Pimpinan 7 PTS Bantah Tolak UNAIR

Senin, 24 Februari 2014


BANYUWANGI – Sebanyak tujuh pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) di Banyuwangi melakukan pertemuan dengan pihak Pemkab yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Sulihtiyono dan Sekretaris Dinas Pendidikan Dwiyanto  di Dinas Pendidikan, Minggu (23/2). Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengklarifikasi terkait adanya surat penolakan kehadiran Universitas Airlangga (UNAIR) di Banyuwangi dengan mengatasnamakan PTS se Banyuwangi.

Hadir dalam pertemuan tersebut Direktur AKABA  Andi Dahlan Sadli, Ketua STIKOM Khoirul Anam, Ketua STIKES Soekarjo, Ketua Staida Abdul Choliq Syafaat, Ketua STAIN Ibrahimy Mohammad Hasyim, Ketua STAIDU Abdur Rouf  dan ketua Akademi Kesehatan Rustida, Dr. Anis Liastutik.

Mewakili ketujuh pimpinan PTS lainnya, Abdul Kholid Syafaat mengatakan, kehadirannya bersama rekan tersebut untuk meluruskan penolakan berdirinya UNAIR yang mengatasnamakan  PTS di Banyuwangi. Kata Kholid, pertemuan yang dihadiri pimpinan 12 PTS se Banyuwangi untuk membahas berdirinya UNAIR, pada Sabtu (15/2) lalu tidak  ada kesimpulan penolakan. Pertemuan itu pada intinya ingin meminta klarifikasi pada Rektor UNAIR dan Pemkab mengenai berdirinya UNAIR.  “Pada pertemuan itu yang dikedepankan adalah semangat untuk klarifikasi, bukan penolakan,” tutur Kholid.

Adanya surat somasi atau penolakan mengatasnamakan PTS se Banyuwangi, lanjut Kholid, dirasa kurang pas. Diakuinya, memang ada sebagian PTS yang menganggap kehadiran UNAIR dapat mengurangi kuota mahasiswa. Namun anggapan tersebut menurut Kholid muncul karena belum adanya kepahaman yang benar tentang hadirnya UNAIR. Padahal, imbuh Kholid kehadiran UNAIR dapat menunjang kemajuan pendidikan di BAnyuwangi. “Karena itu kami ingin Pemkab secepatnya melakukan diskusi dan klarifikasi dengan seluruh PTS agar bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Kholid.

Sementara itu, Asmin Sulihtiyono mengatakan akan segera mengundang  pimpinan PTS se Banyuwangi  untuk memberi pemahaman seputar berdirinya UNAIR. Mantan Kepala Dinas Pendidikan itu yakin tidak akan ada lagi keberatan jika semua sudah paham. “Kehadiran UNAIR akan membawa banyak dampak positif bagi pendidikan Banyuwangi. Banyak mahasiswa dari luar daerah yang akan memperhitungkan Banyuwangi sebagai tempat pendidikan, yang berimbas juga ke PTS. Guru-guru besar UNAIR yang ditempatkan di Banyuwangi bisa menularkan ilmunya ke PTS, jika pagi mengajar di UNAIR maka malam bisa mengajar di PTS,” kata Sulihtiyono.

Selain itu seleksi masuk UNAIR melalui seleksi  bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) yang diikuti calon mahasiswa secara nasional, belum tentu mahasiswa Banyuwangi bisa lolos. Jadi tidak akan mengurangi kuota mahasiswa PTS yang masuk lewat jalur reguler. “Mudah-mudahan setelah pertemuan nanti akan jelas dan semua bisa memahami,” harap Sulihtiyono. (Humas Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :