Didukung Kemenkominfo, Banyuwangi Susun Master Plan Smart City

BANYUWANGI – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI menggelar bimbingan teknis penyusunan masterplan Smart City Banyuwangi. Bimbingan ini bagian dari program pendampingan Kominfo yang telah menetapkan Banyuwangi sebagai satu dari 25 kabupaten/kota penerapan konsep ”smart city" di Indonesia.

Ketua tim pembimbing pendampingan smart city Kemenkominfo Dana Indra mengatakan, Kemenkominfo tengah membangun 100 smart city di Indonesia. Dana menerangkan fondasi menuju smart city yaitu terdiri dari sumberdaya manusia, kebijakan yang didukung pemimpinnya, dan teknologi untuk menciptakan layanan yang smart. “Menurut saya, Banyuwangi sudah punya fondasi yang kuat untuk menuju smart city. Tak hanya pelayanan publiknya yang sudah berbasis IT, Banyuwangi juga punya leader yang luar biasa dan memiliki visi jauh ke depan, ” kata Dana.

Smart City adalah konsep kota cerdas yang dirancang mempermudah kegiatan masyarakat dalam mengelola sumber daya secara efektif dan efisien, serta kemudahan mengakses informasi bagi masyarakat.

Dana melanjutkan daerah yang telah dipilih untuk penerapan smart city ini harus memiliki masterplan, yang nantinya menjadi pijakan awal implementasi pengembangan daerah dengan konsep kota cerdas. "Bimtek ini sebagai bentuk pendampingan penyusunan master plan. Agar bisa sinergi antara perencanaan pengembangan smart city antara pusat dan daerah. Sehingga, Banyuwangi dapat menyusun masterplan smart city yang komprehensif dan aplikatif,”  kata Dana.

Bimtek ini digelar selama dua hari, Senin - Selasa (31 Juli - 1 Agustus), yang diikuti seluruh kepala SKPD hingga kepala desa dan lurah se-banyuwangi.

Tahapan penyusunannya antara lain analisis masa depan dan kesiapan pembangunan smart city, penentuan program prioritas, penentuan roadmap implementasi (5-10 tahun), hingga penyelesaian master plan smart city. “Jadi di akhir 2017 nanti, masterplan smart city harus sudah ready, dalam bentuk tiga buku. Yaitu Analisis strategis, Masterplan Smart City daerah serta executive Summary dan quickwin yang berisi program ikonik/ prioritas Banyuwangi,” urainya.

Sementara itu, Bupati Anas mengapresiasi kegiatan tersebut. “Ini merupakan apresiasi pemerintah pusat atas apa yang telah kami kerjakan di daerah,” kata bupati 43 tahun ini.

Anas juga menyampaikan, Banyuwangi telah merintis sederet program peningkatan pelayanan publik dalam kerangka smart city. ”Di Banyuwangi sebenarnya kami menyebutnya sebagai ”smart kampung” karena basis kami memang di desa yang sebelumnya mungkin tidak mengenal teknologi informasi,” kata bupati berusia 43 tahun itu.

Saat ini sebagian desa sudah menerapkan Smart Kampung, termasuk yang jauh dari pusat kota. Dengan Smart Kampung, kata Anas, secara bertahap administrasi cukup diselesaikan di desa. "Tapi tentu butuh TI karena yang berjalan adalah datanya, bukan orangnya. Sudah sekitar 60 desa teraliri fiber optic, kita targetkan 145 desa tersambung fiber optic pertengahan 2018,” papar Anas.

Banyuwangi juga mengembangkan e-village budgeting dan e-monitoring system untuk perencanaan hingga pelaporan di tingkat desa, yang terintegrasi dalam sebuah sistem. ”Selain itu kita juga telah meluncurkan Banyuwangi in Your Hand, sebuah aplikasi wisata. Ini cara yang kami lakukan untuk mempromosikan daerah lewat daring,” jelas Anas.

Selain infrastruktur yang terus dibenahi, lanjutnya, Banyuwangi juga konsisten meningkatkan kualitas SDM aparat desa. “Pelatihan internet marketing dan kewirausahaan bagi ribuan pemuda juga rutin kami gelar. Ini untuk membekali anak-anak muda menghadapi tantangan baru yang di jaman yang serba teknologi,” urainya. (*)