AFI Gelar Workshop Pembuatan Film di Banyuwangi

Jumat, 3 November 2017


 

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan rangkaian even Apresiasi Film Indonesia (AFI). Ada berbagai kegiatan AFI yang akan berlangsung sepanjang bulan November ini. Salah satunya workshop penulisan dan penyutradaraan film pendek.

AFI merupakan ajang perfilman yang digelar (Pusat Pengembangan) Pusbang Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbang Perfilman M. Sanggupri mengatakan workshop ini digelar untuk melahirkan bibit-bibit muda pembuat film berkualitas. 

"Ada 40 peserta, kami seleksi dari seluruh Indonesia mulai Sabang sampai Merauke dan jumlahnya memang kami batasi,” ujar Sanggupri. Workshop ini digelar selama tiga hari, 1-3 November di Hotel Santika Banyuwangi.  

Para peserta mendapatkan materi seputar penyutradaraan film, penulisan skenario, penyuntingan dan pembekalan pembuatan proposal film. Tak tanggung-tanggung, mentornya langsung melibatkan profesional bidang perfilman, seperti Tio Pakusadewo, Roy Lelang, Karsono Hadi dan Irfan Ramli.

Karsono Hadi adalah seorang editor dan sutradara film handal. Karsono pernah meraih Piala Citra untuk kategori Editor terbaik Roman Picisan. Sementara Irfan Ramli adalah penulis naskah yang salah satunya karyanya adalah Surat dari Praha.  

Selama tiga hari mengkuti pelatihan, para peserta mengaku mendapatkan manfaat besar dan wawasan lebih seputar perfilman. Seperti yang dituturkan Ratih Puspasari asal Desa Licin, Banyuwangi. Ratih yang selama ini kerap menjadi penulis script untuk produksi film pendek anak-anak kreatif Banyuwangi mengaku banyak belajar soal penulisan skenario di workshop ini. Seperti cara menuliskan gagasan dan membuat cerita, hingga menumbuhkan kepekaan tentang hal yang akan difilmkan.

"Kita juga dapat materi bagaimana mentransfer tulisan lalu diterjemahkan menjadi gambar. Kita juga diajarkan lebih kritis menjadi sutradara. Semoga workshop semacam ini banyak dilakukan di daerah agar makin banyak sineas film yang telah memiliki ruang luas bisa mentransfer ilmunya kepada kami yang lingkupnya kecil ini," harap Ratih yang juga seorang guru TK.

Para mentor pun mengaku puas dengan bakat-bakat yang dimiliki peserta, seperti yang diungkapkan Tio Pakusadewo. Artis senior ini mengaku memiliki harapan besar kepada peserta setelah "dikawal" dengan orang-orang yang kompeten. Para pegiat AFI memiliki komitmen akan terus memantau perkembangan peserta workshop selama setahun ke depan.

"Saya harap mereka mendapatkan kesempatan luas setelah ini, minimal mereka telah masuk ring yang benar. Bahkan, saya tadi melihat ada lompatan ide yang keren dari salah satu peserta. Dia pernah menang AFI, tapi dengan trigger workshop ini akhirnya memunculkan ide yang bagus buat dia," jelas Tio.

Pserta yang dimaksud Tio adalah VIcky Hendri Kurniawan asal Banyuwangi. "Dari workshop selama tiga hari ini, memunculkan ide untuk membuat film eksperimental tentang besi. dan diapresiasi oleh para mentor," ungkap Vicky karyanya "Tumiran" menyabet karya terbaik dalam Denpasar Film Festival 2014 dan mendapatkan Piala Ki Hajar Dewantara pada AFI 2015.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut dengan senang penyelenggaran AFI di Banyuwangi. “Kami juga mengharapkan, acara ini tidak sekedar acara perfilman begitu saja. Tapi, juga memberikan dampak kepada masyarakat. Ada transfer knowledge dari para pegiat film yang top-top ini, kepada anak-anak muda yang memiliki minat dalam dunia film,” pungkas Anas. 

Setelah mengikuti workshop ini, para peserta diwajibkan membuat proposal film dokumenter untuk dikumpulkan kepada panitia. Nantinya proposal tersebut akan dipilih yang terbaik dan diberikan apresiasi berupa pendanaan pembuatan film. Film tersebut akan diikutkan pada lomba film dokumenter pada pelaksanaan AFI tahun depan. (*)

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :