Jeruk Siam Banyuwangi Tembus Pasar Nasional
Jumat, 15 Juli 2016
BANYUWANGI – Selain sebagai sentra buah naga, Banyuwangi juga dikenal sebagai daerah penghasil jeruk terbesar di Jawa Timur. Jeruk siam asal Banyuwangi ini pun telah menembus pasar nasional.
Di sejumlah pasar moderen Jakarta dan Bali, jeruk siam yang rasanya manis segar serta banyak airnya ini tampak bersanding dengan buah-buah impor. Agus Ali Maksum, suplier hortikultura asal Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, mengatakan sudah sejak lima tahun silam dirinya secara rutin memasok jeruk siam Banyuwangi ke sejumlah distributor dan pasar moderen di wilayah Jawa dan Bali. Mulai dari Hero Supermarket Tangerang, Mall Asia Plaza di Tangerang, hingga Tiara Dewata, Bali.
“Setiap hari, saya bisa kirim minimal 5 ton jeruk ke Tangerang, Bekasi, Bandung dan Semarang secara bergantian. Karena memang permintaan luar daerah akan jeruk siam Banyuwangi ini tinggi,” kata Agus.
Jeruk siam itu, didapatkan Agus dari sejumlah petani di sentra jeruk di Banyuwangi. Di antaranya, Kecamatan Purwoharjo, Bangorejo dan Pesanggaran. Menurut dia, tiga kecamatan tersebut merupakan penghasil jeruk yang kualitasnya di atas rata-rata.
“Saat membeli dari petani, saya hanya memilih yang kualitasnya bagus dan sesuai dengan kriteria super market. Misalnya ukurannya besar, satu kilogram berisi tujuh buah, dan kulit jeruk bersih. Perkara rasa, jeruk Banyuwangi sudah dikenal manis,” terangnya.
Agus mengaku, harga yang dipatok kepada konsumennya antara Rp. 10.000 - 12.500 per kilogramnya. Namun harga tersebut bisa sewaktu-waktu berubah, tergantung harga di pasaran. “Harganya fluktuatif, jadi bisa naik-turun kapan saja. Tergantung musim dan panennya,” ungkap Agus.
Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Banyuwangi, Ikrori Hudanto, mengatakan jeruk merupakan hortikultura Banyuwangi yang paling tinggi produksinya. Pada 2015, Banyuwangi menghasilkan 354.685 ton jeruk dengan luas panen 12.804 hektar. Produksi itu meningkat dibandingkan tahun 2014 yang sebanyak 333.767 ton dengan luas lahan panen 12.137 ha.
Untuk sentra kawasan jeruk sendiri, tersebar di sejumlah kecamatan. Yakni Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo, Pesanggaran, dan Siliragung. Juga bisa ditemui di Kecamatan Cluring, Gambiran, Tegalsari dan Muncar.
Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Banyuwangi, Ikrori Hudanto, mengatakan pihaknya terus mendorong petani jeruk di Banyuwangi untuk menjaga kualitas jeruknya. Pemkab, lanjut dia, juga telah memberi bekal menyelenggaraan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sesuai standar pemerintah Good Agricultural Practices (GAP) bagi petani.
“GAP adalah panduan budidaya buah dan sayur yang baik untuk menghasilkan produk bermutu yang mencakup penerapan teknologi yang ramah lingkungan, pencegahan penularan OPT, penjagaan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja serta prinsip penelusuran balik (traceability),” terang Ikrori.
Petani pun dibekali wawasan tentang Good Handling Process (GHP), yakni bagaimana penanganan pasca panen yang tepat. Mulai dari proses pemetikan buah, penyortiran, pencucian hingga grading.
“Kami mengajari mereka bagaimana pasca panennya agar hasilnya maksimal. Salah satunya, kapan saat buah harus dipetik. Ini yang harus mereka ketahui. Selain itu, menunjang pengembangan sentra kawasan jeruk, pemkab juga memberikan bantuan seperti gunting dan keranjang panen,” lanjutnya.
Tak hanya itu, pemkab juga telah membangun "packing house" (bangsal kemas) untuk petani jeruk karena selama ini petani tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan hasil panen.
"Yang kami bantu tidak hanya petani jeruk, tetapi juga untuk buah naga dan produk horti lainnya. Sampai saat ini, sudah ada lima packing house yang kami bangun, yakni di daerah Bangorejo, Muncar dan Siliragung," pungkasnya. (Humas)