Wabup Yusuf Kunjungi Jossy

Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi memberi perhatian khusus kepada Dwi Jossy, bocah berusia 14 tahun yang dilahirkan tanpa memiliki alat kelamin dan anus. Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko mengunjungi kediaman Dwi Jossy, di Dusun Karangan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (1/8/2017).

Saat ditemui Wabup Yusuf di rumahnya, Jossy ditemani ibunya Sumarno, kakek dan neneknya. Jossy langsung mencium tangan Wabup Yusuf. "Semangat dan sehat ya Nak," kata Yusuf sambil menanyakan cita-citanya.

Jossy pun menjawab, "Pengen jadi dokter, Pak, biar orang lain sembuh dari sakitnya. Saya juga pengen sembuh."

Sontak ucapan Jossy membuat semua yang ada di ruangan tersebut berkaca-kaca, tak kuasa melihat semangat dan ketegarannya.

Terkait dengan penanganan Yosi, kataYusuf pihaknya akan terus mengawal Jossy sampai mendapatkan penanganan yang maksimal. Tak hanya itu, Pemkab Banyuwangi juga akan memberikan beasiswa. 

"Kita akan berupaya terus mendampingi, memantau kondisinya sampai siap dioperasi. Untuk biaya pendidikannya pun akan kami kawal hingga duduk di bangku kuliah, sesuai cita-citanya yang ingin jadi dokter. Bahkan untuk antisipasi agar tidak terjadi bully, wali kelasnya pun akan  melakukan pendampingan serta pemahaman kepada kawan-kawannya," beber Yusuf yang saat itu didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Puskesmas dan Camat Genteng

Ditambahkan Kepala Puskesmas Genteng, dr Yos Hermawan, sebelum dilakukan operasi, pihaknya akan terus melakukan pendampingan kesehatan dan gizi Yosi. Karena saat operasi nanti, dibutuhkan berat badan hingga 20 kilogram. Sebab saat ini kondisi berat badan Yosi masih berkisar 16 kilogram. 

"Sekarang berat badannya masih 16 kg. Kita terus dampingi sambil memberikan tambahan makanan bergizi Supaya berat badannya segara naik. Ini sebagai upaya persiapan menuju operasi yang direncanakan dilakukan di Surabaya," terang Yos. 

Namun kendalanya, kata Yos, terletak pada keinginan Yosi menjadi laki-laki. Karena selama ini proses untuk membuat alat kelamin laki-laki secara teknis cukup sulit. Biayanya juga besar. "Selain itu Jossy juga punya masalah komplikasi lainnya," jelas Yos.

Dwi Josi, siswi kelas VI SDN VI Genteng Kulon, Kecamatan Genteng ini dilahirkan tanpa memiliki alat kelamin dan anus. Meski  badannya terlihat lebih kecil dan kurus dibandingkan anak seusianya, Josi terlihat ceria seolah tak punya masalah apa-apa.

Sejak lahir, Josi tidak memiliki alat kelamin namun di akta kelahirannya tertulis jenis kelamin Jossy adalah perempuan. Di data sekolah pun, Josi tercatat sebagai siswa perempuan dan sehari-hari menggunakan pakaian perempuan.

Selama ini pihak keluarganya tidak mempermasalahkan hingga Jossy yang sudah berumur 14 tahun bercerita kepada ibunya jika ingin menjadi laki-laki. "Saya kaget saat anak saya bilang, Bu aku ini laki-laki. Di hadapan Allah juga harus laki-laki. Kalau operasi aku mau jadi laki-laki," tutur Sumarni (41), ibu Jossy menirukan anaknya.

Sumarni bercerita, ketika Josi masih bayi, dokter mengatakan jika anak keduanya bisa menjalankan operasi pembuatan kelamin perempuan. Sehingga akte yang tertulis adalah perempuan. Tapi seiring berjalannya waktu, fisik Jossy semakin terlihat seperti laki-laki. 

"Gurunya mau mengerti setelah mendengar penjelasan saya. Tadinya gurunya sama sekali tidak tahu kalau dia laki-laki. Mereka mau membantu memberikan pemahaman kepada teman-temannya supaya tidak salah paham," tambah perempuan yang berprofesi sebagai penjual kopi di Pasar Genteng tersebut.

Selama ini, untuk buang air besar dan buang air kecil, siswa kelas 6 SDN 6 Genteng tersebut melalui saluran pembuangan yang dibuat di perut sebelah kiri. Agar tidak mengganggu kegiatan sehari-hari, Jossy harus berganti diapers sampai 5 kali dalam sehari.

Jossy pernah menjalani operasi pembuatan saluran pembuangan di Surabaya saat masih berumur 1,5 tahun karena menunggu beratnya 5 kilogram. 

Selama 14 tahun itu, sang ibu terus memeriksakan anaknya ke Puskesmas untuk dipantau kesehatannya termasuk memantau berat badan Jossy. Agar tidak iritasi dan nyeri, setiap ganti diapers, Sumarni selalu mengolesi bagian usus anaknya yang terburai dengan cairan natrium clorida. (*)