15 Pelajar Nusantara Belajar pada Maestro Gandrung Banyuwangi

Kamis, 28 Juli 2016


BANYUWANGI - Belasan gadis pelajar belajar dari berbagai penjuru nusantara belajar menari di Banyuwangi. Mereka pun mendapat kehormatan, belajar menari Gandrung langsung kepada sang maestro, Temu Misti.

15 pelajar tersebut merupakan peserta Program Belajar Bersama Maestro 2016, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Mereka antara lain berasal dari Padang, Gorontalo, Bali, Jawa Tengah, dan NTT.

Ada 150 peserta kegiatan ini yang mempelajari beberapa kesenian dan tinggal bersama 10 maestro seni yang ada di Indonesia. Seperti maestro Nano Riantiarno, Sundari Soekotjo, dan lainnya. Masing-masing tempat diisi oleh 15 pelajar.

Banyuwangi menjadi salah satu tempat mereka belajar. Banyuwangi dipilih karena kabupaten di ujung Jawa Timur memiliki tari yang legendaris, Gandrung. Selain itu juga, kabupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut memiliki seorang penari tradisional Gandrung yang kesohor.  

15 pelajar yang mengikuti program ini adalah mereka yang memiliki bakat dalam bidang seni. Untuk mengikuti program ini, digelar secara online. Calon peserta harus mengirim video karya seni mereka ke panitia. Setelah itu diseleksi, dan hanya mereka yang terpilih bisa mengikuti program ini. 

Seperti Santi Dewi, pelajar asal Bali. Pelajar SMAN 2 Mendoyo tersebut mengirimkan videonya menampilkan tari legong kuntul.  "Tariannya bebas, bisa tari daerah atau kreasi. Yang penting seni," kata Santi. Sekitar awal Juli lalu, Santi dihubungi pihak Kementerian dan terpilih untuk menjadi bagian dalam program Belajar Bersama Maestro.  "Saat ditawari bersedia atau tidak, langsung saja saya mau," kata pelajar berusia 15 tahun tersebut. 

Para pelajar itu pun menikmati masa latihan bersama sang maestro, Temu. Seperti yang dituturkan Wahyu Larasati. Menurut pelajar SMAN 3 Salatiga tersebut, selama di Banyuwangi dia belajar tari dan nyanyi Jejer Gandrung Podo Nonton. "Kalau narinya sih mudah, hanya saja nyanyinya susah banget," kata Wahyu.

Wahyu mengatakan menyanyikan lagu-lagu gandrung yang berbahasa Osing, membutuhkan cengkok yang baik. Selain itu butuh penghayatan untuk menyanyikannya. 

Selama di Banyuwangi 15 anak itu berlatih dan menyaksikan langsung sang maestro. Bahkan pernah ada kejadian unik, saat Temu diundang di acara resepsi pernikahan, 15 pelajar juga ikut.

"Teman-teman datang gak diundang. Tidak ngasih bowoh, habis-habisin makanan. Pulang minta suvenir lagi. Seru pokoknya," kata Wahyu.

Selain bisa kenal dengan pelajar-pelajar dari daerah-daerah se-Indonesia, menurut Wahyu, juga senang bisa ke Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi daerah yang indah dan banyak tempat wisatanya.   

Temu Misti merupakan penari gandrung kawakan. Perempuan kelahiran Banyuwangi, 20 April 1953, dikenal sebagai penari Gandrung ternama di Banyuwangi. Selain memiliki tarian yang gemulai, Temu dianugerahi suara emas yang jarang dimiliki gandrung lain. Melengking tinggi dengan cengkok khas Osing.

Dia juga bisa mengkolaborasikan suara gending gandrung dengan lagu Banyuwangi modern. Sejumlah gelaran jazz yang dihelat di Banyuwangi kerap menampilkan Temu yang berkolaborasi dengan musisi nasional. Salah satunya, Temu pernah sepanggung dengan Syaharani dalam Banyuwangi Beach Jazz Festival tahun 2013.

Nantinya, para pelajar ini akan tampil di Yogyakarta pada 29 Juli mendatang. Mereka akan menampilkan hasil selama belajar di Banyuwangi. Demikian juga dengan hasil belajar di 9 maestro lainnya.

Aekanu Haryoto, pendamping 15 pelajar tersebut mengatakan, tujuan dari program ini adalah sebagai regenerasi seni. "Hasil dari belajar di Banyuwangi ini, diharapkan bisa ditularkan ke daerah asalnya," kata Aekanu. 

Dengan program ini, diharapkan para peserta akan semakin mengenal, mempelajari, dan pada akhirnya melestarikan seni gandrung. (humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :