Gandrung yang Membanggakan Kami
Minggu, 18 September 2016
BANYUWANGI – Pertunjukkan Gandrung Sewu tidak hanya sekedar even promosi pariwisata bagi Kabupaten Banyuwangi. Tari kolosal ini telah menjelma menjadi unjuk kebanggaan rakyat akan luhurnya kebudayaan warga Blambangan Banyuwangi yang ditunjukkkan dalam sebuah atraksi menarik. Gandrung Sewu merupakan salah satu even dalam rangkaian Banyuwangi Festival yang telah telah digelar sejak 2012. Even ini selalu berhasil menyedot perhatian publik. Bagaimana tidak, atraksi ini menampilkan ribuan Gandrung yang menari dengan indahnya di pinggir pantai Boom saat senja berlangsung. Bukan hanya wisatawan yang tertarik untuk menikmatinya, namun animo tinggi ini juga ditunjukkan para siswa yang ingin menjadi bagian dalam pertunjukan ini. Seperti yang terlihat Sabtu siang itu (17/9), Pantai Boom dipadati lebih dari 1314 penari Gandrung muda. Dengan kostum khasnya yang dilengkapi sampiran selendang merah, mereka bersiap menari dalam even yang telah memasuki tahun kelimanya. Para penari ini merupakan pelajar sekolah tingkat SD sampai SMU yang berasal dari 24 Kecamatan di Banyuwangi. Sebelumnya mereka semua telah melalui seleksi yang ketat di tingkat kecamatan hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu di antara ribuan penari Gandrung yang akan tampil di pagelaran tari fenomenal daerah ini. Hanya ada satu kata, BANGGA, yang mereka ucapkan saat bisa terpilih dan ikut menari di hadapan ribuan pasang mata yang memandang dari berbagai penjuru, di area Pantai Boom, sore ini, Sabtu (17/9). Seperti yang dirasakan oleh salah satu peserta Gandrung Sewu, Yuniar Trianingsih. Pelajar kelas XI SMA Darus Sholah Singojuruh ini mengaku menjadi penampil Gandrung Sewu selama lima tahun berturut-turut. “Awalnya saya kelas 6 SD ikut Gandrung Sewu, dan saya ada di baris depan. Rasanya luar biasa ketika banyak orang melihat saya menari. Dari situ, timbul tekad di hati saya harus ikut Gandrung Sewu tiap tahun,” tutur Yunita. Sejak itu, Yunita yang mengaku ingin menjadi penari profesional ini ikut sanggar tari untuk melatih kepiawaian menari. “Seminggu dua kali latihan di Sanggar Tawang Alun. Seneng dan bangga pastinya ikut Gandrung Sewu. Seru, ramai, dan sekali bangga sekali bisa tampil,” tegas gadis asal Songgon, Banyuwangi. Begitu halnya dengan Jenny Rizka Aulia (12). Siswi kelas 1 SMPN 5 Banyuwangi ini begitu gembira bisa terpilih sebagai penari di Gandrung Sewu. Sebab, bisa menari di Gandrung Sewu telah menjadi salah satu impiannya sejak duduk di bangku SD. “Saya sangat senang bisa terpilih menari di Gandrung Sewu. Semoga nanti tidak grogi dan menarinya bisa lancar,” kata Jenny polos. Kiprah Jenny hingga bisa sampai di Gandrung Sewu tidak lepas dari dukungan sang ibu Ratna Suliyani (44). Ratna yang dulunya juga seorang penari Gandrung ini, mengatakan jika menari telah menjadi passion putrinya. Selama ini pun Jenny telah tampil menari Gandrung di puluhan acara. Namun ada perasaan bangga yang berbeda, ketika sang putri akhirnya bisa ikut di Gandrung Sewu. “Alhamdulillah, tahun ini dia terpilih. Saya sengaja mendorongnya ikut sanggar sejak tahun lalu untuk bersiap mengikuti Gandrung Sewu ini,” ujar Ratna yang mendukung sang anak untuk menjadi penari profesional. Kegigihan Ratna mendukung putrinya, juga dilakukan oleh Mala Kurnia Sari (39). Mala yang berasal dari Kecamatan Sempu, 35 kilometer dari pusat kota Banyuwangi, bahkan rela menginap sejak dua hari di rumah kerabatnya untuk mendukung sang anak Lorna Fanecha (12). “Saya harus mendukung Lorna, dia sangat semangat untuk mengkuti Gandrung Sewu ini. Biarpun sedikit lelah tapi semua terbayar dengan penampilannya sebentar lagi,” ujar Mala. Ibu muda ini telah siaga menemani sang putri sejak dini hari tadi untuk persiapan make-up, pakaian Gandrung sampai mengantar ke venue Pantai Boom. Beragam atraksi seni dan budaya yang digelar Pemkab Banyuwangi, salah satunya Gandrung Sewu ini, memunculkan korelasi positif dengan perkembangan sanggar tari di Banyuwangi. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yanuar Bramuda mengatakan even-even dalam Banyuwangi Festival sukses membangkitkan gairah masyarakat membangun wadah kreativitas seni generasi muda. Dari data yang ada, pada tahun 2010 jumlah sanggar tari baru sebanyak 13 buah. Namun pada 2014 jumlahnya berlipat menjadi 59. “Itu yang tercatat resmi di data kami, ditambah sangar sanggar kecil lain mungkin bisa mencapai 66 buah,” ujar Bramuda. Penambahan jumlah sanggar tersebut, lanjut Bramuda tidak lepas dari banyaknya even seni dan budaya yang digelar oleh Pemerintah daerah. Selain Festival Gandrung Sewu, hampir di semua even Festival di Banyuwangi (tahun ini 53 Festival) menyuguhkan berbagai tarian yang menjadi panggung pertunjukkan bagi para penari. “Belum lagi masih ada ratusan acara lainnya di Banyuwangi yang tidak masuk agenda Festival juga menyajikan tarian Gandrung maupun tarian daerah lainnya. Inilah yang membuat sanggar-sanggar semakin bersemangat untuk maju,” ujar Bramuda. Sementara itu, Ketua Paguyuban Pelatih Seni Banyuwangi drh. Budianto menambahkan secara kultural masyarakat Banyuwangi memiliki bakat seni yang luar biasa. Maka saat ada dorongan dan wadah yang disediakan sebagai panggung, mereka langsung menyambut dengan antusias. “Begitu pemkab memberikan sentuhan terhadap seni dan budaya daerah, maka para seniman dan budayawan langsung berkembang dengan sendirinya.Anak-anak mudanya pun turut bergairah menghidupkan seni daerahnya,” terang Budi. Tidak hanya menyuburkan pertumbuhan sanggar-sanggar seni dan tari, kata Budi, pagelaran Gandrung Sewu juga telah menghidupkan kembali unit-unit kesenian di sekolah-sekolah yang dulunya kurang bekembang. Bahkan Festival Gandrung Sewu juga memberikan dampak ekonomis langsung bagi pelaku UMKM daerah. “1314 anak ini memakai sewek (kain-red) yang baru dan mereka semua pesan dibeberapa UKM batik, belum lagi kipas yang digunakan juga baru. Jadi acara ini benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” pungkas Budi. Pagelaran Gandrung Sewu ini dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. Turut hadir dalam acara tersebut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti, Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Dalam Negeri Badan Ekonomi Kreatif Hassan Abud. (Humas)