Antusiasme Pelajar Banyuwangi Ikuti BEC

Sabtu, 17 Oktober 2015


BANYUWANGI – Meski telah lima kali digelar, pesona Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tidak pernah surut. Bahkan pada pergelarannya kali ini di Taman Blambangan, Sabtu 917/10), antusiasme pelajar dari berbagai penjuru Banyuwangi untuk menjadi bagian dalam ajang megah tersebut semakin besar.

Dirna Prasasti, salah satunya. Pelajar kelas X SMAN I Rogojampi ini mengaku sangat senang akhirnya bisa beraksi di BEC 2015. Menurutnya, keinginannya untuk menjadi peserta BEC sudah muncul sejak ia duduk di bangku SMP, namun baru tahun ini  keinginannnya itu terwujud. “Alhamdulillah akhirnya kesampaian jadi peserta BEC, rasanya seneng banget,” ujar dia sambil menunjukkan muka bahagianya.

BEC tahun ini mengangkat tema "The Usingnese Royal Wedding". Karnaval megah ini menghadirkan ratusan peserta yang memperagakan ragam pengantin ala Suku Using (masyarakat asli Banyuwangi). BEC 2015 ini dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Di BEC 2015 ini, Dirna yang berusia 15 tahun itu memilih untuk menampilkan tema kemanten Sekar Kedaton Wetan. Kostum mewah nan menawan dengan dominasi warna hijau dan perak telah ia persiapkan dengan sangat sempurna. Bahkan, orangtuanya sendirilah yang mendesain kostum tersebut. “Desainernya ayahku sendiri lho,” pamernya.

Kostum itu dilengkapi dengan sayap lebar dan mahkota yang indah. Tak ayal beratnya pun bisa mencapai 15 kilogram. Waktu pembuatannya juga lumayan lama, mulai mendesain hingga jadi ia membutuhkan waktu 1,5 bulan. Ia menceritakan, proses pembuatannya cukup rumit terutama pada bagian sayapnya. Meski begitu, semuanya ia lakukan dengan suka cita agar bisa terlibat langsung dalam euphoria BEC yang sudah mulai mendunia.

Selain itu, ia pun harus merogoh kocek yang tak sedikit. Setidaknya, untuk membuat kostum kemanten Sekar Kedaton ini ia telah menghabiskan dana lebih dari Rp. 2 juta. Karena bahan yang diperlukan banyak dan harganya lumayan mahal. Sedikitnya, ia menghabiskan 6 meter kain sponsbox, manik-manik, payet, dan ornament pendukung yang lain. Belum lagi, biaya yang harus ia keluarkan untuk periasnya. “Memang biayanya banyak, tapi gak apa-apa. Soalnya saya kepengen banget dan Alhamdulillah orang tua mendukung,” cetusnya.

Karnaval pengantin yang memadukan modernitas dengan seni tradisional ini dibagi tiga sub tema, yaitu Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.  

Sembur Kemuning merupakan upacara adat pengantin masyarakat pesisiran di Banyuwangi. Para talent yang berperan mengenakan kostum dominasi warna kuning, orange dan ungu. Sementara Mupus Braen Blambangan yang didominasi warna merah, hitam dan emas merupakan upacara adat pengantin masyarakat kelas menengah. Sekar Kedaton Wetan merupakan upacara adat untuk pengantin kaum bangsawan yang nantinya akan diperagakan penampil dengan kostum dominasi warna hijau dan perak. (Humas Protokol)  

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :