Serunya Festival Sego Cawuk Banyuwangi
Sabtu, 9 April 2016
BANYUWANGI – Deretan panjang ibu-ibu yang berdandan cantik dan mengenakan pakaian khas Banyuwangi memadati jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo atau tepatnya depan Hotel Blambangan. Mereka tidak sedang kontes kecantikan, melainkan sedang beradu kebolehan meracik kuliner khas Banyuwangi, Sego Cawuk. Inilah yang menjadi pemandangan seru di Festival Sego Cawuk Banyuwangi yang berlangsung Sabtu (9/4).
Para ibu ini berlomba untuk menyajikan Sego Cawuk yang paling lezat, menarik dan higienis. Acara ini semakin meriah dengan kehadiran Chef Aiko Sarwo Sri, yang melakukan demonstrasi pembuatan sambal serai dan cara menyajikan Sego Cawuk yang tepat secara langsung.
Sego Cawuk (Nasi Cawuk) merupakan kuliner khas Banyuwangi yang biasanya disajikan menggunakan pincuk (piring yang terbuat dari daun pisang). Nama Sego Cawuk, berasal dari bahasa Using Cawuk yang artinya makan langsung menggunakan tangan. Makanan ini bisanya banyak dijumpai saat sarapan pagi. Nasi tersebut disajikan dengan lauk pauk, seperti pepes ikan laut, telur pindang, tahu cacah, dan semanggi sambal serai. Selain itu, juga ditambah dengan kuah pindang khas Banyuwangi dan gecok teri.
Ajang untuk mencari sego cawuk terlezat ini diikuti oleh 162 peserta yang terdiri atas penjual sego cawuk, koki hotel maupun restoran, ibu-ibu PKK, anggota dharma wanita dan masyarakat umum lainnya. Para peserta ini diwajibkan membuat sego cawuk yang lezat dan higienis untuk dinilai oleh dewan juri. Selanjutnya sego cawuk disajikan dan dihias semenarik mungkin dengan semua lauk pauk. Cara penyajian dan tampilan visual dari nasi cawuk ini juga menjadi salah satu kriteria penilaian.
Pada festival ini, Chef Aiko mempraktekkan secara langsung cara pembuatan sambal serai yang lezat. Chef selebriti yang menjadi host acara kuliner di salah satu stasiun televisi ini dengan lincah mengulek semua bahan sambal di atas cobek. Dan yang paling menarik, Chef Aiko menyajikan sego cawuk dengan berbeda. Nasi, kuah dan lauk-pauknya ditata dengan cantik ala penyajian internasional.
“Yang penting performanya. Kalau menarik pasti mengundang orang untuk mencoba. Di sini, saya coba sajikan Sego Cawuk dengan cara penyajian kelas internasional. Nasi, kuah dan lauk-pauknya jangan dicampur jadi satu ya, tapi harus disajikan terpisah. Karena tidak semua orang suka kuah atau ikan pepes,” kata Chef Aiko.
Usai melakukan demo pembuatan sambal serai, Chef Aiko bersama Ny. Fiestiandani Azwar Anas makan bersama dengan menu yang sama. Sambil mengobrol bersama istri orang nomor satu di Banyuwangi, dia terlihat lahap dan menikmati hidangannya.
“Rasa kemiri dan rempah serainya nendang banget di lidah. Saya tadi coba makan nasi dan kuahnya secara terpisah, ternyata rasanya lebih lezat,” kata Chef Aiko.
Bupati Abdullah Azwar Anas menambahkan, Festival Sego Cawuk adalah bagian dari pengembangan wisata kuliner untuk memberdayakan masyarakat sebagai pelaku ekonomi. Festival tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sego Cawuk. Sekaligus mendorong agar rumah-rumah makan yang menjual sego cawuk semakin memperhatikan higienitasnya. “Kalau rasanya enak, sajiannya menarik dan tempat jualannya bersih, nilai sego cawuk akan semakin meningkat. Sehingga, akan semakin menarik bagi wisatawan untuk mencobanya,” kata Anas.
Festival sego cawuk ini juga digelar untuk mempromosikan kuliner khas daerah agar semakin dikenal oleh masyarakat di seluruh Indonesia. “Semakin dikenal, tentu diharapkan penjual Sego Cawuk kian kelarisan,” pungkas Bupati Anas. (Humas)