Festival Kawitan Banyuwangi Padukan Modernitas dan Etnik Lewat Jazz Patrol

Selasa, 19 September 2017


BANYUWANGI - Berbagai festival yang digelar oleh Banyuwangi telah memunculkan gairah warga untuk mengangkat potensi yang dimilikinya. Salah satunya warga Kampung Temenggungan Banyuwangi yang menggelar Festival Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) di depan Pendopo Sabha Swagata, Senin malam (18/9) . Di even ini warga setempat menampilkan beragam atraksi mulai kesenian tradisional sampai konser Jazz Patrol yang berkolaborasi dengan musisi nasional maupun international.

Irama musik jazz yang rancak mengalun di atas panggung Festival Kawitan Temenggungan. Perpaduan suara musik tradisional dari permainan patrol, yakni alat musik yang terbuat dari bambu berpadu apik dengan alat musik modern. Ditambah tiupan seruling dan tabuhan kendang yang dimainkan oleh Aron Djembe Fola, musisi asal Amerika Serikat membuat sajian musik jazz yang disajikan begitu unik dan memikat. Lagu khas daerah seperti Kelangan, Langit Lan Bumi, Lir Pedhote Banyu yang dibawakan oleh penyanyi lokal tampil dengan nuansa yang berbeda.

Tidak hanya Jazz Patrol, warga Temenggungan juga menampilkan drama teatrikal Sritanjung dan Sidopekso yang merupakan cerita legenda Asal mula Banyuwangi. Anak anak muda membawakan kisah asal mula Banyuwangi itu secara apik. Festival juga menampilkan Tari Gandrung dan permainan musik solo dari Ali Gardy yang membawakan alat musik etnik dawai khas Dayak.

Temenggungan merupakan salah satu kampung di Kota Banyuwangi yang dulunya merupakan kampung pertama yang dibangun saat dipindahkannya pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dari Ulupampang, Muncar pada era Bupati Mas Alit tahun 1774. Pendopo kabupaten Banyuwangi dulunya merupakan keraton Kadipaten Blambangan. Dan kampung Temenggungan merupakan area pendukung sebagai tempat bermukim bagi para pejabat pemerintahan maupun pengurus rumah tangga pendopo kabupaten.
"Kami sangat bangga warga Temenggungan bisa menggelar festival yang mengangkat potensi lokalnya. Semoga Temenggungan akan menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal apalagi lokasinya di kota sangat cocok untuk jadi bagian wisata city tour di Kota Banyuwangi," kata  Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, secara terpisah.
Potensi wisata spiritual di Temenggungan berupa sumur Sri Tanjung yang dipercaya menjadi cikal bakal munculnya nama Banyuwangi. Potensi seni budaya yang ada seperti pusat kerajinan batik bermotif Gajah Oling juga menjadi ciri khas, di samping kesenian tradisional seperti gamelan, barong Osing, kuntulan, musik patrol dan lain-lain. Sedangkan potensi kulinernya berupa rujak soto, pecel rawon, nasi cawuk, jajanan pasar, dan lain-lain.
Jazz Patrol masih terus berlanjut meskipun malam semakin larut. Masyarakat Banyuwangi dan para wisatawan tidak beranjak dari lokasi acara.
Salah satu penonton yang juga wisatawan asal Amerika, Stephen Tranghese mengatakan dirinya sangat senang berkesempatan menonton Festival Kawitan ini. "Kolaborasi musik etnis yang rancak dipadu dengan musik modernnya  menghasilkan nuansa berbeda yang asyik untuk dinikmati. Saya sangat enjoy," kata Tranghese. (*)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :