Luas wilayah : 5.782,50 km2 merupakan daerah kawasan hutan.
area kawasan hutan ini mencapai 183.396,34 ha atau sekitar 31,72%,
persawahan sekitar 66.152 ha atau 11,44%,
perkebunan dengan luas sekitar 82.143,63 ha atau 14,21%,
permukiman dengan luas sekitar 127.454,22 ha atau 22,04%.
sisanya dipergunakan untuk jalan, ladang dan lain-lainnya.
Panjang garis pantai : sekitar 175,8 km,
Jumlah Pulau : 10 buah.
Letak geografis : di ujung timur Pulau Jawa. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang merupakan daerah penghasil produk perkebunan; dan dataran rendah dengan berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut.
Batas wilayah : sebelah utara adalah Kabupaten Situbondo,
sebelah timur adalah Selat Bali,
sebelah selatan adalah Samudera Indonesia dan
sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jember dan Bondowoso.
Batas koordinat : 7° 43’ — 8° 46’ Lintang Selatan dan 113° 53’ — 114° 38’ Bujur Timur.
Topografi : Bagian barat dan utara pada umumnya merupakan pegunungan, dan bagian selatan sebagian besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah bagian barat dan utara 40°, dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian wilayah lainnya.

Daratan yang datar sebagian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 15°, dengan rata-rata curah hujan cukup memadai sehingga bisa menambah tingkat kesuburan tanah.

Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan hingga utara dimana di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga disamping dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif terhadap tingkat kesuburan tanah.

Disamping potensi di bidang pertanian, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah produksi tanaman perkebunan dan kehutanan, serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah penghasil ternak yang merupakan sumber pertumbuhan baru perekonomian rakyat.

Dengan bentangan pantai yang cukup panjang, dalam perspektif ke depan, pengembangan sumberdaya kelautan dapat dilakukan dengan berbagai upaya intensifikasi dan diversifikasi pengelolaan kawasan pantai dan wilayah perairan laut.

Penentuan batas wilayah : Didasarkan atas beberapa dokumen penting antara lain:
  • Java resn Besoeki 1924  Blad : XCIII C Topografische Inrinchiting, Batavia 1924, Pengukuran tahun 1917 — 1918 dan 1922 Penggambaran tahun 1922 Skala 1:50.000;
  • Java resn Besoeki 1924  Blad : XCIV A Topografische Inrinchiting, Batavia 1925, Pengukuran tahun 1920 dan 1922, Penggambaran tahun 1922-1923, Skala 1:50.000;
  • Java resn Besoeki 1924  Blad : LXXXVIII B (Alg. No.XLIII-58B)  Topografische Inrinchiting, Batavia 1925, Pengukuran tahun 1917 — 1918, Penggambaran tahun 1922, Skala 1:50.000;
  • Lambang Resmi Kabupaten Banyuwangi.
Bulan Jumlah Curah Hujan (mm)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 181.6 340.1 527.5 216.6 150.1 116.1 244.0 474.3 236.4
Februari 103.3 134.1 100.2 227.3 202.7 238.5 224.8 276.0 81.9
Maret 139.6 94.7 193.1 28.3 225.9 66.9 121.1 161.9 210.8
April 144.3 53.3 228.8 127.0 84.3 48.7 83.7 28.9 239.5
Mei 107.1 87.1 97.3 19.4 87.1 100.0 150.9 5.9 26.1
Juni 24.8 15.3 122.8 16.9 58.8 172.7 173.2 33.1 15.5
Juli 41.8 35.8 156.0 136.1 TTU 81.9 118.4 68.5 0
Agustus 8.0 10.7 37.3 24.3 14.9 145.1 48.2 69.4 6.80
September 4.0 11.5 6.9 TTU 0.8 22.8 9.3 9.0 29.7
Oktober 40.8 6.3 0.8 36.5 TTU 76.7 113.2 0.7 0
November 104.3 79.6 237.6 91.5 TTU 121.7 192.5 239.2 2.8
Desember 195.5 156.4 160.3 172.8 148.2 255.7 276.6 97.6 11.8

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Bulan Jumlah Curah Hujan (hari)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 27 21 25 21 15 10 27 23 26
Februari 17 18 14 21 13 15 11 20 17
Maret 17 19 19 12 12 6 15 12 20
April 18 7 16 16 9 5 17 9 20
Mei 17 14 16 10 5 7 12 5 14
Juni 12 6 18 9 5 9 13 10 4
Juli 12 7 18 12 0 6 16 9 -
Agustus 3 6 6 6 5 10 7 17 3
September 1 4 4 1 0 5 7 4 4
Oktober 7 3 4 2 0 8 8 5 -
November 14 8 21 9 0 9 19 13 3
Desember 20 22 21 20 15 21 25 18 9

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Bulan Kelembaban (%)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 85 87 86 80 87 76 81 83 80
Februari 84 84 81 82 88 84 76 79 76
Maret 84 81 82 76 80 76 77 73 79
April 85 79 83 78 83 76 75 71 78
Mei 84 83 84 72 79 78 77 75 77
Juni 82 82 86 75 81 76 83 78 78
Juli 82 83 82 80 80 78 82 76 78
Agustus 80 77 78 78 80 76 80 78 76
September 80 78 77 75 78 74 79 72 77
Oktober 80 78 75 73 77 73 78 69 72
November 82 78 82 73 72 80 80 74 72
Desember 78 83 83 79 77 79 81 74 71

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Bulan Rata-rata suhu bulanan (°C)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 26.9 26 26.7 27.4 27.6 28.7 27.4 27.6 28.0
Februari 27.4 27.1 27.7 27.0 27.6 27.4 28.1 27.6 28.4
Maret 27.0 27.5 27.4 28.0 27.5 28.0 28.0 28.5 28.0
April 27.3 28.2 24.8 28.0 27.4 29.0 28.6 29.5 28.6
Mei 27.3 27.0 27.5 28.5 27.2 28.8 28.2 28.1 28.1
Juni 26.1 26.1 27.0 27.4 26.5 28.2 26.9 27.0 26.5
Juli 25.8 25.5 26.1 26.2 25.6 27.5 26.1 26.2 25.7
Agustus 25.7 25.5 26.0 26.3 25.6 27.2 26.1 25.7 25.8
September 26.3 26.3 26.3 26.2 26.3 28.5 27.1 27.1 26.2
Oktober 26.4 27.8 28.2 27.8 27.6 29.0 28.3 28.8 27.7
November 27.7 27.5 27.4 29.2 29.6 29.1 27.9 29.2 28.7
Desember 28.2 27.5 27.2 27.9 28.7 27.9 27.7 29.2 29.6

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Bulan Suhu Maksimum Kabupaten Banyuwangi (°C)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 22.8 23 23.2 23.5 22.7 24 23.2 23.2 23.4
Februari 23.2 22.6 23.4 22.2 22.8 23.8 23.2 22.6 21.3
Maret 22.8 23 22 22.8 22.4 24.4 23.4 24.1 22.6
April 22.8 22.2 22.8 22 21 24.4 22.5 23.4 23.6
Mei 22.6 23.2 23.2 23 21.4 23.8 23.4 22.6 23.2
Juni 20.2 21.4 22 22.8 19.6 23.4 22.9 22.4 21
Juli 20 21.4 22 20.8 22.6 21 22.8 20.8 20.8
Agustus 20.8 18.6 20.4 20.6 20.5 21 21.8 21 21.5
September 22 21.4 21 20.2 21.2 23 19.2 21.7 21.4
Oktober 22 22.6 23.4 20.2 22.6 23.8 22.5 23 21.4
November 22.4 22 23 23.4 23.8 24 21 23 23.4
Desember 23 23.6 21.8 23 24.8 23 21.4 23.6 24

