Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Banyuwangi Kembali Gelar Festival Busana Daur Ulang

Jumat, 24 Maret 2017


BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi akan kembali menggelar ‘Festival Green and Recycle Fashion Week’ di Gedung Seni Budaya (Gesibu), besok, Sabtu (25/3). Festival busana daur ulang yang mengusung tema Paper Mixed Plastic ini ingin mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Banyuwangi konsisten untuk mengkampanyekan aksi kepedulian terhadap lingkungan. Festival Green and Recycle Fashion Week yang setiap tahun digelar ini sebagai bagian untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan bagi masyarakat, khususnya dalam mengurangi sampah.

“Ini bukanlah sekedar rutinitas pagelaran fashion semata, tapi bentuk kampanye penyadaran masyarakat untuk meningkatkan kepedulian lingkungan, terutama terhadap sampah, melalui seni dan kreatifitas. Karena cara ini menyenangkan dan menarik orang untuk datang. Mereka bisa menyaksikan langsung kalau ternyata sampah yang dibuang masih bisa dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat,” kata Anas.

Menurut Anas, selama ini banyak masyarakat yang belum memahami cara memanfaatkan sampah yang bisa di daur ulang, misalnya kertas atau plastik. Sampah masih dianggap sebagai onggokan barang yang tidak bermanfaat dan sering disepelekan. Padahal, sampah tersebut bisa disulap menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih dengan sentuhan  kreatifitas.

“Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat kalau sampah juga bisa disulap menjadi produk baru yang bernilai seni dan ekonomi. Dengan cara ini kami ingin sedikit demi sedikit merubah cara pikir masyarakat tentang sampah, dari yang tadinya bersikap jijik, tidak peduli, menjadi sikap yang peduli dengan jalan mengelola sampah di sekitar menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Anas.

Selain ‘Festival Green and Recycle Fashion Week’, Banyuwangi memiliki sejumlah even tahunan sebagai bentuk kampanye peduli lingkungan. Seperti Festival Toilet Bersih, yang mengajak segenap warga masyarakat, sekolah, instansi untuk hidup sehat dengan menjaga kebersihan toilet. Juga ada Festival Kali Bersih yang mengajak masyarakat untuk tidak mengotori kali serta Festival Sedekah Oksigen, gerakan penanaman pohon bersama untuk pelestarian lingkungan dan menjaga kebersihan udara.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Husnul Chotimah menambahkan, ‘Festival Green and Recycle Fashion Week’ ini akan diikuti sebanyak 319 peserta. Mereka berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, serta karyawan instansi pemerintah/ swasta se Kabupaten Banyuwangi. Mereka beradu kreatifitas menampilkan fashion daur ulang terbaik yang akan dinilai oleh dewan juri.

“Ada empat kriteria penilaian, yaitu keindahan motif, originalitas/ keaslian ide, kreativitas/ ketepatan dalam memadupadankan bahan, serta prosentase bahan baku,” terang Husnul.

Ditambahkan Husnul, gelaran ‘Festival Green and Recycle Fashion Week’ 2017 ini mengusung tema Paper Mixed Plastic. Sehingga, fashion yang ditampilkan harus memenuhi kriteria yang ditetapkan yakni terdiri atas 40 persen kertas, 40 persen plastik, dan 20 persen bahan lain.

Untuk kertas bisa dari kertas koran, majalah, atau kertas lainnya. Untuk plastik bisa dari limbah kemasan shampoo, gelas/botol minuman, tas plastik hitam/ warna warni, bungkus minuman kopi, bungkus sabun cuci, bungkus coklat hingga tutup air mineral. “Kalau material lainnya bisa dari kayu bekas, kain perca, kancing baju, dan masih banyak lagi,” cetus Husnul.

Selain bahan, jenis fashion yang akan ditampilkan pun sudah ditentukan. Kali ini, peserta harus fokus pada pemanfaatan kertas dan plastik untuk mendesain sebuah gaun malam yang unik dan menarik. “Namanya gaun malam ya harus terkesan glamor dan elegan meskipun terbuat dari bahan daur ulang. Nah, di sinilah tantangannya. Bagaimana para peserta berkreativitas untuk menghasilkan karya megah dan tidak menjiplak,” cetusnya.   

Untuk membuat karya fashion daur ulang yang menawan, peserta telah diberikan pelatihan merancang fashion recycle selama dua hari, Senin-Selasa (20-21/3). Tak tanggung-tanggung, mereka dipandu langsung oleh instruktur dari komunitas lingkungan hidup Jogjakarta yang memang ahli mendesain fashion daur ulang.

“Selain desain model, peserta juga akan diajarkan etika pemanfaatan limbah produk. Misalnya, tidak diperbolehkan menampakkan brand produk tertentu pada karya busananya,” terang Husnul.

Husnul melanjutkan, Gedung Gesibu yang merupakan venue even fashion recycle,  akan disulap menjadi catwalk  yang tidak kalah unik. Panggung catwalk akan dihiasi dengan pernak-pernik cantik yang semuanya terbuat dari bahan-bahan daur ulang. Misalnya, kursi undangan para penonton akan terbuat dari ban bekas yang disulap menjadi tempat duduk cantik.

“Kita akan memaksimalkan pemanfaatan bahan daur ulang pada even ini. Untuk menunjang fashion gaun malam, kita akan buat pernak-pernik cantik sebagai ornamen penghias venue-nya,” kata Husnul.

Green and Recycle Fashion Week akan digelar dalam dua sesi. Sabtu siang (25/3) pukul 13.00 WIB pagelaran akan diisi oleh peserta dari pelajar TK, SD, dan SMP. Dilanjutkan malam hari, mulai pukul 18.00 dengan acara sama  dengan peserta pelajar SMA, karyawan Pemkab, instansi vertikal tim penggerak PKK dan perwakilan ibu-ibu dasawisma. “Kita ingin semua pihak terlibat dalam aksi peduli lingkungan lewat fashion recycle,” kata Husnul.

Menyemarakkan gelaran fashion recycle ini, di hari yang sama juga akan digelar pameran aneka produk kerajinan anorganik berbahan limbah. Seperti tempat tissue, toples permen, tas belanja, tas pesta, tirai, dan masih banyak lagi. Produk-produk tersebut merupakan hasil karya pelajar dari sekolah-sekolah adiwiyata dan juga ibu-ibu dasawisma. (Humas)

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :