Masyarakat Banyuwangi Tumpleg Bleg di Sepanjang Rute Karnaval
Rabu, 20 Agustus 2014
BANYUWANGI – Kemeriahan karnaval pelajar dalam rangka peringatan HUT ke 69 Republik Indonesia di Banyuwangi dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi, Rabu (20/8). Ribuan orang memadati tepi-tepi jalan sejak pukul 12.00 WIB, hanya untuk menyaksikan para pelajar dari SMP/MTs, SMA/SMK dari Kecamatan Kota Banyuwangi, Giri, Glagah dan Kalipuro serta beberapa Perguruan Tinggi yang tumpleg bleg dengan performancenya di sepanjang rute. Yakni mulai Jl. Ahmad Yani - Jl. Dr Sutomo - Jl. Wahidin Sudirohusodo - Finish di depan Gesibu Blambangan. Barisan yang cukup panjang dengan tampilan yang beragam dan atraktif tersebut baru berakhir pukul 16.00 WIB .
Bupati Anas, dalam sambutan pembukanya ketika melepas barisan peserta karnaval mengharapkan, melalui kegiatan karnaval yang bertepatan dengan momen 17 Agustus ini, masyarakat Banyuwangi bisa semakin meningkatkan semangat juangnya dalam menjalani hidup dan selalu menghargai jasa-jasa para pahlawannya. “Semoga pawai ini bisa bermakna banyak. Selain merayakan kemerdekaan, ajang ini juga mempererat tali silaturrahim diantara kita. Bahkan pedagang kaki lima (PKL) pun bebas berjualan di area yang seharusnya tidak boleh ditempati berjualan pada hari-hari biasa,”ujarnya.
Karnaval ini diawali dengan penampilan barisan pengibar bendera merah putih, yang secara berturut-turut diikuti barisan di belakangnya. Beberapa sekolah tampil dengan membawakan drum band, diikuti penampilan kostum yang memvisualisasikan masa pra kemerdekaan, proklamasi, orde baru dan era reformasi. Selain itu ada pula ragam pakaian adat dan budaya Bhinneka Tunggal Ika, perjuangan dan seni, serta profesi dan olah raga.
Tak ketinggalan, berbagai kesenian juga ditampilkan, diantaranya seni tari nusantara, seni budaya Banyuwangi seperti Barong Using, Gandrung, Seblang, dan gending-gending rancak Banyuwangi, serta fragmen perjuangan. Wisata pantai Sukamade pun masih menjadi magnet tersendiri. Lengkap dengan barisan tukik yang diperankan anak-anak kecil dan miniatur telur-telur penyu, suguhan ini bagai menampilkan kekayaan Sukamade yang sesungguhnya.
Karnaval kali ini banyak pula mengusung produk-produk daur ulang (re-use, reduce dan recycle). Selain pakaian dari bahan daur ulang, gelas-gelas air mineral bekas pun menjelma menjadi replika pesawat terbang yang berukuran cukup besar.
Menariknya, beberapa Warga Negara Asing juga turut dalam salah satu barisan, lengkap dengan pakaian adat nusantara. Mereka adalah para pengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa di Banyuwangi yang menjadi rekanan salah satu sekolah, yakni SMPN 4 Banyuwangi. Mereka yang terlihat senang berkostum pakaian adat tersebut berkesempatan untuk berfoto bersama Bupati Anas.
Sementara itu, salah satu peserta karnaval yang dalam karnaval tahun lalu ditahbiskan sebagai penyaji terbaik, yakni SMAN 1 Banyuwangi (SMANTA) kembali menampilkan karya terbaiknya. Mulai dari barisan Jebeng Thulik, pengibar bendera merah putih berukuran raksasa, hingga pakaian daur ulang yang disulap menjadi pakaian pesta dan kebaya-kebaya yang indah.
Sebagai sekolah adiwiyata atau sekolah yang berbasis lingkungan, mereka juga menampilkan tari “Semebyar Adiwiyata’ yang dibawakan 20 penari dengan semaraknya. Tarian ini sekaligus untuk menunjukkan konsistensi mereka terhadap pelestarian lingkungan. Barisan putrid berkostum kreasi batik juga tak mau kalah menampilkan performanya yang menawan dengan fashion on the road.
Pada barisan terakhir, Bupati Abdullah Azwar Anas beserta Ny Dani Azwar Anas ikut berjalan hingga akhir rute, dengan didampingi Forum Pimpinan Daerah, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, dan pejabat komponen Pemkab Banyuwangi. (Humas & Protokol)