Ratusan Masyarakat Saksikan Penutupan Festival Seblang Olehsari

Jumat, 15 Juli 2016


BANYUWANGI –  Setelah menjalani prosesi  ritual selama tujuh hari, Seblang Olehsari yang merupakan salah satu rangkaian gelaran Banyuwangi Festival 2016 ditutup Kamis (14/7). Sekitar pukul 14.00 WIB, ratusan masyarakat Desa Olehsari telah menyemut di tepi arena Seblang untuk menyaksikan penutupan sekaligus ngalap berkah dari ritual ini.

Selain masyarakat, Staf Ahli Bupati, Ketut Kencana Nirha juga terlihat menyaksikan penutupan Seblang Olehsari. Saat menghadiri acara ini, Ken, sapaan akrabnya, menyatakan sangat apresiatif terhadap adat dan tradisi masyarakat Using ini.  

“Ini adalah salah satu budaya dan tradisi adat masyarakat Using dalam mengungkapkan rasa syukurnya. Budaya ini saya harap tetap dilestarikan sehingga tidak hanya menjadi tontonan masyarakat Olehsari saja, tetapi bisa dinikmati masyarakat di luar Desa Olehsari. Bahkan menambah jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Banyuwangi,” kata Ken.  

Sementara, prosesi ritual penutupan Seblang Olehsari cukup sakral dan membuat semua penonton ikut larut dalam acara ini. Seperti sebelumnya, prosesi penutupan seblang ini juga diawali seorang pawang dengan membawa gadis Seblang ke arena untuk dipasangkan mahkota omproknya. Sementara para pawang seperti biasa membacakan mantra  sembari diiringi gending Seblang Lukinto, yang dipercaya sebagai sarana roh Sang Hyang masuk ke dalam tubuh Fadiyah Yuliati (9), nama penari seblang ini.

Lantunan gending yang dipercaya masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah ini akan berakhir ketika tubuh sang penari  terjungkal   ke belakang dan nyiru yang dibawanya jatuh. Itu menandakan bahwa penari berada dalam keadaan kesurupan.

Prosesi terus berlanjut hingga dinyanyikan 28 gending, diantaranya gending Liliro Kantun , Cengkir Gadhing , Padha Nonton Pupuse , Padha Nonton Pundak Sempal , Kembang Menur , Kembang Gadung , Kembang Pepe hingga Kembang Dermo sebagai gending penutup.

 Pada saat gending Kembang Dermo ini dibawakan, kembali penari Seblang membawa tampah yang berisi bunga Dermo untuk dijual ke penonton. Usai menjual bunga, penari berjalan beriringan bersama para pawang, sinden, dan seluruh perangkat keliling desa atau ider bumi menuju empat penjuru yang dianggap tempat bermula desa Olehsari berdiri. Terakhir di makam Mbah  Buyut Ketut yang berada di selatan arena Seblang. Setelah mengadakan ritual do’a-do’a di makam, Seblang kembali ke arena untuk menuntaskan prosesi kembalinya roh sang hyang.

Ritual terakhir, pawang kembali membangunkan sang penari, dengan diiringi Gending Seblang Lukinto dengan ritme yang keras agar penari segera bangun. Prosesi ini cukup menegangkan sebab kalau tidak bisa bangun penari akan kehilangan nyawanya .

Penari tidak melakukan gerakan tari lagi, tapi kepalanya tertunduk, siap untuk dilepas omproknya oleh pawang. Kemudian , wajah penari seblang dicuci dengan Tuyo Arum yang telah diberi mantra dan dimasukkan dalam kendi yang berisi bunga pecari , bunga wongso dan bunga sundel. Itulah akhir ritual Seblang Olehsari.

 “Dengan melakukan prosesi seblang selama tujuh hari, segala balak dan blai telah hilang dari desa kami. Kami percaya Seblang untuk menolak bala dan sebagai tradisi nenek moyang untuk membersihkan desa,” terang Ansori, Ketua Sesepuh Adat Seblang.

Keberadaan ritual seblang ini juga menarik perhatian salah satu wisatawan asal kabupaten tetangga, Jember. Yelly Hijriah yang saat ini mengaku telah berdomisili di Padang, Sumatera Barat mengatakan kesempatan untuk nonton seblang ini awalnya kebetulan semata.

“Saya ke Banyuwangi ini untuk silaturrahim dengan kakak saya. Mumpung masih suasana lebaran dan libur panjang. Eh, kok kebetulan bertepatan dengan event ini, ya sudah...saya rame-rame dengan keluarga kakak saya kemari,” ujar Yelly.   

Upaya pemkab dan masyarakat untuk nguri-uri budaya Banyuwangi ini diberi acungan jempol oleh Yelly. “Sekarang ini jamannya serba digital yang  menawarkan banyak kemudahan.  Saya salut dengan upaya Pemkab Banyuwangi bersama warga yang tetap melestarikan adat istiadat di tengah gempuran kecanggihan teknologi. Dengan begitu generasi muda tak akan lupa pada tradisi yang dibangun leluhurnya secara turun temurun,” pungkas Yelly yang sempat menghabiskan banyak dana untuk belanja berbagai souvenir khas Banyuwangi di booth Karang Taruna Seblang. (Humas)   



Berita Terkait

Bagikan Artikel :