Antisipasi Penyebaran Zika, Dinkes Banyuwangi Buru Jentik Nyamuk

Senin, 5 September 2016


Banyuwangi - Dinas Kesehatan Banyuwangi mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk antisipasi kemungkinan penyebaran virus zika. Untuk mengantisipasi virus tersebut, Dinkes mendorong seluruh puskesmas dan perangkat desa ikut berperan aktif menggerakkan masyarakat di wilayahnya untuk memantau jentik-jentik nyamuk di rumahnya.

Dikatakan Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, dr. Widji Lestariono pencegahan virus Zika ini dilakukan sama persis dengan pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (BDB) dan chikungunya. Karena vektor pembawa virus ini sama, nyamuk aedes aegypti.

"Ini menjadi momen bagi kita semua untuk menggiatkan pemberantasan nyamuk di lingkungan kita, terutama di rumah masing-masing. Caranya lewat gerakan 3M plus, yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas. Gerakan ini harus dilakukan serentak oleh seluruh warga secara berkelanjutan sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat,” kata dr. Rio, sapaan akrabnya.

Selain itu, pihaknya juga mengaktifkan juru pemantau jentik (jumantik) di warga. Jumantik akan bertanggung jawab memantau dan membersihkan penampungan air yang ada di sekitar dan dalam rumah. Tujuannya, agar jentik tidak sampai berkembang menjadi nyamuk.

“Justru Aides Aigepty tidak ada di selokan. Dia hidup di genangan air yang bersih/jernih dengan siklus dari telur menjadi nyamuk selama 7 hari. Jadi, jangan lebih dari satu minggu, air bak mandi, gentong atau vas bunga harus rutin diganti. Ini bisa memotong silkus perkembangannya dan memperkecil peluang terinfeksi,” imbau Rio.

Gejala yang biasa timbul apabila seseorang yang terinfeksi virus ini adalah pusing, panas tinggi, sakit kepala, nyeri sandi, dan timbul ruam. "Bila mengalami gejala ini, segera berobat ke puskesmas atau layanan kesehatan terdekat untuk segera diketahui penyebabnya," ujar dr. Rio.

Ditambahkan dia, infeksi virus ini sifatnya self limiting desease, artinya bisa sembuh dengan sendirinya. Jadi, penanganannya cukup dengan pengobatan yang bersifat symptomatis untuk menghilangkan gejala yang timbul. Selain itu, dengan meningkatkan daya tahan tubuh, seperti makan/minum yang cukup, istirahat, tidur yang cukup, serta olah raga teratur.

“Yang ditakutkan jika virus ini menyerang ibu hamil. Virus ini akan menyerang otak janin sehingga menyebabkan anak yang lahir mengalami microcephaly. Di amana otak bayi tidak berkembang sehingga menyebabkan ukuran kepala bayi lebih kecil," pungkas Rio.

Rio melanjutkan, meskipun virus Zika ini sudah ada di Singapura, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dalam menyikapinya. Bahkan dia menegaskan bahwa sampai saat ini Banyuwangi masih aman. Belum ada laporan tentang kasus ini di Banyuwangi.

“Tidak perlu panik, cukup tingkatkan kewaspadaan karena penyakit ini tidak mematikan, berbeda dengan demam berdarah. Mari terus budayakan hidup bersih dan sehat, mudah-mudah Banyuwangi tetap terhindar dari virus ini” ujar Rio. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :