Uniknya Tour de Banyuwangi Ijen, balap sepeda dunia diiringi seni tradisional
Kamis, 7 Mei 2015
BANYUWANGI - Ada sejumlah keistimewaan dan keunikan dalam penyelenggaraan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2015. Salah satunya adalah penampilan banyak kesenian lokal Banyuwangi dalam ajang balap sepeda dunia yang masuk agenda rutin (calendar of event) Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI) tersebut.
Berbagai atraksi kesenian ditampilkan oleh sejumlah sanggar seni. Misalnya di lokasi start etape pertama ditampilkan tarian Tembang Pesisiran. Lalu start di etape kedua tampil tarian Donge Mekar. Di garis finish ditampilkan kesenian barong dan kuntulan. Kemudian di etape ketiga ada tarian Nutu Sari dan kendang kempul. Di etape terakhir alias etape empat, tampil tarian Rodath Siliran.
Bahkan, di sepanjang jalan, sanggar seni dan warga berinisiatif menampilkan beragam kesenian, terutama tari dan musik. Ada pula yang menampilkan rebana dengan lagu-lagu religi.
"Baru kali ini saya mengikuti balapan yang sangat meriah dengan banyak musik dan tarian. Unik. Sangat bagus," ujar Hossein Alizadeh, pembalap asal Iran dari Tabriz Shahdari Team. Alizadeh sudah malang-melintang di dunia balap sepeda. Dia pernah memborong dua kategori langsung, yaitu kategori tanjakan (King of Mountain) dan kategori pembalap Asia terbaik di Tour of Qinghai Lake di Tiongkok yang membuatnya ditahbiskan UCI sebagai pembalap ranking satu Asia.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ITdBI memang didesain memadukan antara sport, wisata, dan budaya. Olahraga balap yang memang digemari banyak orang dijadikan sarana untuk mempromosikan wisata alam dan budaya Banyuwangi. Promosi wisata alam dilakukan dengan membuat rute balapan yang melintasi atau berdekatan dengan destinasi wisata alam, baik itu wisata pantai, pegunungan, maupun perkebunan. Adapun promosi wisata budaya dilakukan dengan menampilkan berbagai atraksi seni-budaya khas Banyuwangi, sehingga wisatawan dan publik luas bisa mengetahuinya.
"Jadi Tour de Banyuwangi Ijen ini bukan semata-mata adu cepat balap sepeda, tapi juga merupakan ajang konsolidasi dan promosi wisata alam dan budaya," ujar Anas.
International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) sendiri digelar di pada 6-9 Mei. ITdBI adalah ajang balap sepeda yang sudah masuk agenda rutin (calendar of event) Persatuan Balap Sepeda Internasional Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI) dan diselenggarakan tiap tahun sejak 2012. Tahun ini, ITdBI diikuti para pembalap dari puluhan negara, antara lain, Perancis, Belanda, Kolombia, Kanada, Jepang, Singapura, Thailand, Iran, Spanyol, Filipina, Malaysia, Filipina, Australia, Korea, Tiongkok, Thailand, Selandia Baru, Rusia, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan.
ITdBI menempuh empat etape dengan total panjang rute sejauh 555 kilometer. Rute ini ditempuh dengan mengelilingi wilayah Banyuwangi dan dipuncaki dengan berpacu mendaki Gunung Ijen, gunung berapi aktif yang terkenal di dunia dengan fenomena api biru alias "Blue Fire"-nya. Tanjakan menuju Gunung Ijen di Banyuwangi dikenal sebagai salah satu yang terekstrem di Asia karena berada di ketinggian lebih dari 1.871 meter di atas permukaan laut (mdpl), melampaui tanjakan di Genting Highland dalam Tour de Langkawi Malaysia yang berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. (Humas & Protokol)