DATA SEPUTAR KESEHATAN DI KABUPATEN BANYUWANGI

ANGKA KEMATIAN

Kesehatan masyarakat merupakan hal mutlak untuk diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.   Beberapa cara untuk melihat tingkat kesehatan masyarakat adalah melalui Angka kematian Bayi (AKB), Ibu melahirkan dan Angka Usia Harapan Hidup.

Angka kematian bayi di Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2010-2014 memiliki nilai yang fluktuatif.Pada tahun 2010 sebesar 7.2 dari 1000 kelahiran hidup.Pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 6.71 dari 1000 kelahiran hidup. Namun AKB kembali naik cukup signifikan di tahun 2012 hingga mencapai angka 9.3  kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2013, AKB kembali turun menjadi 8.2 kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup.  AKB kembali turun cukup signifikan yaitu 6.09 di tahun 2014 dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2015 yakni menjadi 6.82 dari 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2016 AKB mengalami penurunan menjadi 5.5 kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup, ini artinya pelaksanaan pelayanan kesehatan di kabupaten Banyuwangi memenuhi target yang telah dilaksanakan.

Berbeda dengan AKB yang mencapai nilai tertingginya pada tahun 2012, Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) justru mencapai angka tertinggi pada tahun 2013 yang mencapai 142.1 kematian ibu melahirkan dari 100000 kelahiran hidup.  Namun angka tersebut sudah berhasil turun kembali di tahun 2014Pada tahun 2014 AKI sebesar 93.08 dari 100000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2015 ada kenaikan sebesar 3.22 % yakni 96.2 dari 100000 kelahiran hidup. Dan pada tahun 2016 kembali turun menjadi 87.3 per 100000 kelahiran hidup.

Kondisi Balita yang mengalami gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi cenderung mengalami penurunan, pada tahun 2012 angka balita dengan gizi buruk sebesar 1.1%, kemudian menurun di tahun 2013 menjadi 1% dan terus menurun di tahun 2014 dan tahun 2015,yakni berturut-turut hanya 0.95% dan 0.64% balita dengan gizi buruk. Grafik dibawah ini menunjukkan penurunan angka balita yang mengalami gizi buruk :

Keadaan ini berpengaruh pada masih tingginya angka kematian bayi.Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.Perawatan gizi buruk dilaksanakan melalui rawat inap dan rawat jalan.Anak gizi buruk disertai komplikasi penyakit dirawat di Puskesmas Perawatan / TF (Therapeutic Feeding Center) atau Rumah Sakit Pemerintah atau Rumah Sakit Swasta. Sedangkan anak gizi buruk tanpa komplikasi dapat dirawat jalan

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa usia harapan hidup di Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2010-2015 sudah cukup baik karena cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya walaupun kenaikan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2011. Dari yang sebelumnya 69.61 tahun pada tahun 2010 menjadi 69.7 tahun pada tahun 2011. Pada tahun 2012 angka harapan hidup naik menjadi 69.79, angka usia harapan hidup kembali naik menjadi 69.88 tahun pada tahun 2013. Usia harapan hidup juga kembali naik pada tahun 2014 menjadi 69.93 tahun, dan meningkat lagi menjadi 70.03 pada tahun 2015. Hal ini mengindikasikan Kabupaten Banyuwangi telah berhasil meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi mempengaruhi usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Banyuwangi.

ANGKA KESAKITAN

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu penyakit yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu.Morbiditas berhubungan dengan terjadinya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non fatal. Angka Morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat daripada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai mortalitas yang rendah (Depkes, RI 2009)

Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda ( double burden). Di satu sisi masih dihadapi masih tingginya penyakit infeksi (baik remerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun di sisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktifitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berikut

a. Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Pada Tahun 2015, di Banyuwangi ditemukan 0,54% per 100.000 penduduk <15 tahun. Dengan jumlah penduduk <15 tahun sebanyak 369.066 jiwa.

Di tahun yang sama jumlah kasus difetri sebanyak 4 kasus, CFR (Crude Fatality Rate) sebesar 0%, ini artinya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan semakin meningkat.

b. TB Paru

Pada Tahun 2015, terdapat sebanyak 832 kasus TB Paru BTA (+), Penderita TB terbanyak terdapat pada kecamatan Kecamatan Banyuwangi sebanyak 215 kasus, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Siliragung dengan ditemukan 21 kasus.

c. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Jumlah bayi perkiraan penderita Pneumonia di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 yakni 5.217 balita dan 71.07 % ditemukan dan ditangani.

d. HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu terjadinya penularan HIV. Selama tahun 2015 di Kabupaten Banyuwangi dilaporkan sebanyak 417 kasus HIV yang ditemukan dan semuanya ditangani, sedangkan kasus AIDS dilaporkan sebanyak 196 kasus dan 31 jiwa meninggal karena AIDS.

 

Jumlah Kasus HIV/AIDS Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Kabupaten Banyuwangi 2015

 

NO

 

KELOMPOK UMUR

 

H I V

 

AIDS

 

JUMLAH KEMATIAN AKIBATAIDS

 

L

 

P

 

L+P

PROPORSI KELOMPOK UMUR

 

L

 

P

 

L+P

PROPORSI KELOMPOK UMUR

 

L

 

P

 

L+P

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

1

≤ 4 TAHUN

3

3

6

1.44

2

1

3

1.53

0

1

1

2

5- 14 TAHUN

0

0

0

0.00

0

0

0

0.00

0

1

1

3

15- 19 TAHUN

8

7

15

3.60

3

5

8

4.08

0

0

0

4

20- 24 TAHUN

21

30

51

12.23

8

6

14

7.14

1

0

1

5

25- 49 TAHUN

154

152

306

73.38

87

56

143

72.96

11

9

20

6

≥ 50 TAHUN

25

14

39

9.35

16

12

28

14.29

8

0

8

JUMLAH (KAB/KOTA)

211

206

417

 

116

80

196

 

20

11

31

PROPORSIJENIS KELAMIN

50.60

49.40

 

 

59.18

40.82

 

 

64.52

35.48

 

 

e. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 sebanyak 996 kasus dan penderita DBD yang meninggal 9 jiwa. Kasus DBD terbanyak terdapat pada Wilayah Kecamatan Banyuwangi sebanyak 121 kasus.

 

Jumlah Kasus DBD Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Kabupaten Banyuwangi 2015

 

NO

 

KECAMATAN

 

PUSKESMAS

DEMAMBERDARAHDENGUE(DBD)

JUMLAHKASUS

MENINGGAL

CFR(%)

L

P

L+P

L

P

L+P

L

P

L+P

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

1

WONGSOREJO

WONGSOREJO

12

11

23

0

0

0

0.0

0.0

0.0

2

 

BAJULMATI

3

1

4

0

0

0

0.0

0.0

0.0

3

KALIPURO

KELIR

5

5

10

0

0

0

0.0

0.0

0.0

4

 

KLATAK

25

30

55

0

0

0

0.0

0.0

0.0

5

GIRI

MOJOPANGGUNG

11

19

30

0

0

0

0.0

0.0

0.0

6

PASPAN

PASPAN

13

4

17

1

0

1

7.7

0.0

5.9

7

LICIN

LICIN

3

3

6

0

0

0

0.0

0.0

0.0

8

BANYUWANGI

SOBO

28

23

51

0

1

1

0.0

4.3

2.0

9

 

SINGOTRUNAN

22

22

44

1

0

1

4.5

0.0

2.3

10

 

KERTOSARI

13

13

26

0

0

0

0.0

0.0

0.0

11

KABAT

KABAT

14

11

25

1

1

2

7.1

9.1

8.0

12

 

BADEAN

5

5

10

0

0

0

0.0

0.0

0.0

13

ROGOJAMPI

GITIK

26

22

48

0

2

2

0.0

9.1

4.2

14

 

GLADAG

12

9

21

0

0

0

0.0

0.0

0.0

15

SINGOJURUH

SINGOJURUH

13

4

17

0

0

0

0.0

0.0

0.0

16

SONGGON

SONGGON

8

7

15

0

0

0

0.0

0.0

0.0

17

SRONO

KEBAMAN

12

8

20

0

0

0

0.0

0.0

0.0

18

 

PARIJATAHKULON

4

5

9

0

0

0

0.0

0.0

0.0

19

 

WONOSOBO

6

8

14

0

0

0

0.0

0.0

0.0

20

MUNCAR

KEDUNGREJO

11

12

23

0

0

0

0.0

0.0

0.0

21

 

SUMBERBERAS

6

4

10

0

0

0

0.0

0.0

0.0

22

 

TAPANREJO

4

3

7

0

0

0

0.0

0.0

0.0

23

 

TEMBOKREJO

4

4

8

0

0

0

0.0

0.0

0.0

24

TEGALDLIMO

TEGALDLIMO

29

21

50

0

0

0

0.0

0.0

0.0

25

 

KEDUNGWUNGU

26

22

48

0

0

0

0.0

0.0

0.0

26

PURWOHARJO

PURWOHARJO

23

29

52

0

0

0

0.0

0.0

0.0

27

 

GRAJAGAN

15

23

38

0

0

0

0.0

0.0

0.0

28

CLURING

BENCULUK

17

15

32

0

0

0

0.0

0.0

0.0

29

 

TAMPO

16

17

33

0

0

0

0.0

0.0

0.0

30

GAMBIRAN

JAJAG

5

5

10

0

0

0

0.0

0.0

0.0

31

 

YOSOMULYO

8

7

15

0

0

0

0.0

0.0

0.0

32

TEGALSARI

TEGALSARI

8

5

13

0

0

0

0.0

0.0

0.0

33

GENTENG

GENTENGKULON

9

10

19

0

0

0

0.0

0.0

0.0

34

 

KEMBIRITAN

7

5

12

0

0

0

0.0

0.0

0.0

35

SEMPU

SEMPU

4

3

7

0

0

0

0.0

0.0

0.0

36

 

KARANGSARI

4

2

6

0

0

0

0.0

0.0

0.0

37

 

GENDOH

2

0

2

1

0

1

50.0

#DIV/0!

50.0

38

GLENMORE

SEPANJANG

17

12

29

0

1

1

0.0

8.3

3.4

39

 

TULUNGREJO

9

4

13

0

0

0

0.0

0.0

0.0

40

KALIBARU

KALIBARUKULON

9

5

14

0

0

0

0.0

0.0

0.0

41

BANGOREJO

KEBONDALEM

13

17

30

0

0

0

0.0

0.0

0.0

42

 

SAMBIREJO

31

30

61

0

0

0

0.0

0.0

0.0

43

PESANGGARAN

PESANGGARAN

0

1

1

0

0

0

#DIV/0!

0.0

0.0

44

 

SUMBERAGUNG

3

3

6

0

0

0

0.0

0.0

0.0

45

SILIRAGUNG

SILIRAGUNG

7

5

12

0

0

0

0.0

0.0

0.0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JUMLAH(KAB/KOTA)

522

474

996

4

5

9

0.8

1.1

0.9

INCIDENCERATEPER100.000PENDUDUK

65.8

59.2

62.5

 

 

f. Diare

Jumlah kasus diare di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2015 jumlah target penemuan sebanyak 34.118  kasus, balita yang terkena diare yang ditangani 34.371 kasus dan semuanya tertangani (100,8 %).

h. Kusta

Di Kabupaten Banyuwangi, jumlah penderita Kusta PB yang dilaporkan pada Tahun 2015 sebanyak 5 Sedangkan untuk Kusta Tipe M, jumlah penderita yang dilaporkan pada Tahun 2015 adalah sebanyak 52 orang.

j. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

a. Tetanus Neonatorum

Pada Tahun 2015 di Kabupaten Banyuwangi terdapat 1 kasus Tetanus Neonatorium, dan tidak menyebababkan kematian pada penderita.

b. Campak

Jumlah kasus Campak di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015, hasil dari kompilasi data atau informasi dari 45 Puskesmas terdapat sebanyak 2 kasus.Jumlah ini menurun drastis daripada tahun 2009 yang mencapai 56 kasus.

c. Difteri, Pertusis, Hepatitis

Difteri, Pertusis dan Hepatitis B termasuk penyakit menular yang menular yang jumlah kasusnya relatif rendah.Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2015 tidak terdapat kasus Difteri, pertussis maupun Hepatitis B, artinya jumlah kasus di Kabupaten Banyuwangi 0%.

 

STATUS GIZI

Status gizi seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan kesehatan secara umum, disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individu. Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari.

Program ini merupakan salah satu indikator kinerja pelayanan minimal pada sasaran dimaksud.

Kunjungan Neonatus- 1 (KN1) di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 sebesar 101.43% dan Kunjungan Neonatus- 2 (KN2) Tahun 2015 sebesar 97.98%

Sejak tahun 2008 Kunjungan Neonatus (KN2) kabupaten Banyuwangi mengalami kenaikan. Seperti yang dapat dilihat di dalam grafik berikut ini ;

Kunjungan Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Kabupaten Banyuwangi 2015

 

 

 

KECAMATAN

 

PUSKESMAS

JUMLAH LAHIR HIDUP

KUNJUNGAN NEONATAL3KALI (KN LENGKAP)

L

P

L+P

L

P

L+ P

JUMLAH

%

JUMLAH

%

JUMLAH

%

1

2

3

4

5

6

13

14

15

16

17

18

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

WONGSOREJO

 

KALIPURO

 

GIRI PASPAN LICIN

BANYUWANGI

 

 

KABAT

 

ROGOJAMPI

 

SINGOJURUH SONGGON SRONO

 

MUNCAR

 

 

TEGALDLIMO

 

PURWOHARJO

 

CLURING

 

GAMBIRAN

 

TEGALSARI GENTENG

 

SEMPU

 

 

GLENMORE

 

KALIBARU BANGOREJO

 

PESANGGARAN

 

SILIRAGUNG

WONGSOREJO BAJULMATI KELIR

KLATAK MOJOPANGGUNG PASPAN

LICIN SOBO

SINGOTRUNAN KERTOSARI KABATBADEAN

GITIKGLADAG SINGOJURUH SONGGON KEBAMAN

PARIJATAHKULON WONOSOBO KEDUNGREJO SUMBERBERAS TAPANREJO TEMBOKREJO TEGALDLIMO KEDUNGWUNGU PURWOHARJO GRAJAGAN BENCULUKTAMPO

JAJAG YOSOMULYO TEGALSARI GENTENG KULON KEMBIRITAN SEMPU KARANGSARI GENDOH SEPANJANG TULUNGREJO KALIBARUKULON KEBONDALEM SAMBIREJO PESANGGARAN SUMBERAGUNG SILIRAGUNG

328 252 122 481 187 244 181 358 280 207 338 184 400 284 328 436 173 213 224 323 218 145 344 237 216 255 241 362 194 218 257 293 398 300 233 247 75 311 245 525 225 209 163 232 354

289 282 114 475 166 204 172 336 289 192 325 186 400 244 365 423 142 214 230 289 205 151 319 248 171 199 220 309 155 237 198 318 323 343 223 265 74 283 235 505 222 167 156 212 297

617 534 236 956 353 448 353 694 569 399 663 370 800 528 693 859 315 427 454 612 423 296 663 485 387 454 461 671 349 455 455 611 721 643 456 512 149 594 480 1,030 447 376 319 444 651

274 266 119 440 192 235 184 414 325 225 324 172 419 255 353 424 171 240 223 309 239 157 325 251 208 238 223 314 203 238 266 375 360 347 233 242 74 254 243 495 198 187 161 195 274

83.5 105.6 97.5 91.5 102.7 96.3 101.7 115.6 116.1 108.7 95.9 93.5 104.8 89.8 107.6 97.2 98.8 112.7 99.6 95.7 109.6 108.3 94.5 105.9 96.3 93.3 92.5 86.7 104.6 109.2 103.5 128.0 90.5 115.7 100.0 98.0 98.7 81.7 99.2 94.3 88.0 89.5 98.8 84.1 77.4

292 276 114 439 165 238 170 370 277 222 323 182 419 247 318 387 159 182 234 311 252 141 325 214 158 187 245 302 170 214 223 287 318 306 206 258 56 239 179 499 222 189 108 214 239

101.0 97.9 100.0 92.4 99.4 116.7 98.8 110.1 95.8 115.6 99.4 97.8 104.8 101.2 87.1 91.5 112.0 85.0 101.7 107.6 122.9 93.4 101.9 86.3 92.4 94.0 111.4 97.7 109.7 90.3 112.6 90.3 98.5 89.2 92.4 97.4 75.7 84.5 76.2 98.8 100.0 113.2 69.2 100.9 80.5

566 542 233 879 357 473 354 784 602 447 647 354 838 502 671 811 330 422 457 620 491 298 650 465 366 425 468 616 373 452 489 662 678 653 439 500 130 493 422 994 420 376 269 409 513

91.7 101.5 98.7 91.9 101.1 105.6 100.3 113.0 105.8 112.0 97.6 95.7 104.8 95.1 96.8 94.4 104.8 98.8 100.7 101.3 116.1 100.7 98.0 95.9 94.6 93.6 101.5 91.8 106.9 99.3 107.5 108.3 94.0 101.6 96.3 97.7 87.2 83.0 87.9 96.5 94.0 100.0 84.3 92.1 78.8

JUMLAH (KAB/KOTA)

12,040

11,372

23,412

11,864

98.5

11,076

97.4

22,940

98.0

 

 

2. Kunjungan Bayi

Setiap bayi (usia 0-1 tahun) diharapkan mendapatkan pelayanan sesuai standart oleh tenaga kesehatan yang kompeten menimal 4 kali. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar, vitamin A (bayi di atas 6 bulan), Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) bayi, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan buku KIA. Dengan program kunjungan bayi diharapkan setiap bayi hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal. (Dinkes Jatim, 2008).

Pelayanan Kesehatan bayi di kabupaten Banyuwangi tahun 2015 sebesar 99,6%, hal ini menunjukkan peningkatan pelayanan kesehatan bayi untuk mencegah angka kematian bayi.

Sebagai gambaran cakupan kunjungan bayi paripurna selama periode 5tahun,dapatdigambarkan sebagai berikut :

3. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori, yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular sexual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan (Depkes RI, 2009).

Jumlah BBLR yang dilaporkan selama Tahun 2015 dari 45 Puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 3.3% dari 23.412 kelahiran hidup.

Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas

Kabupaten Banyuwangi 2015

 

4. Status Gizi Balita

Status Gizi Balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometrik yang menggunakan Indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) dengan status gizi yang bersifat umum dan tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk dan kurang mengidentifikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4 % dan gizi kurang 13 % atau 18,4 % untuk gizi buruk dan kurang. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan MDG untuk Indonesia sebesar 18,5 %, maka secara nasional target sudah melampaui, namun pencapaian di berbagai propinsi belum merata.

Jumlah balita gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi tahun 2015 yang mendapat perawatan sebanyak 100%. Jumlah balita yang ditimbang sebesar 87,04%. Dengan balita berat badan dibawah gris merah (BGM) sebesar 0,58%.

