Aparat Pemprov Jatim Belajar Entrepreneurship di Banyuwangi

Jumat, 18 September 2015


BANYUWANGI – Tertarik dengan kemajuan yang dicapai oleh Banyuwangi,  Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) se Jawa Timur beserta jajaran SKPD Pemprov Jatim melakukan  studi lapangan pelatihan entrepreneurship di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini, Sabtu (18/9). Banyuwangi pun dijadikan contoh sebagai kabupaten yang tata kelola pemerintahannya dianggap penuh inovasi karena menjalankan konsep birokrat yang berjiwa wirausaha.

Kepala BKD Provinsi Jatim, Siswo Heroetoto, mengatakan dia sengaja mengajak rombongan kepala BKD se Jatim dan sejumlah SKPD Pemprov Jatim ke Banyuwangi untuk melihat secara langsung berbagai kemajuan yang telah dicapai Banyuwangi. “Kami ajak 38 kepala BKD se Jatim, 64 kepala kepala SKPD Pemprov, dan 40 PNS muda Pemprov Jatim peserta pelatihan entrepreneurship ke Banyuwangi. Biar mereka bisa melihat dari dekat bagaimana aparat Banyuwangi bekerja,” kata Siswo.

Menurut Siswo, semua keberhasilan yang telah dicapai Banyuwangi ini tak lepas dari peran pemimpinnya yang inovatif. Namun di balik itu, lanjut dia, aparatur di Banyuwangi pasti memiliki jiwa entrepreneur. Jiwa entrepreneurship yang dimaksud Siswo adalah birokrat yang mampu mengelola sumber-sumber yang berupa kesempatan dan tantangan menjadi hasil.

“Birokrat di sini kami anggap memiliki kemampuan kuat untuk berkarya dengan semangat kemandirian. Termasuk juga dalam menjalankan tugasnya, pemimpin dan jajarannya memiliki kolaborasi yang baik, hubungannya pun cair dan tidak mengutamakan ego SKPD masing-masing. Dengan gaya seperti ini, mungkin ini yang membuat Banyuwangi bisa menghasilkan karya-karya inovatif yang kreatif,” ujar Siswo.

Kepala bidang formasi dan pengembangan BKD Provinsi Jatim, Eka Agus Cahyono, menambahkan Pemprov Jatim menggelar pelatihan entrepreneurship bagi PNS yang berusia muda. Pelatihan ini digelar untuk membekali pegawai memiliki jiwa inovatif, kreatif dan tidak takut gagal dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Saya melihat Banyuwangi sudah menjalankan konsep ini. Makanya pada pelatihan kali ketiga ini, Banyuwangi kami pilih sebagai obyek studi lapangannya. Para peserta kami minta untuk belajar memetakan potensi dan berusaha menjadikannya sebagai sesuatu yang inovatif. Kita minta belajar dari aparat di sini, bagaimana mereka bisa menciptakan peluang ekonomi kreatif dari apa yang telah mereka miliki sebelumnya,” kata Eka.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan birokrasi entrepreneurship  memang sangat penting, khususnya bagi Banyuwangi. Sehingga diharapkan Banyuwangi bisa dengan cepat mengejar ketertinggalan dari daerah lain. “Makanya saya agak ‘cerewet’ kepada para birokrat di sini. Karena saya berharap semua PNS lebih peka dan tangguh menghadapi tantangan kerja. Intinya PNS harus handal sebab prestasi yang telah kita raih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan target yang harus dicapai,” kata Bupati Anas. (Humas Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :