
3
55
53
97,43
40
40
40
100
Kabat
0
69
63
89,10
0
0
0
0
Rogojampi
2
49
41
82,24
94
94
94
100
Singojuruh
0
30
29
96,67
10
10
10
100
Songgon
0
66
65
98,48
75
75
75
100
Srono
0
15
8
55,55
91
91
91
100
Muncar
1
74
58
80,46
69
69
69
100
Tegaldlimo
0
24
21
90,63
117
117
117
100
Purwoharjo
1
74
66
89,36
24
24
24
100
Cluring
1
18
11
61,11
11
11
11
100
Tegalsari
0
16
14
87,50
0
0
0
0
Genteng
0
21
17
81,36
4
4
4
100
Sempu
2
15
15
100,0
50
50
50
100
Glenmore
0
73
72
91,66
55
55
55
100
Kalibaru
0
13
10
76,92
0
0
0
0
Bangorejo
0
19
15
80,35
5
5
5
100
Pesanggaran
0
11
6
64,28
0
0
0
0
Siliragung
0
7
6
85,71
0
0
0
0
RSUD Blambangan
0
8
6
75
0
0
0
0
Jumlah
11
807
690
85,50
1.1
1.103
1.1
100
Jumlah Kesakitan
2,76
85,50

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

d. HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu terjadinya penularan HIV. Selama tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi dilaporkan sebanyak 310 kasus IMS yang ditemukan dan semuanya ditangani, sedangkan kasus HIV/AIDS dilaporkan sebanyak 186 dan semuanya ditangani.

Tabel HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
HIV/AIDS
IMS
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Wongsorejo
0
0
0
7
7
100
Kalipuro
0
0
0
0
0
0
Giri
0
0
0
9
9
100
Glagah
0
0
0
10
10
100
Licin
0
0
0
4
4
100
Banyuwangi
73
73
100
7
7
100
Kabat
0
0
0
0
0
0
Rogojampi
0
0
0
20
20
100
Singojuruh
0
0
0
85
85
100
Songgon
0
0
0
18
18
100
Srono
0
0
0
25
25
100
Muncar
0
0
0
5
5
100
Tegaldlimo
0
0
0
7
7
100
Purwoharjo
0
0
0
18
18
100
Cluring
0
0
0
19
19
100
Gambiran
0
0
0
0
0
0
Tegalsari
0
0
0
4
4
100
Genteng
113
113
100
0
0
0
Sempu
0
0
0
19
19
100
Glenmore
0
0
0
1
1
100
Kalibaru
0
0
0
0
0
0
Bangorejo
0
0
0
14
14
100
Pesanggaran
0
0
0
0
0
0
Siliragung
0
0
0
12
12
100
Jumlah
186
186
100
310
310
100

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi

e. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebanyak 769 kasus dan keseluruhan telah diobati. Kasus DBD terbanyak terdapat pada Wilayah Kecamatan Cluring sebanyak 128 kasus.

f. Diare

Jumlah kasus diare di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 yang tercatat dari 45 Puskesmas sebanyak 15.198 kasus, balita yang terkena diare yang ditangani 15.198 kasus dan semuanya tertangani (100 %).

Tabel DBD Dan Diare Pada Balita Ditangani Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
DBD
DIARE
Jumlah Kasus
Jumlah Ditangani
% Ditangani
Jumlah Kasus
Jumlah Diare Pada Balita
Jumlah Diare Pada Balita Ditangani
% Balita Ditangani
Wongsorejo
14
14
100
745
282
282
100
Kalipuro
48
48
100
1598
369
369
100
Giri
19
19
100
594
452
452
100
Glagah
10
10
100
580
305
305
100
Licin
3
3
100
160
76
76
100
Banyuwangi
89
89
100
3.002
1.51
1.51
100
Kabat
47
47
100
653
368
368
100
Rogojampi
111
111
100
2.805
1.573
1.573
100
Singojuruh
25
25
100
266
634
634
100
Songgon
8
8
100
1.034
140
140
100
Srono
56
56
100
1.379
583
583
100
Muncar
29
29
100
4.194
1.686
1.686
100
Tegaldlimo
9
9
100
1.612
860
860
100
Purwoharjo
29
29
100
1.872
680
680
100
Cluring
128
128
100
3.221
1.512
1.512
100
Gambiran
31
31
100
1.259
597
597
100
Tegalsari
9
9
100
131
68
68
100
Genteng
33
33
100
2.164
1.091
1.091
100
Sempu
4
4
100
1.232
560
560
100
Glenmore
10
10
100
1.111
437
437
100
Kalibaru
14
14
100
1.16
313
313
100
Bangorejo
30
30
100
1.583
669
669
100
Pesanggaran
2
2
100
758
317
317
100
Siliragung
1
1
100
254
116
116
100
Jumlah
769
769
100
33.37
15.2
15.2
100

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi


Tabel Persentase Penderita Malaria Diobati, Dirujuk dan Meninggal Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
DBD
Dirujuk ke RS
Meninggal
Sudah Diperiksa
Positif
% Positif
Positif Diobati
% Diobati
Wongsorejo
0
0
0
0
0
0
0
Kalipuro
0
0
0
0
0
0
0
Giri
0
0
0
0
0
0
0
Glagah
0
0
0
0
0
0
0
Licin
0
0
0
0
0
0
0
Banyuwangi
0
0
0
0
0
0
0
Kabat
0
0
0
0
0
0
0
Rogojampi
0
0
0
0
0
0
0
Singojuruh
0
0
0
0
0
0
0
Songgon
0
0
0
0
0
0
0
Srono
0
0
0
0
0
0
0
Muncar
22
22
100
22
100
0
0
Tegaldlimo
5
5
100
5
100
0
0
Purwoharjo
5
5
100
5
100
0
0
Cluring
7
7
100
7
100
0
0
Gambiran
0
0
0
0
0
0
0
Tegalsari
0
0
0
0
0
0
0
Genteng
0
0
0
0
0
0
0
Sempu
0
0
0
0
0
0
0
Glenmore
0
0
0
0
0
0
0
Kalibaru
0
0
0
0
0
0
0
Bangorejo
0
0
0
0
0
0
0
Pesangga-ran
2
2
100
2
100
0
0
Siliragung
0
0
0
0
0
0
0
Jumlah
41
41
100
41
100
0
0
Angka Kesakitan  (API)  
per 1000 PDDK Resiko
0,041


h. Kusta

Di Kabupaten Banyuwangi, jumlah penderita Kusta PB yang dilaporkan pada Tahun 2008 sebanyak 2 orang dan yang telah selesai menjlani pengobatan (RFT PB) pada Tahun 2008 sebanyak 8 orang (100%). Sedangkan untuk Kusta Tipe M, jumlah penderita yang dilaporkan pada Tahun 2007 adalah sebanyak 64 orang, dan yang telah selesai menjalani pengobatan (RFT MB) pada Tahun 2009 sebanyak 59 orang (92,19%).

i. Filaria (Kaki Gajah)

Hingga kini jumlah penderita filariasis yang dilaporkan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 11.699 kasus filariasis di Indonesia. Pada tahun 2009 Kabupaten Banyuwangi dari 12 orang penderita filariasis yang ditemukan, 100 % telah ditangani. Penderita tersebut berasal dari Kecamatan Giri, Glagah, Banyuwangi, Kabat, Tegaldlimo, Genteng dan Bangorejo.

j. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

a. Tetanus Neonatorum

Pada Tahun 2009 di Kabupaten Banyuwangi terdapat 1 kasus Tetanus Neonatorium, dan tidak menyebababkan kematian pada penderita.

b. Campak

Jumlah kasus Campak di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009, hasil dari kompilasi data atau informasi dari 45 Puskesmas terdapat sebanyak 56 kasus. Jumlah ini meningkat daripada tahun sebelumnya yang terdapat 51 kasus. Kasus terbanyak tercatat pada Puskesmas Kedungwungu Kecamatan Tegaldlimo.

c. Difteri, Pertusis, Hepatitis

Difteri termasuk penyakit menular yang menular yang jumlah kasusnya relatif rendah. Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 terdapat kasus Difteri sebanyak 5 kasus dan tidak menyebabkan meninggal.

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B yang dapat merusak hati.

Penyebaran penyakit tersebut melalui suntikan yang tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan, melalui hubungan seksual.

Bila dibandingkan Tahun 2007 yang tidak terdapat kasus Pertusis dan Hepatitis B, pada Tahun 2008 ditemukan 2 kasus Pertusis dan 188 kasus Hepatitis B. Sedangkan Tahun 2009 tidak terdapat kasus.

Status gizi seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan kesehatan secara umum, disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individu. Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari.

Program ini merupakan salah satu indikator kinerja pelayanan minimal pada sasaran dimaksud.

Kunjungan Neonatus (KN2) di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebesar 22.677 (91.74%) dari target 24.720. Sejak tahun 2005-2009 terjadi peningkatan cakupan kunjungan Neonatus (KN2) seperti dapat dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Tren Cakupan KN2 Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005 - 2009

gizi

2. Kunjungan Bayi

Setiap bayi (usia 0-1 tahun) diharapkan mendapatkan pelayanan sesuai standart oleh tenaga kesehatan yang kompeten menimal 4 kali. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar, vitamin A (bayi di atas 6 bulan), Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) bayi, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan buku KIA. Dengan program kunjungan bayi diharapkan setiap bayi hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal. (Dinkes Jatim, 2008).

Kunjungan bayi di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebesar 24.397 (98.69%) dari target 24.721 bayi yang ada. Kualitas pelayanan kunjungan bayi diharapkan akan mampu mempercepat penurunan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup bayi. Untuk mendapatkan gambaran kunjungan bayi selama 5 (lima) tahun bisa dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Cakupan Kunjungan Bayi Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005 - 2009

kunjungan bayi

3. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori, yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular sexual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan (Depkes RI, 2009).

Jumlah BBLR yang dilaporkan selama Tahun 2009 dari 45 Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 384 (1.62%) dari 23.702 kelahiran hidup, dan 100 % ditangani. Jika dibandingkan dengan tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 0,58%.

Tabel Cakupan Kunjungan Neonatus, Bayi dan Bayi BBLR Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

Kecamatan
Neonatus
Bayi
Bayi Lahir
Jumlah Bayi
kn2
%
Kunjungan
%
Jumlah Lahir Hidup
BBLR
% BBLR
Wongsorejo
1.071
1.053
98.44
1.219
113.82
1.116
14
1.25
Kalipuro
568
461
81.16
475
84.67
984
13
2.88
Giri
446
396
88.79
442
99.1
415
4
0.96
Glagah
516
465
90.12
472
91.47
472
5
1.06
Licin
504
365
72.42
398
78.97
392
9
2.3
Banyuwangi
1.602
1.603
99.17
1.629
101.28
1.617
27
1.86
Kabat
1.204
1.053
88.89
1.09
182.69
1.09
13
1.27
Rogojampi
1.481
1.377
93.04
1.474
99.29
1.472
14
1.1
Singojuruh
734
744
101.36
811
110.49
794
8
1.01
Songgon
781
816
104.48
843
107.94
843
14
1.66
Srono
1.387
1.038
75.06
1.242
89.68
1.085
10
0.92
Muncar
1.921
1.864
97.12
1.988
102.86
1.956
31
1.82
Tegaldlimo
991
994
99.29
1.037
103.98
1.037
19
1.85
Purwoharjo
1.007
1.05
104.27
1.053
104.56
1.053
16
1.53
Cluring
1.06
990
95.91
1.111
107.6
1.046
9
0.92
Gambiran
1.041
972
93.4
994
95.56
979
14
1.44
Tegalsari
737
766
103.93
789
107.06
786
6
0.76
Genteng
1.312
1.085
83.38
1.17
89.33
1.096
13
1.18
Sempu
1.17
1.1
96.42
1.224
111.77
1.176
37
3
Glenmore
1.089
765
70.56
965
88.35
839
17
2.01
Kalibaru
952
936
98.32
1.065
111.87
1.046
9
0.86
Bangorejo
1.056
991
94.33
1.033
98.2
1.014
11
1.1
Pesanggaran
715
611
86.23
677
95.12
674
7
1.04
Siliragung
808
720
89.11
720
89.11
720
8
1.11
Jumlah
24.72
22.677
91.74
24.397
98.69
23.702
328
1.38

4. Status Gizi Balita

Status Gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometrik yang menggunakan Indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) dengan status gizi yang bersifat umum dan tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk dan kurang mengidentifikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4 % dan gizi kurang 13 % atau 18,4 % untuk gizi buruk dan kurang. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan MDG untuk Indonesia sebesar 18,5 %, maka secara nasional target sudah melampaui, namun pencapaian di berbagai propinsi belum merata. Dari laporan hasil survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga dan SKRT selama periode 1998-2000 persentase balita gizi buruk dan gizi kurang menurun. Namun, mulai tahun 2001- 2005, persentase balita gizi buruk dan gizi kurang terus meningkat. Tahun 2005 diketahui bahwa persentase balita yang bergizi baik/normal sebesar 68,48% (Depkes RI, 2007)

Gambaran pencapaian gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi antara tahun 2005 - 2009 sebagaimana digambarkan pada grafik di bawah ini :

Grafik Jumlah Balita Gizi Buruk Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005-2009

gizi

Grafik di atas menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terjadi kenaikan maupun penurunan jumlah balita gizi buruk. Bila dibandingkan dengan tahun 2005 maka jumlah penurunan sekitar 13,52%. Hal ini disebabkan semakin membaiknya keadaan ekonomi masyarakat, memberikan ASI yang cukup, memberikan makanan yang bergizi dan adanya program makanan tambahan bagi yang bergizi buruk atau kurang.

Jumlah balita gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi tahun 2009 sebanyak 275 balita, atau sekitar 0,31 % dari 122.793 balita yang ditimbang. Jika dibandingkan dengan tahun 2008, mengalami penurunan sebesar 84 balita gizi buruk atau 0,08 %. Sedangkan berdasarkan penimbangan balita yang dilakukan selama tahun 2009, ternyata terdapat balita BGM sebesar 1,76% (sebanyak 1.549 balita BGM dari 122.793 balita yang ditimbang) Sedangkan berdasarkan penimbangan balita yang dilakukan selama Tahun 2008, ternyata terdapat balita BGM sebesar 1,40% (sebanyak 1.276 balita BGM dari 91.205 balita yang ditimbang)

Dilihat dari indikator di atas, derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi telah mengalami kemajuan yang cukup bermakna. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat antara lain ditunjukkan dengan makin menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu, menurunnya prevalensi gizi kurang pada Balita, serta meningkatnya umur harapan hidup. Namum demikian disparitas derajat kesehatan antar wilayah dan antar kelompok tingkat sosial ekonomi penduduk masih tinggi. Derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi juga masih dibawah rata-rata kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur lainnya. Upaya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya telah terjangkau di daerah pelosok pedesaan, namun tantangan ke depan adalah meningkatkan pada pelayanan rujukan khususnya pada Kelas III di Rumah Sakit.

Sarana Kesehatan meliputi :

1. Puskesmas

Pada Tahun 2009 jumlah Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 45 buah. Dari jumlah tersebut 15 Puskesmas telah menjadi Puskesmas Perawatan (33,33%). Secara konseptual Puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan setiap puskesmas dapat melayani sasaran penduduk rata-rata 30.000 penduduk. Dengan jumlah puskesmas tersebut berarti satu puskesmas di Kabupaten Banyuwangi rata-rata melayani sebanyak 35.121 jiwa.

Jumlah Puskesmas Pembantu pada tahun 2009 105 buah, dengan rasio Puskesmas Pembantu terhadap Puskesmas rata-rata 2,33:1, artinya setiap Puskesmas didukung oleh 2 sampai 3 Puskesmas Pembantu. Selain itu dalam menjalankan tugas operasionalnya Puskesmas didukung oleh Puskesmas Keliling Roda 4 sebanyak 53 unit, Posyandu sebanyak 2.180 unit serta Polindes 212 unit.

2. Rumah Sakit

Jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 sebanyak 11 buah dengan rincian Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 buah, Rumah Sakit Umum Swasta 4 buah, Rumah Sakit Khusus 5 buah serta 1 (buah) Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik Ketergantungan Obat.

Adapun rasio Rumah Sakit terhadap penduduk 1 : 146.882 artinya 1 Rumah Sakit melayani penduduk 146.882 jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 jumlah seluruh Rumah Sakit Umum di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 6 buah dengan rincian Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 buah, Rumah Sakit Umum Swasta 4 buah, Rumah Sakit Khusus 4 buah, serta 1 (satu) unit Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik ketergantungan Obat.

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi, yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Berbagai indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemafaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).

Selama tahun 2009 pencapaian BOR (pemanfaatan tempat tidur) adalah sebesar 61,1 rata-rata lama hari perawatan (LOS) sebesar 3,6 rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI) sebesar 2,3 persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) sebesar 44 per 1.000 pasien keluar, serta persentase pasien keluar yang meninggal > 48 jam perawatan (NDR) sebesar 12,4 per 1.000 pasien keluar

3. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu dan Polindes.

Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyeleng-garakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2009 ada 2.180 unit dengan rincian dapat dilihat dalam grafik berikut :

Grafik Jumlah Posyandu menurut Strata

saran kesehatan

Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana. Jumlah Polindes untuk Tahun 2009 sebanyak 212 unit.

Poskesdes merupakan suatu tempat yang dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Selain digunakan untuk pelayanan kesehatan, juga dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat dalam mendukung program kesehatan. Dari 217 desa dan kelurahan di

Kabupaten Banyuwangi semua telah ada poskesdesnya walaupun tidak semua mempunyai bangunan sendiri karena masih ada yang penempatannya bersama di gedung balai desa.

Tenaga Kesehatan :

Jumlah dan jenis sumber daya manusia kesehatan di Kabupaten Banyuwangi sebesar 1.693 orang, yang tersebar di Puskesmas 860 orang, Dinas Kesehatan 30 orang, Rumah Sakit 793 orang, serta sarana kesehatan lain 10 orang. Persebaran dan jumlah SDM kesehatan di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik Persebaran SDM Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009

SDF

Adapun jumlah SDM kesehatan dibedakan menurut 9 kelompok yaitu : medis sebanyak 196 orang, keperawatan (perawat dan bidang) medis sebanyak 731 orang, kebidanan 533 orang, farmasi sejumlah 82, gizi 40 orang, teknisi medis sebanyak 61 orang, sanitasi sebanyak 22 orang dan kesehatan masyarakat sebanyak 19 orang.

Jumlah, persentase dan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk menurut jenisnya disajikan pada tabel berikut :

Tabel Jumlah Persentase dan Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap Penduduk

No
Jenis Tenaga
Jumlah
%
Rasio Per
100.000 penduduk
1
Medis
196
11,66
12,13
2
Perawat
731
43,00
45,24
3
Bidan
533
31,72
32,99
4
Farmasi
82
4,88
5,08
5
Gizi
40
2,00
2,48
6
Teknisi Medis
61
3,39
3,78
7
Sanitasi
22
1,30
1,36
8
Kesehatan Masyarakat
19
1,13
1,18
Jumlah
1.684
100,00
104,24

Ruang dilihat sebagai wadah interaksi sosial, ekonomi, budaya antara manusia lainnya dan ekosistem serta sumberdaya buatan. Sudut pandangan yang demikian merupakan arah dan kebijakan dari pembangunan di bidang penataan ruang sehingga terjadi harmonisasi diantaranya guna optimalisasi penataan dan pemanfaata ruang.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada intinya adalah rencana pemanfaatan ruang yang disusun untuk menjaga keserasian pembangunan wilayah dan sektor dalam rangka pelaksanaan program-program pemba-ngunan yang ada di wilayah. Sebagai suatu rencana, RTRW tidak hanya menggambarkan tata letak dan keterkaitan hirarki ruang, baik antara kegiatan maupun antar pusat kegiatan, akan tetapi kualitas komponen-komponen yang menjadi penyusunan ruang.

Pada dasarnya Urusan tata ruang diarahkan pada revitalisasi penataan ruang dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang daerah yang optimal dan berkelanjutan.

Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Sumber : UU No. 26 Tahun 2007 pasal 35 :( Pengendalian Pemanfaatan Ruang dilakukan melalui penetapan Peraturan Zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi )

 

 

Tujuan Pengembangan Wilayah di Kabupaten Banyuwangi :

  1. Terwujudnya harmonisasi pengelolaan kawasan lindung dan mitigasi daerah rawan bencana dalam rangka pengembangan wilayah Kabupaten Banyuwangi;
  2. Tersedianya infrastruktur sehingga dapat mengurangi ketimpangan wilayah dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi;
  3. Berkembangnya sentra ekonomi unggulan Kabupaten Banyuwangi yang berbasiskan pada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan pariwisata.
  4. Berkembangnya pendidikan yang berbasis sumberdaya daerah dalam rangka mendukung pengembangan wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Rencana Sistem Pusat-Pusat Pengembangan Wilayah di Kabupaten Banyuwangi :

- Hierarki tingkat kekotann di Kabupaten Banyuwangi:
  • Pusat Kegiatan Wilayah : Kota Banyuwangi
  • Pusat Kegiatan Lokal : Kota Genteng, Rogojampi, Muncar
  • Pusat Kegiatan Promosi Lokal : Kota Kalipuro, Wongsorejo, Bangorejo.
  • Pusat Pelayanan Kawasan : Kota Kalibaru, Singojuruh, Srono, Pesanggaran, Purwoharjo, Tegaldlimo, Cluring, Glenmore, Kabat, Sempu, Songgon, Glagah, Wongsorejo, Giri, Tegalsari, Licin, Siliragung

- SWP Banyuwangi:

1. Kota Banyuwangi :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi kabupaten Banyuwangi Bagian Utara yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi.

2. Kota Rogojampi :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi kabupaten Bagian Tengah Timur yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pengembangan bandar udara Blimbingsari dan Fishery Town bagi Kabupaten Banyuwangi.

3. Kota Genteng :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi Bagian Tengah Barat yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pertumbuhan terbesar ke - 2 di Kabupaten Banyuwangi.

4. Kota Bangorejo :

Sebagai pusat pertumbuhan bagi Kabupaten Banyuwangi Bagian Selatan yang sekaligus berfungsi sebagai Agropolitan.

 Download

Urusan Pekerjaan Umum yang meliputi bidang kebinamargaan yang meliputi antara lain infrastruktur jalan dan jembatan serta bangunan ikutannya ;   bidang pengairan yang meliputi infrastruktur antara lain bendungan, waduk dan saluran pembawa serta tangkis sungai dan pantai merupakan salah satu pemicu dalam pembangunan suatu wilayah dan sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penyediaan infrastruktur yang memadai akan memberikan percepatan pergerakan arus barang dan jasa di wilayah sehingga aktivitas ekonomi juga akan semakin tinggi. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang dan jasa maupun penumpang.

Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan irigasi merupakan salah satu aspek terpenting  untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Ketersediaan infrastruktur sebagaimana dimaksud diatas akan menunjang pengembangan wilayah seperti kawasan timur Kabupaten Banyuwangi yang secara bertahap disediakan prasarana jalan yang memadai sehingga mampu membedah potensi ekonomi, yang nantinya diharapkan sebagai jalur alternatif distribusi barang, jasa dan penumpang menuju kawasan produksi dan distribusi / pelabuhan.

Berdasarkan hasil catatan Balai Pemeliharaan Jalan DPU Bina Marga Propinsi Jawa Timur dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2006-2007 tidak ada peningkatan panjang jalan yang beraspal, yaitu sebesar 100,53 km jalan negara dan 114,35 km jalan propinsi.

Namun demikian terdapat peningkatan kondisi jalan negara dari panjang jalan dalam kondisi baik sebesar 45,98 km menjadi 46,98 km. Untuk jalan kabupaten, pada tahun 2006, kondisi jalan dari seluruh ruas jalan mengalami peningkatan dari 1.096,8 km dalam kondisi baik, sedangkan kondisi jalan kabupaten yang rusak ringan menurun dari 314 km pada tahun 2006 menjadi 137 km pada tahun 2008.

Kebijakan umum pembangunan urusan pekerjaan umum diarahkan pada peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan, sumber daya air dan irigasi yang meliputi antara lain : pembangunan sarana dan prasarana wilayah yang mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan sarana dan prasarana penunjang sektor unggulan pertanian dan pariwisata, peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan dan pembangunan infrastruktur sumberdaya air dan irigasi yang mendorong peningkatan produksi pertanian.


Keputusan Menteri Pekerjaan Umum    Nomor 631/KPTS/M/2009
Tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya sebagai Jalan Nasional di Kabupaten Banyuwangi

Nomor Ruas
Nama Ruas
Panjang Ruas
Lama
Baru
131.2
074
Bts Kab Jember-Genteng Kulon 
31.345
132 
075
Genteng kulon-Jajag-Benculuk 
15.960
133 
076
Benculuk-Rogojampi
17.130
134
077
Rogojampi-Bts Kota Banyuwangi
7.492
134.14.K 
077.11.K
Jl.S.Parman
1.510
134.13.K 
077.12.K
Jl. Adi Sucipto
1.400
134.12.K 
077.13.K
Jl. A. Yani
1.200
134.11.K 
077.14.K
Jl. PB Sudirman
1.520
025.13.K 
078.11.K
Jl. Basuki Rahmad
1.491
025.12.K 
078.12.K
Jl. Yos Sudarso
2.824
025.11.K 
078.13.K
Jl. Gatot Subroto
3.395

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 630/KPTS/M/2009
Tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Dalam Jaringan Jalan Primer
Menurut Fungsinya sebagai Jalan Arteri dan Jalan Kolektor 1 di Kabupaten Banyuwangi

Nomor Ruas
Baru
Nama Ruas
Panjang Ruas
Ket
024.1
025
Bts Kab Situbondo- Bajulmati
57.010
Arteri
131.2
074
Bts.Kab.Jember-Genteng kulon
31.345
Kolektor 1
132
075
Genteng Kulon-Jajag- Benculuk
15.960
Kolektor 1
133
076
Benculuk-Rogojampi
17.130
Kolektor 1
134
077
Rogojampi-Bts.Kota Banyuwangi
7.492
Kolektor 1
134.14.K
077.11.K
Jl. S. Parman
1.510
Kolektor 1
134.13.K
077.12.K
Jl. Adi Sucipto
1.400
Kolektor 1
134.12.K
077.13.K
Jl. A. Yani
1.200
Kolektor 1
134.11.K
077.14.K
Jl. PB. Sudirman
1.520
Kolektor 1
025.13.K
078.11.K
Jl. Basuki Rahmad
1.491
Arteri
025.12.K
078.12.K
Jl. Yos Sudarso
2.824
Arteri
025.11.K
078.13.K
Jl. Gatot Subroto
3.395
Arteri

Keputusan Gubernur tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan
Dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Fungsinya

Nomor Ruas
Nama Ruas
Panjang Ruas
Ket
Lama
Baru
132 241 Genteng kulon- Wonorekso 14.880 Kolektor 2
133 242 Wonorekso-Rogojampi 4.690 Kolektor 2
135 243 Genteng-Temuguruh 9.870 Kolektor 3
136 244 Temuguruh-Wonorekso 5.720 Kolektor 3
138.1 245 Benculuk-Glagah Agung 9.620 Kolektor 3
138.2 246 Glagah Agung-Grajagan 9.700 Kolektor 3
161 247 Jajag-Bangorejo-Pesanggaran 21.930 Kolektor 3
164 249 Glagah Agung-Tegal Dlimo 13.000 Kolektor 3

Perkembangan Panjang Jalan Negara, Propinsi Menurut Jenis Permukaan, Kondisi dan Kelas Jalan Tahun 2008 2009

No
Keadaan
2008
2009
Negara
Prop
Negara
Prop
I Jenis Permukaan        
  - Aspal 100.530 114.350 100.530 114.350
  - Kerikil - - - -
  - Tanah - - - -
  - Lainnya - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350
II Kondisi Jalan        
  - Baik 46.980 48.245 39.395 48.880
  - Sedang 53.550 61.905 59.235 59.220
  - Rsk Rgn - 4.200 2.900 6.250
  - Rsk Brt - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350
III Kelas Jalan        
  - Kelas I - - - -
  - Kelas II 34.400 - 34.400 -
  - Kelas III - - - -
  - Kelas IIIA 66.130 - 66.130 -
  - Kelas IIIB - 17.130 - 17.130
  - Kelas IIIC - 97.220 - 97.220
  - Kelas IV - - - -
  - Kelas V - - - -
  - Lainnya - - - -
  Jumlah 100.530 114.350 100.530 114.350

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Propinsi Jawa Timur UPT Banyuwangi

Urusan Perhubungan di Kabupaten Banyuwangi dapat dikategorikan relatif maju sejak empat tahun terakhir ini. Meski tergolong kota sedang, Banyuwangi berfasilitas cukup memadai dalam urusan perhubungan, misalkan saja jenis angkutan dalam kotanya, ada taxi beragometer, angkutan kota yang    sering disebut lin, serta jenis angkutan tradisional lainnya.


Jumlah Kendaraan Menurut Jenisnya 2007-2009

Jenis
2007
2008
2009
Bus Umum
353
91
342
Bus Bkn Umum
26
36
41
Mobil Box
181
382
424
Mobil Penumpang Umum
509
581
268
Truck Umum
1.714
2.112
2.18
Truck Bkn Umum
1.575
1.752
2.038
Truck Gandeng
270
243
246
Kontainer
39
39
47
Pick Up
4.964
4.798
4.568
Jenis
2007
2008
2009
Sepeda Motor
271.391
307.592
374.446
Jeep
1.62
1.693
1.756
Sedan
2.335
2.451
2.57
Colt Station
10.955
11.629
12.449
Truck
5.491
5.699
6.025
Colt Pick Up
7.360
7.529
7.863
Bus
170
183
204
Ambulance
49
56
59
Dokar
1.240
1.240
1.240
Becak
1.477
1.477
1.477


Copyright © 2017 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

Jalan Ahmad Yani 100 Telp. 0333 425001

Website : www.banyuwangikab.go.id