Antusiasme Warga Muncar Jadi Tuan Rumah Kejuaraan BMX Internasional

Minggu, 3 April 2016


BANYUWANGI - Menjadi tuan rumah kejuaraan internasional balap sepeda BMX, warga Desa Kedungrejo, Muncar, Banyuwangi sangat antusias. Mereka dengan suka cita bekerja bakti mulai membersihkan lingkungan, menjaga keamanan bahkan sebagian merelakan rumahnya dijadikan homestay bagi pembalap secara cuma-cuma.

Tidak pernah dibayangkan Sugiyanto (55), warga Desa Kedungrejo, Muncar jika sirkuit BMX yang berada di depan rumahnya bakal menghelat kejuaraan internasional. "Dikasih tahu kalau bakal banyak pembalap top dan asing datang ke sini. Kita senang sekali karena desa ini dikunjungi banyak orang," kata Sugiyanto.

Dua hari sebelum dihelat, Sugiyanto bersama warga sekitar gotong royong membersihkan lingkungannya menyambut kejuaraan yang digelar pertama kali ini.

Sugiyanto pun merelakan rumahnya ditempati peserta. "Kebetulan rumah kami ditempati atlet dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya sangat bangga mereka menginap di rumah kami, tidak usah bayar tidak apa-apa. Apalagi ini kan kejuaraan berkelas internasional yang digelar di desa kami, sebagai tuan rumah tentunya kami akan layani mereka sebaik-baiknya," ujar Sugik, panggilan akrabnya. 

Homestay dadakan ini, akhirnya bermunculan di Sirkuit Muncar. Belasan rumah sederhana penduduk jadi homebase para pembalap yang datang dari luar kota Banyuwangi.

"Kami tidak menjual makanan namun kalau mereka meminta kami akan menyediakan dengan harga yang cukup murah sesuai lauk yang mereka pesan," kata Slamet, warga desa yang juga rumahnya dijadikan homestay.

Kejuaraan internasional BMX ini juga memikat apparel luar kota membuka stand di lokasi perlombaan. Salah satunya adalah Elclothes 44 dari Malang. Apparel yang mensponsori Elga Kharisma Novanda tersebut, tidak hanya menjual kaos, namun juga topi dan merchandise.

"Kami biasanya memasarkan produk lewat online. Melalui even ini kami coba membuka stan. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Kami bisa naikkan omset hingga 3 kali lipat," ujar penjaga stan Elclothes 44. 

Selain homestay, warga sekitar juga banyak yang membuka warung. Salah satunya, Bu Subari (63), penjual soto di sudut barat sirkuit. Ia mengaku bisa mendapatkan keuntungan sampai 10 kali lipat. Di hari pertama saja, ia bisa meraup untung Rp. 1 juta. Padahal di hari- hari biasa,  ia hanya mampu mendapatkan Rp. 100 ribu per hari. "Alhamdulillah, saya mendapatkan berkah dari kejuaraan ini," kata Subari. 

Sementara itu, Bupati banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa event Banyuwangi Festival digelar sengaja untuk mempromosikan daerah yang ujungnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Berdasarkan data BPS pendapatan perkapita Banyuwangi melonjak 62 persen dari yang 2010 Rp 20,8 juta/orang/tahun menjadi Rp 38 juta/orang/rahun pada tahun 2015. Angka ini berhasil melampaui sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur yang sebelumnya selalu di atas Banyuwangi," ujar Anas.  (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :