Jadi Best Practice Daerah Inklusif, Perkins International Gelar Lokakarya di Banyuwangi

Rabu, 3 Juni 2026


Banyuwangi – Komitmen Banyuwangi dalam mewujudkan pendidikan inklusif mendapat apresiasi dari lembaga pendidikan global, Perkins International.

Kali ini, lembaga pendidikan yang berpusat di Boston, Amerika Serikat tersebut menggelar lokakarya “Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif” di Banyuwangi, dan menggunakan daerah ini sebagai studi kasus penerapan daerah inklusif.

Lokakarya tersebut diikuti puluhan peserta lintas sektor dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah. Di antaranya Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Komisi Nasional Disabilitas. Hadir pula Dinas Pendidikan, Kesehatan, Sosial, hingga tenaga kesehatan puskesmas di Banyuwangi.

Direktur Program Perkins wilayah Asia Pasifik, Ami Tango Limketkai, menilai Banyuwangi memiliki komitmen luar biasa terhadap pelayanan yang inklusif. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas juga dinilai sangat solid.

“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki kepemimpinan yang benar-benar berpikiran inklusif dan terbuka terhadap perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya penyandang disabilitas. Lewat kegiatan ini, kami berharap Banyuwangi dapat menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” ujar Ami saat pembukaan Lokakarya di Aula Café & Resto Bale Saji, Kecamatan Kabat, Selasa (2/6/2026) malam. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi Perkins International dan Pemkab Banyuwangi telah berjalan cukup lama di sektor pendidikan. Selama ini, Perkins telah aktif mendukung Banyuwangi melalui berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan orang tua anak penyandang disabilitas. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama mewujudkan daerah ramah disabilitas.

Kerja sama antara Banyuwangi dan Perkins International juga melahirkan program Sekolah Model. Sebanyak 170 guru SLB telah mendapatkan pelatihan mengenai strategi pengajaran, manajemen kelas, penanganan autis, bahasa isyarat, hingga pelatihan dasar fisioterapi.

Kali ini, Perkins menggelar lokakarya yang melibatkan puluhan peserta nasional. Lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 3-4 Juni 2026, itu bertujuan menyelaraskan prioritas nasional dan daerah, serta merumuskan strategi peningkatan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini yang inklusif.

“Kami hadirkan berbagai sektor untuk bekerja sama dengan fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan anak usia dini, serta dukungan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Dalam hal ini kami menjadikan Banyuwangi sebagai studi kasus praktik baiknya,” kata Ami.

Lokakarya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai diskusi hingga observasi ke sejumlah sekolah model dan puskesmas.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Bagi Ipuk, menjadi sebuah kehormatan bagi Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah sekaligus objek studi kasus lokakarya Perkins International.

“Kami senang Perkins menggelar kegiatan ini di Banyuwangi. Kami sangat mendukung dan siap menjadi living lab untuk kegiatan ini.  Semoga lancar, dan bisa menghasilkan rencana aksi yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pengembangan anak usia dini di tingkat nasional maupun daerah, khususnya Banyuwangi,” ujar Ipuk.

Banyuwangi, kata Ipuk, terus berupaya mewujudkan daerah yang ramah dan nyaman bagi semua warga, termasuk anak-anak dan kaum disabilitas. Salah satunya, menerapkan program sekolah inklusi yang mewajibkan seluruh sekolah untuk menerima siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, Banyuwangi juga menggelar banyak kegiatan yang menjadi ruang berekspresi anak-anak disabilitas, salah satunya festival Kita Bisa.

“Kami juga mengoptimalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai jembatan utama identifikasi dini, pemeriksaan, hingga sistem rujukan bagi penyandang disabilitas,” pungkasnya. (*)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :