Warga Desa Songgon Semarakkan Agustus dengan Lampion

BANYUWANGI - Bulan Agustus selalu menjadi bulan yang dinanti bagi warga negara Indonesia. Sebab perayaan hari Kemerdekaan Indonesia itu biasanya selalu ramai dengan berbagai lomba pembangkit semangat dan penuh nuansa kegotongroyongan.

Momen Agustusan inilah yang juga dimanfaatkan masyarakat Kecamatan Songgon, yang mempunyai cara sendiri untuk mengekspresikan kegembiraannya menyambut bulan Agustus. Tiap-tiap desa membuat dan memasang lampion. Lampion-lampion itu diletakkan  di depan rumah masing-masing warga.

Uniknya, bahan baku pembuatan lampion itu tidaklah mahal.  Bahkan sebagian di antaranya memanfaatkan limbah plastik yang ada di sekitar mereka. Mulai dari gelas plastik bekas air mineral yang dibentuk seperti bola dengan bagian tengah dipasangi bohlam,  hingga lampion berbahan baku  kertas minyak yang biasa digunakan untuk membuat layang-layang.

Seperti yang dilakukan salah seorang warga Desa Derwono, Adi Condro Negoro (25). Lampion Adi telah berdiri dengan penyangga tiang dari  bambu. Pemasangan itu dilakukannya bersama-sama warga lainnya sehari sebelum penanggalan di bulan Juli berubah ke  Agustus. Saat ditemui, Selasa (1/8), Adi tengah asyik melakukan finishing touch pada lampionnya. “Saya sedang merapikan bagian-bagian yang sedikit belum menempel sempurna,” ujarnya sambil  merekatkan isolasi pada  lampionnya yang terbuat dari kertas minyak berwarna merah putih. Lampion milik Adi yang bertuliskan 72 tahun – sesuai usia Indonesia merdeka - tersebut semakin melengkapi jumlah lampion yang dipasang di dusunnya. Total jumlah lampion yang dipasang di Desa Derwono ini  sebanyak 106 lampion. Sementara itu, Camat Songgon, Wagianto mengatakan, antusiasme warga untuk membuat dan memasang lampion ini sudah sejak lama dan menjadi tradisi setiap bulan Agustus menjelang. “Warga disini semuanya semangat-semangat. Lampion – lampion ini semuanya hasil buatan mereka yang diawali dari urun rembug bersama untuk menentukan desain yang dipilih. Untuk biaya pun mereka patungan sendiri, tiap rumah dikenai Rp 10 ribu, dan pemasangannya dilakukan bersama, sehingga menghasilkan ukuran tinggi tiang yang seragam,” terang Wagianto.

Wagianto menambahkan, bahkan di saat malam hari keberadaan lampion-lampion tersebut mempercantik sepanjang jalan yang dilalui. “Kalau berkunjung ke Songgon di malam hari, dijamin ada pemandangan menarik yang sayang kalau dilewatkan. Sepanjang jalan ini terlihat terang dan warna-warni. Itu pemandangan yang hanya bisa didapati saat bulan Agustus,” beber Wagianto.

Kecamatan Songgon sendiri memiliki 9 desa dan 50 dusun. Tak hanya meramaikan perayaan kemerdekaan dengan lampion, simbol-simbol lainnya seperti umbul-umbul dan gapura bertuliskan ucapan selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 yang terbuat dari bambu pun banyak terlihat. Ini sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. (*)