Ki Purbo Asmoro Obati Pecinta Wayang Kulit Banyuwangi
Minggu, 26 April 2015
BANYUWANGI –Ribuan masyarakat pecinta seni wayang kulit, tadi malam, Sabtu (26/4), memadati lapangan Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran. Kehadiran ribuan orang ini untuk menyaksikan aksi dalang kondang Ki Purbo Asmoro dari Solo yang diundang khusus pemkab Banyuwangi menyemarakkan Banyuwangi Festival 2015.
Pesona dalang asal kota Solo yang membawakan lakon Pendowo Bangun Astina mampu mengobati kerinduan masyarakat Banyuwangi akan cerita pewayangan. Sejak sore hari, Lapangan Sumbermulyo sudah dipenuhi penonton, padahal gelaran wayang baru dimulai pukul 21.30 WIB. Meski tempatnya cukup jauh berada di selatan kota Banyuwangi, tetapi masyarakat dari berbagai wilayah rela datang dengan antusias.
Ki Purbo, bermain sangat apik dengan lakon yang mengisahkan kemelut Baratayuda yang terus menerus dan berantai. Tetapi dengan jiwa tulus ikhlas dan taktik yang pintar, para pendawa akhirnya berhasil memasuki gerbang negara besar Astina Pura dengan selamat. Meski pun harus menyisihkan duri-duri tajam yang menghadang perjalanannya. Diantaranya, Destarata yang tak lain pamannya sendiri berniat akan membunuh Pandawa, namun berkat kesigapan para pandawa berhasil menggagalkan akal licik Destarata.
Permainan dalang yang tanpa menggunakan improvisasi dengan variasi audio visual, berakhir sekitar pukul 04. 00 dini hari. Sebelum memulai mendalang Ki Purbo memberikan gunungan kepada Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas untuk menandai festival ini dimulai.
Dikatakan Bupati Anas, festival wayang kulit dihadirkan sebagai salah satu presentasi beragamnya kultur yang ada di Banyuwangi. Selain Using, di Banyuwangi juga terdapat suku Jawa yang banyak mendiami wilayah selatan Banyuwangi. “Festival wayang kulit ini kami hadirkan untuk mengakomodir budaya masyarakat Jawa yang ada di Banyuwangi. Karena B-Fest ini salah satunya kami hadirkan untuk mewakili beragam budaya yang ada di Banyuwangi,” kata Anas.
Festival ini terus digelar, kata Bupati Anas, untuk melestarikan kesenian tradisional wayang kulit agar tidak tergerus modernitas. Karena wayang kulit ini tidak hanya tampilan seni yang dimainkan, tetapi lebih kepada makna dan filosofi hidup. “Ada banyak filosofi yang bisa diambil untuk dijadikan tauladan dari tokoh-tokoh pewayangan. Ini merupakan heritage bangsa yang adiluhung, hingga B-Fest tahun ini Festival Wayang Kulit kami gelar dua kali. Setelah disini, tanggal 3 Oktober nanti juga akan digelar di RTH Maron Genteng,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. (Humas & Protokol)