Dilihat dari indikator di atas, derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi telah mengalami kemajuan yang cukup bermakna. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat antara lain ditunjukkan dengan makin menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu, menurunnya prevalensi gizi kurang pada Balita, serta meningkatnya umur harapan hidup. Namum demikian disparitas derajat kesehatan antar wilayah dan antar kelompok tingkat sosial ekonomi penduduk masih tinggi.Derajat kesehatan di Kabupaten Banyuwangi juga masih dibawah rata-rata kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur lainnya.Upaya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya telah terjangkau di daerah pelosok pedesaan, namun tantangan ke depan adalah meningkatkan pada pelayanan rujukan khususnya pada Kelas III di Rumah Sakit.

SARANA KESEHATAN

 

1. Puskesmas

Pada Tahun 2015di Kabupaten Banyuwangi jumlah Puskesmas rawat inap sebanyak 17 unit, Puskesmas rawat non inap sebanyak28 unit, Puskesmas keliling sebanyak 45 unit dan Puskesmas pembantu sebanyak 105 unit

2. Rumah Sakit

Ruang lingkup pembangunan kesehatan selaian upaya promotif dan preventif, didalamnya juga terdapat pembangunan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif, rehabilitatif  dan sekaligus berfungsi sebagai pelayanan kesehatan Rujukan.

Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana Rumah Sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah Rumah Sakit dan tempat tidurnya serta rasio terhadap jumlah penduduk. Jumlah seluruh Rumah Sakit di Kabupaten Banyuwangi tahun 2015 sebanyak 13 unit dengan rincian Rumah Sakit Umum Pemerintah 2 unit, Rumah Sakit Umum Swasta 8 unit, Rumah Sakit Khusus 3 unit. 

Adapun rasio Rumah Sakit terhadap penduduk 1 : 121.581 artinya 1 Rumah Sakit melayani penduduk121.581jiwa. Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi, yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Berbagai indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemafaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).

Selama tahun 2015 pencapaian BOR (pemanfaatan tempat tidur) adalah sebesar 65,73 kali, rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI) sebesar 2,39 persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) sebesar 4,78% per 100.000 pasien keluar, serta persentase pasien keluar yang meninggal > 48 jam perawatan (NDR) sebesar 2,20 per 100.000 pasien keluar.

3. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat.Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu dan Polindes.Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat.Posyandu menyeleng-garakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2015 ada 2.275 unit dengan rincian postandu pratama 0, posyandu madya 193, posyandu purnama 1.860, dan posyandu mandiri 222.

Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana.Jumlah Polindes untuk Tahun 2015 sebanyak 98 unit.

Poskesdes merupakan suatu tempat yang dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat.Selain digunakan untuk pelayanan kesehatan, juga dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat dalam mendukung program kesehatan.Dari 217 desa dan kelurahan diKabupaten Banyuwangi semua telah ada poskesdesnya walaupun tidak semua mempunyai bangunan sendiri karena masih ada yang penempatannya bersama di gedung balai desa.

Jumlah Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) Menurut Kecamatan

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015

 

NO

 

KECAMATAN

 

PUSKESMAS

 

 

DESA/KELURAHAN

UPAYAKESEHATANBERSUMBERDAYAMASYARAKAT(UKBM)

POSKESDES

POLINDES

POSBINDU

1

2

3

4

5

6

7

1

WONGSOREJO

WONGSOREJO

5

5

1

 

2

 

BAJULMATI

7

7

6

 

3

KALIPURO

KELIR

4

4

1

4

4

 

KLATAK

5

5

1

1

5

GIRI

MOJOPANGGUNG

6

6

2

1

6

PASPAN

PASPAN

10

10

7

10

7

LICIN

LICIN

8

8

6

2

8

BANYUWANGI

SOBO

7

7

 

1

9

 

SINGOTRUNAN

7

7

 

7

10

 

KERTOSARI

4

4

4

4

11

KABAT

KABAT

9

9

1

3

12

 

BADEAN

7

7

 

1

13

ROGOJAMPI

GITIK

10

10

11

 

14

 

GLADAG

8

8

 

1

15

SINGOJURUH

SINGOJURUH

11

11

 

 

16

SONGGON

SONGGON

9

9

1

2

17

SRONO

KEBAMAN

3

3

 

3

18

 

PARIJATAHKULON

4

4

4

1

19

 

WONOSOBO

3

3

1

1

20

MUNCAR

KEDUNGREJO

2

2

2

2

21

 

SUMBERBERAS

2

2

 

1

22

 

TAPANREJO

3

3

2

1

23

 

TEMBOKREJO

3

3

 

3

24

TEGALDLIMO

TEGALDLIMO

5

5

 

3

25

 

KEDUNGWUNGU

4

4

1

 

26

PURWOHARJO

PURWOHARJO

4

4

4

4

27

 

GRAJAGAN

4

4

4

1

28

CLURING

BENCULUK

5

5

5

2

29

 

TAMPO

4

4

 

2

30

GAMBIRAN

JAJAG

3

3

 

1

31

 

YOSOMULYO

3

3

3

1

32

TEGALSARI

TEGALSARI

6

6

2

1

33

GENTENG

GENTENGKULON

3

3

1

3

34

 

KEMBIRITAN

2

2

1

 

35

SEMPU

SEMPU

3

3

2

1

36

 

KARANGSARI

3

3

4

1

37

 

GENDOH

1

1

 

 

38

GLENMORE

SEPANJANG

4

4

3

1

39

 

TULUNGREJO

3

3

5

1

40

KALIBARU

KALIBARUKULON

6

6

4

2

41

BANGOREJO

KEBONDALEM

4

4

1

 

42

 

SAMBIREJO

3

3

1

2

43

PESANGGARAN

PESANGGARAN

2

2

 

 

44

 

SUMBERAGUNG

3

3

 

 

45

SILIRAGUNG

SILIRAGUNG

5

5

7

 

JUMLAH(KAB/KOTA)

 

217

217

98

75

TENAGA KESEHATAN

  1. Tenaga Kesehatan :

Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas.Tenaga kesehatan yang berkualitas diiringi dengan pendidikan yang berkualitas pula sehingga menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional dalam bidangnya.

Persebaran ketersediaan tenaga kesehatan baik yang bekerja di sektor pemerintah maupun swasta perlu diketahui agar pendistribusian ketenagaan di masing-masing pelayanan kesehatan dapat terkoordinir.Data ketenagaan ini diperoleh dari hasil pengumpulan data oleh Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi. Data yang dimaksudkan meliputi data jumlah dan jenis sumber daya kesehatan yang ada pada Dinas Kesehatan, UPT Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta sampai dengan akhir tahun2015.

Adapun jumlah SDM Kesehatan dibedakan menurut 9 kelompok yaitu medis sebanyak 305 orang, keperawatan sejumlah 1.059 orang, Kebidanan 689 orang, farmasi sejumlah 151 orang, gizi 51 orang, teknisi medis sebanyak 106 orang, sanitasi sebanyak 51 orang, kesehatan masyarakat sebanyak 52 orang, dan tenaga keterapian fisik sebanyak 12 orang(tabel72-80).

Jumlah, persentase dan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk menurut jenisnya disajikan pada tabel berikut :

  1. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap Penduduk

Jumlah persentase dan rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk menurut jenisnya disajikan pada tabel di bawah ini (data dari 45 puskesmas, Dinas Kesehatan dan 10 dari 12Rumah Sakit):

 

  Streaming Blambangan FM

Copyright © 2017 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi

Jalan Ahmad Yani 100 Telp. 0333 425001

Website : www.banyuwangikab.go.id