100 Anak Binaan Forum Anak Banyuwangi Buka Bersama di Taman Blambangan

Selasa, 23 Juli 2013


FAB Baurkan Anak Jalanan, Anak Logam, ABK, anggota PIK remaja, anak yatim dan ABH.

BANYUWANGI – Ada sekitar 100 anak tampak berlarian gembira di sudut sebelah timur Taman Blambangan. Mereka terlihat larut dalam permainan yang mengasah kekompakan masing-masing kelompok. Salah satunya game si buta  mencari bola, dimana salah seorang anggota kelompok ditutup matanya, kemudian rekan-rekannya yang lain memberi petunjuk lewat teriakan-teriakan agar dia bisa tepat mendapatkan bola yang disebar di beberapa titik. Tak jauh di sebelahnya, kelompok yang lain juga melakukan hal serupa. Mereka berkompetisi untuk mendapatkan bola terbanyak.

Sementara di sisi yang lain, beberapa anak  memenuhi dua mobil perpustakaan keliling dan asyik mencari-cari buku yang menarik baginya. Begitu buku yang diharapkan telah di tangan, mereka bergegas mencari tempat baca yang dirasa nyaman. Pemandangan tersebut mewarnai kegiatan berbagi rasa dan buka bersama yang digelar Forum Anak Banyuwangi (FAB), Selasa (23/7). Forum bentukan Badan Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana (BPP&KB) tersebut bahkan melibatkan beberapa anak dari berbagai kalangan untuk bertemu dan saling sharing, antara lain anak logam, anak jalanan, anak berkebutuhan khusus (ABK), anggota Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja serta anak yatim. Mereka juga berbagi dengan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Hanya saja para ABH yang di Banyuwangi berjumlah 43 orang itu tak dapat bergabung dengan mereka di Taman Blambangan, melainkan hanya dikunjungi di  lembaga pemasyarakatan (lapas) untuk sekedar berbagi ta'jil.

Menurut Ketua FAB Oya Ismadona, kegiatan yang dikemas dengan santai semacam ini rutin dilakukan setiap tahun. “Kami selalu mengemasnya dengan konsep study bond, yakni belajar sambil bermain. Berbagai permainan yang mengasah kekompakan dan konsentrasi dimainkan, di samping itu mereka juga bebas membaca-baca buku untuk menambah wawasan lewat perpustakaan keliling yang sengaja kami ‘booking’. Ini cara kami ngabuburit (menunggu buka puasa - red),”tutur siswi kelas XI SMAN 1 Glagah ini.  Adanya pertemuan di antara anak-anak yang spesial tersebut, terang Oya, sangat berguna untuk membangun kepercayaan diri satu sama lain. “Mereka saling men – support. Sebab permasalahan yang mereka alami bermacam-macam. Ada yang putus sekolah, ada yang minder karena cacat, dan sebagainya. “Coba lihat”, tunjuk Oya ke arah anak-anak yang sedang bermain, “mereka tampak akrab membaur, padahal ada beberapa di antara mereka yang baru pertama kali bertemu,”jelas Oya yang pernah dikirim mewakili Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti Kongres Anak Nasional di Kota Batu Malang dan Bandung ini.

Sebagai pengurus FAB, Oya dan rekan-rekannya yang berjumlah 30 orang berharap, melalui forum ini keadaan anak-anak tersebut bisa dimengerti oleh orang lain. “Kami ingin selalu ada untuk menampung aspirasi mereka, dan memastikan apakah hak-hak dasar mereka sudah terpenuhi atau belum,”kata Oya.  FAB sejak dibentuk bulan Juni 2009 memang didirikan untuk mendukung terciptanya Kabupaten Layak Anak (KLA). KLA adalah sistem pembangunan Kabupaten/Kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat, keluarga dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam bentuk kebijakan, program dan kegiatan untuk pemenuhan hak - hak anak. Hak-hak dasar anak ada 4, yaitu hak hidup, bertumbuh kembang, perlindungan  dan partisipasi.

Dalam kegiatan itu, salah satu anak yang terlihat enjoy adalah Firman Hardiansyah. Firman adalah anak yatim asal Desa Bakungan. Siswa kelas dua SD tersebut serius menyimak buku bacaannya. Dia mengaku lebih suka membaca ketimbang bermain. “Kalau puasa saya gampang capek, jadi saya pilih membaca aja,”ungkap Firman malu-malu. Dia mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Tapi Firman merasa senang karena bisa bertemu dengan kawan-kawan baru. Lain Firman lain Rosa. Anak berkebutuhan khusus yang cacat di bagian tangan dan kaki ini sangat bersemangat mengikuti setiap permainan. Dia tidak melewatkan satu pun game yang dimainkan, bahkan acapkali menjadi penyemangat bagi anggota timnya. Dengan spiritnya yang pantang menyerah itu, tak heran si tomboy ini mendapat julukan ketua Gank dari rekan-rekannya. “Seru nih, teman-teman mainnya jago semua,” teriak Rosa yang punya nama asli  Laros Setya Wati.

Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Anak Nasional tahun 2013 ini juga menggandeng Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) sebagai lembaga yang eksis memberikan perlindungan pada perempuan dan anak. Menjelang berbuka, mereka beramai-ramai turun ke jalan untuk membagikan ta’jil gratis kepada para pengguna jalan, dilanjutkan dengan menikmati sajian buka puasa bersama begitu adzan maghrib berkumandang. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :