Kebo-Keboan Alasmalang, Tradisi Unik Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Desa Alasmalang, Banyuwangi

Minggu, 2 Oktober 2016


BANYUWANGI – Masyarakat Desa Alasmalag, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi memiliki tradissi unik yang selalu digelar setiap awal Bulan Suro penanggalan Jawa. Namanya Kebo-Keboan (Kerbau-kerbauan) Alasmalang, tradisi masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Tradisi agraris ini ditandai dengan kenduri desa dan diakhiri dengan ritual ider bumi, dimana puluhan “kerbau” mengelilingi empat penjuru arah mata angin di desa tersebut. Serta melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga kerbau ini menemani petani saat menabur benih padi.

“Kerbau” dalam tradisi ini adalah petani yang didandadi layaknya seekor kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. Persis Kerbau.

Pada Bulan Suro tahun ini, tradisi Kebo-Keboan Alasmalang digelar pada tanggal 1 Suro. Tepatnya Minggu (2/10) di dusun Krajan, Desa Alasmalang, Singojuruh.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka acara tersebut mengatakan tradisi kebo-keboan Alasmalang menjadi salah satu kearifan lokal yang menguatkan kebudayaan Banyuwangi. Tradisi ini dikemas dalam rangkaian agenda Banyuwangi Festival bukan sekedar untuk mengusung tradisi desa ke kota, melainkan bagaimana tradisi ini bisa menjadi instrumen pengungkit perekonomian warga. “Dengan kemasan acara yang berkelas, tradisi ini akan banyak mengundang warga datang ke desa ini. Tak hanya dari Banyuwangi tapi juga wisatawan dari luar daerah. Dengan demikian, kegiatan ini akan berdampak pada perekonomian warga setempat. Saat banyak pengunjung, warga bisa berjualan makanan, minuman atau produk UMKM khas Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Tak hanya itu, Bupati juga berpesan, agar masyarakat Banyuwangi tetap menjaga kekompakan untuk membangun Banyuwangi yang lebih maju. “Terima kasih, berkat kekompakan dan semangat gotong royong seluruh masyarakat Banyuwangi, kita bisa meraih banyak prestasi. Ini semua berkat doa panjenengan semua, mudah-mudahan semangat kebersamaan ini tetap dijaga,” imbuh dia.

Acara diawali dengan syukuran dan makan bersama di persimpangan jalan desa. Sebanyak 12 tumpeng, 5 porsi jenang sengkolo dan 7 porsi jenang suro disajikan sebagai simbol waktu perputaran kehidupan manusia. Selain itu di hidangkan pula berbagai olahan makanan dari hasil bumi warga setempat.

“Jumlah tumpeng dan jenang ini sebagai simbol jumlah bulan dan hari yang menandai siklus kehidupan manusia selama satu tahun. Ada 12 bulan, tujuh hari dan lima hari pasaran,” kata Indra Gunawan, ketua penyelenggara kegiatan tersebut.

Selanjutnya, dipimpin seorang tokoh adat setempat, 30 manusia kerbau diarak mengelilingi empat penjuru desa dengan iringan musik khas Suku Using. Prosesi ini disebut Ider Bumi. Para petani yang didandani layaknya kerbau tersebut sebagian ada yang diyakini kerasukan roh gaib. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di pundak mereka terpasang peralatan membajak.

Ritual ini diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi oleh kerbau-kebauan. Dalam prosesnya benih padi yang nantinya ditabur oleh Dewi Sri ini akan banyak diperebutkan warga, karena diyakini bibitnya akan menghasilkan hasil panen yang lebih berlimpah.

Salah satu warga yang ikut berebut benih padi, Sukino (58), mengatakan dirinya sudah tiga kali ini ikut prosesi rebutan benih. “Jangan minta, tapi harus berusaha untuk mendapatkan benihnya. Katanya benih yang didapat dengan kerja keras di prosesi ini, kalau ditaman bisa subur dan panennya banyak. Alhamdulillah, dengan ijin Gusti Allah padi saya bagus dan panennya juga banyak,” kata Sukino.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, tradisi Kebo-Keboan Alasmalang juga dipercaya sebagai ritual tolak bala yang sudah dilakukan sejak 300 tahun lalu.

Konon, saat itu Desa Alasmalang dilanda wabah penyakit, lalu Buyut Karti mendapat wangsit untuk menggelar selamatan bersih desa. Selain juga adanya “petunjuk” menggelar adat kebo-keboan, dimana petani menjelma menjadi kerbau.

“Buyut Karti merupakan leluhur Desa Alasmalang yang mengawali tradisi ini. Makanya, sehari sebelum kebo-keboan digelar, kami mengawalinya dengan nyekar ke makam beliau,” pungkas Indra. (Humas).

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :