ANGKA KEMATIAN

Presentase Angka Kematian Ibu (AKB)
per 100000 kelahiran hidup

Kesehatan masyarakat merupakan hal mutlak untuk diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Beberapa cara untuk melihat tingkat kesehatan masyarakat adalah melalui Angka kematian Bayi (AKB), Ibu melahirkan dan Angka Usia Harapan Hidup.

Angka kematian bayi di Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2010-2014 memiliki nilai yang fluktuatif.Pada tahun 2010 sebesar 7.2 dari 1000 kelahiran hidup.Pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 6.71 dari 1000 kelahiran hidup.

Namun AKB kembali naik cukup signifikan di tahun 2012 hingga mencapai angka 9.3 kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2013, AKB kembali turun menjadi 8.2 kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup. AKB kembali turun cukup signifikan yaitu 6.09 di tahun 2014 dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2015 yakni menjadi 6.82 dari 1000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2016 AKB mengalami penurunan menjadi 5.5 kematian bayi dari 1000 kelahiran hidup, ini artinya pelaksanaan pelayanan kesehatan di kabupaten Banyuwangi memenuhi target yang telah dilaksanakan.

Berbeda dengan AKB yang mencapai nilai tertingginya pada tahun 2012, Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) justru mencapai angka tertinggi pada tahun 2013 yang mencapai 142.1 kematian ibu melahirkan dari 100000 kelahiran hidup.

Namun angka tersebut sudah berhasil turun kembali di tahun 2014Pada tahun 2014 AKI sebesar 93.08 dari 100000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2015 ada kenaikan sebesar 3.22 % yakni 96.2 dari 100000 kelahiran hidup.

Dan pada tahun 2016 kembali turun menjadi 87.3 per 100000 kelahiran hidup.


Presentase Angka Balita Gizi Buruk (%)

Kondisi Balita yang mengalami gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi cenderung mengalami penurunan, pada tahun 2012 angka balita dengan gizi buruk sebesar 1.1%, kemudian menurun di tahun 2013 menjadi 1% dan terus menurun di tahun 2014 dan tahun 2015,yakni berturut-turut hanya 0.95% dan 0.64% balita dengan gizi buruk.

Keadaan ini berpengaruh pada masih tingginya angka kematian bayi.Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.Perawatan gizi buruk dilaksanakan melalui rawat inap dan rawat jalan.Anak gizi buruk disertai komplikasi penyakit dirawat di Puskesmas Perawatan / TF (Therapeutic Feeding Center) atau Rumah Sakit Pemerintah atau Rumah Sakit Swasta. Sedangkan anak gizi buruk tanpa komplikasi dapat dirawat jalan Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara.

Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Usia Harapan Hidup

Usia harapan hidup di Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2010-2015 sudah cukup baik karena cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya walaupun kenaikan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2011. Dari yang sebelumnya 69.61 tahun pada tahun 2010 menjadi 69.7 tahun pada tahun 2011.

Pada tahun 2012 angka harapan hidup naik menjadi 69.79, angka usia harapan hidup kembali naik menjadi 69.88 tahun pada tahun 2013.

Usia harapan hidup juga kembali naik pada tahun 2014 menjadi 69.93 tahun, dan meningkat lagi menjadi 70.03 pada tahun 2015. Hal ini mengindikasikan Kabupaten Banyuwangi telah berhasil meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi mempengaruhi usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Banyuwangi.


ANGKA KESAKITAN

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) dari suatu penyakit yang terjadi pada populasi dalam kurun waktu tertentu.Morbiditas berhubungan dengan terjadinya penyakit di dalam populasi, baik fatal maupun non fatal. Angka Morbiditas lebih cepat menentukan keadaan kesehatan masyarakat daripada angka mortalitas, karena banyak penyakit yang mempengaruhi kesehatan hanya mempunyai mortalitas yang rendah (Depkes, RI 2009) Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda ( double burden).

Di satu sisi masih dihadapi masih tingginya penyakit infeksi (baik remerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun di sisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktifitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Acute Flaccid Paralysis (AFP).
    Pada Tahun 2015, di Banyuwangi ditemukan 0,54% per 100.000 penduduk <15 tahun. Dengan jumlah penduduk <15 tahun sebanyak 369.066 jiwa. Di tahun yang sama jumlah kasus difetri sebanyak 4 kasus, CFR (Crude Fatality Rate) sebesar 0%, ini artinya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan semakin meningkat.
  • TB Paru.
    Pada Tahun 2015, terdapat sebanyak 832 kasus TB Paru BTA (+), Penderita TB terbanyak terdapat pada kecamatan Kecamatan Banyuwangi sebanyak 215 kasus, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Siliragung dengan ditemukan 21 kasus.
  • Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
    Jumlah bayi perkiraan penderita Pneumonia di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 yakni 5.217 balita dan 71.07 % ditemukan dan ditangani.
  • HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS).
    Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah salah satu pintu terjadinya penularan HIV. Selama tahun 2015 di Kabupaten Banyuwangi dilaporkan sebanyak 417 kasus HIV yang ditemukan dan semuanya ditangani, sedangkan kasus AIDS dilaporkan sebanyak 196 kasus dan 31 jiwa meninggal karena AIDS.