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Bulan Tekanan Udara (mb)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 1007.1 1008.1 1008.7 1010.4 1009.9 1010.3 1008.6 1007.1 1009.4
Februari 1007.6 1009.1 1008.3 1009.7 1009.6 1009.9 1009.3 1009.6 1011.3
Maret 1007.9 1008.6 1010.2 1011.3 1010.3 1010.1 1009.7 1009.1 1010.0
April 1009.4 1011.3 1004.2 1010.8 1009.3 1009.8 1010.3 1010.0 1010.1
Mei 1010.3 1011.3 1010.2 1011.5 1011.3 1009.5 1011.3 1011.2 1011.9
Juni 1011.7 1012.7 1009.2 1011.6 1011.8 1010.4 1012.1 1012.5 1012.3
Juli 1011.8 1013.1 1011.5 1013.5 1012.6 1010.3 1012.6 1012.6 1013.5
Agustus 1012.4 1013.3 1012.8 1014.2 1012.9 1010.6 1012.5 1013.3 1013.9
September 1012.6 1012.7 1012.8 1014.6 1013.1 1010.1 1012.7 1013.2 1014.4
Oktober 1010.8 1011.1 1012.4 1013.0 1012.6 1009.2 1011.2 1012.7 1012.1
November 1008.9 1010.0 1009.5 1009.5 1009.7 1008.9 1008.3 1010.9 1011.3
Desember 1008.6 1008.5 1008.8 1009.4 1009.7 1007.9 1008.7 1009.3 1009.7
Bulan Penyinaran Matahari (%)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Januari 44 38 45 57 55 71 44 38 53
Februari 53 69 71 56 73 49 68 59 65
Maret 56 50 72 87 67 81 68 72 58
April 61 93 67 86 61 76 81 94 81
Mei 75 73 70 98 87 83 75 86 93
Juni 83 81 58 85 81 79 76 75 81
Juli 92 72 60 70 90 76 62 76 84
Agustus 88 90 87 93 83 80 91 68 87
September 86 95 96 98 97 95 101 91 94
Oktober 88 95 99 99 98 76 97 99 99
November 75 92 67 83 92 73 58 80 94
Desember 65 58 61 57 57 41 45 47 83

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banyuwangi

Kondisi geologi setiap wilayah bervariasi, serta memiliki peran bagi terbentuknya suatu bentukan lahan di wilayah tersebut. Jenis Tanah di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan strukturg eologi terdapat berbagai susunan/struktur geologi seperti pada tabel dan grafik di bawah ini:

Strukktur Geologi Luas
Ha %
Hasil Gunung Api kwarter muda 170,310.5 29.5
Aluvium 134,525.0 23.3
Miosen falses semen 89,177.3 15.4
Miosen falses batu gamping 77,536.5 13.4
Hasil Gunung Api kwarter tua 59,283.0 10.3
Andesit 47,417.8 8.2

Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012-2032


Berdasarkan struktur geologi, luas tanah di Kabupaten Banyuwangi sebagian besar merupakan hasil Gunung Api Kwarter Muda (30%) dan Aluvium (23%) yang berupa tanah liat, halus dan dapat menampung air hujan sehingga cocok untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Struktur geologi lainnya adalah Miosen falses semen 16%, Miosen falses batu gamping 13%, hasil Gunung Api Kwarter tua dengan luas 10% dan struktur geologi Andesit merupakan struktur geologi terendah di Kabupaten Banyuwangi dengan luas hanya sebesar 8%. Gambar dibawah ini adalah jenis-jenis struktur geologi yang ada di Kabupaten Banyuwangi:

Adapun keadaan jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari regosol, litosol, latosol, podsolik dan gambut. Jenis tanas untuk Kabuapten Banyuwangi terluas adalah jenis tanah Podsolik dengan luas 348,684.75 Ha atau 60.4% dari luas area Kabupaten Banyuwangi, jenis tanah Regosol 24%, Lithosol 6.8%, Gambut 6.5% dan jenis tanah Lathosol hanaya 2.4% dari luas area di Kabupaten Banyuwangi. Jenis Tanah ini dapat terlihat pada tabel dan grafik berikut :

Strukktur Geologi Luas
Ha %
Podsolik 348,684.8 60.4
Aluvium 138,490.9 24
Lithosol 39,031.9 6.8
Gambut 37,433.7 6.5
Lathosol 14,109.3 2.4
Andesit 47,417.8 8.2

Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012-2032

Daerah di Banyuwangi memiliki jenis tanah yang berbeda-beda diantaranya:

  1. Tanah regosol yang terdapat pada wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Glagah, Songgon, Glenmore, Gambiran, Bangorejo, Cluring, Muncar, Purwoharjo dan Tegaldlimo.
  2. Tanah lithosol yang terdapat pada wilayah Kecamatan Kalibaru, Glenmore dan Pesanggaran.
  3. Tanah lathosol yang terdapat pada wilayah Kecamatan Purwoharjo dan Tegaldlimo.
  4. Tanah podsolik yang hampir terdapat pada seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi kecuali wilayah Kecamatan Cluring, Purwoharjo dan Muncar hanya sebagian kecil terdapat tanah podsolik.

KLIMATOLOGI Kabupaten Banyuwangi terletak di selatan equator yang dikelilingi oleh Laut Jawa, Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan iklim tropis yang terbagi menjadi 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau.

1. Rata-rata curah hujan selama tahun 2018 mencapai 122 mm. Curah hujan terendah terjadi pada Bulan Oktober sebesar 0,7 mm, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Januari sebesar 474.3 mm

2. Persentase rata-rata penyinaran matahari pada tahun 2018 sebesar 73.8%. Rata-rata penyinaran matahari terendah terjadi pada bulan Januari sebesar 38% dan tertinggi pada Bulan September dan Oktober sebesar 99%

3. Rata-rata kelembaban udara pada tahun 2018 sebesar 75,2 %. Kelembaban terendah terjadi pada Bulan Oktober dengan rata-rata kelembaban udara sebesar 69 %.Sebaliknya kelembaban tertinggi terjadi pada Bulan Januari dengan besaran 83 %.

4. Rata-rata suhu udara pada tahun 2018 sebesar 27,9 derajat celsius. Suhu udara terendah terjadi pada Bulan Juli dan Agustus 2018 sebesar 25,7 derajat celcius dan yang tertinggi pada Bulan April sebesar 29,5 derajat celcius.

Kabupaten Banyuwangi hingga saat ini terus gencar melakukan pembenahan dalam hal pembangunan daerah. Pembangunan dilakukan diberbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pariwisata, pertanian, UMKM, serta infrastruktur. Pembangunan di bidang infrastruktur menjadikan aksesabilitas antar daerah ke Banyuwangi menjadi lebih mudah dan singkat dengan dibangunnya Bandara. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus diperbaiki. Sejak tahun 2012 pemeriksaan laporan keuangan Pemda Banyuwangi masuk dalam opini wajar tanpa pengecualian. Image Banyuwangi yang sebelumnya dikenal sebagai Kota Santet pun saat ini telah berubah menjadi Kota Wisata, hal ini diperkuat dengan penghargaan UNWTO yang telah diterima oleh Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa tahun terakhir Kabupaten Banyuwangi telah menjadikan Pariwisata sebagai leading sector dalam pembangunan daerah. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan secara pesat setiap tahunnya. Kunjungan wisatawan domestik 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 711%, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara meningkat sebesar 499%.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Dari tahun ke tahun Banyuwangi telah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia sebagai bukti pembangunan di Banyuwangi tidak hanya berdampak pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi tetapi juga berhasil meningkatkan Indeks pembangunan Manusia di Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2018 IPM Kabupaten Banyuwangi 70,06 sedangkan pada tahun 2019 Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 70,37*, dan Kabupaten banyuwangi berhasil melampaui target IPM yang semula 70,03.

No Indikator Tahun Satuan Data Sumber Data
2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 Indeks Pembangunan Manusia 67.31 68.08 69.00 69.64 70.06 70.37 (*) Badan Pusat Statistik
2 Indeks Daya Beli 0.71 0.72 0.74 0.74 0.75 0.76 (*) Badan Pusat Statistik
3 Indeks Kesehatan 0.77 0.77 0.77 0.77 0.77 0.78 (*) Badan Pusat Statistik
4 Indeks Pendidikan 0.56 0.57 0.58 0.59 0.59 0.60 (*) Badan Pusat Statistik
5 Pengeluaran per Kapita per Tahun 10,379,000 10,692,000 11,171,000 11,438,000 11,828,000 12,117,000 RP Badan Pusat Statistik
6 Angka Harapan Hidup 69.93 70.03 70.11 70.19 70.34 70.406 (*) Tahun Badan Pusat Statistik
7 Rata-Rata Lama Sekolah (MYS) 6.87 6.88 6.93 7.11 7.12 7.13 (*) Tahun Badan Pusat Statistik
8 Angka Harapan Lama Sekolah (EYS) 11.81 12.20 12.55 12.68 12.69 13.15 (*) Tahun Badan Pusat Statistik
9 Indeks Pembangunan Gender 85.06 86.01 n/a 86.20 86.44 Badan Pusat Statistik

SEJARAH BANYUWANGI

Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

LEGENDA ASAL USUL BANYUWANGI

Konon, dahulu kala wilayah ujung timur Pulau Jawa yang alamnya begitu indah ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahannya ia dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani, arif, tampan bernama Patih Sidopekso. Istri Patih Sidopekso yang bernama Sri Tanjung sangatlah elok parasnya, halus budi bahasanya sehingga membuat sang Raja tergila- gila padanya.

Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka muncullah akal liciknya dengan memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Maka dengan tegas dan gagah berani, tanpa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja. Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, sikap tak senonoh Prabu Sulahkromo dengan merayu dan memfitnah Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukanya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian dan Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya. Berang dan panas membara hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung.

Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Akal busuk Sang Raja muncul, memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa sepeninggal Sang Patih pada saat menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja.

Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasan.

Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah dan bahkan Sang Patih dengan berangnya mengancam akan membunuh istri setianya itu. Diseretlah Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya, sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh dan agar jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu, apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.

Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia    menjerit "Banyu..... ... wangi............... . Banyu    wangi ... .." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri    pada suaminya.

DAFTAR BUPATI BANYUWANGI

R.Oesman Soemodinoto

Periode : 1942 - 1947

R. Soegito Noto Soegito

Periode : 1955 - 1965

R.Oesman Soemodinoto

Periode : 1942 - 1947

R. Soegito Noto Soegito

Periode : 1955 - 1965

Djoko Supaat Slamet

Periode : 1966 - 1978

Djoko Supaat Slamet

Periode : 1966 - 1978

Susilo Suhartono, SH

Periode : 1978 - 1983

Susilo Suhartono, SH

Periode : 1978 - 1983

S. Djoko Wasito

Periode : 1983 - 1988

S. Djoko Wasito

Periode : 1983 - 1988

Harwin Wasisto

Periode : 1988 - 1991

Harwin Wasisto

Periode : 1988 - 1991

H. Turyono Purnomo Sidik

Periode : 1991 - 2000

HH. Turyono Purnomo Sidik

Periode : 1991 - 2000

Ir. H. Samsul Hadi

Periode : 2000 - 2005

Ir. H. Samsul Hadi

Periode : 2000 - 2005

Ratna Ani Lestari, SE. MM.

Periode : 2005 - 2010

Ratna Ani Lestari, SE. MM.

Periode : 2005 - 2010

Abdullah Azwar Anas, M.Si.

Periode : 2010 - 2015, 2016 - kini

Abdullah Azwar Anas, M.Si.

Periode : 2010 - 2015, 2016 - kini