Asosiasi Seksologi Indonesia Gelar Simposium di Banyuwangi

Kamis, 18 Agustus 2016


Asosiasi Seksologi Indonesia Gelar Simposium di Banyuwangi

BANYUWANGI - Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) kembali menyelenggarakan acara ilmiah. Pertemuan Ilmiah Duatahunan IV digelar di Hotel Santika, Banyuwangi, mulai 18 – 20 Agustus 2016.

Acara ini dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwa Anas, dan diikuti sekitar 100 dokter Spesialis Andrologi (Persandi) dari berbagai wilayah di Indonesia. Mulai Jambi, Medan, Manado, Pontianak, Makasar, Bali, NTB, Jakarta, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Sebelum di Banyuwangi, simposium ASI digelar di Kota Katulistiwa Pontianak.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anas mengapresiasi penyelenggaran simposium ini di Banyuwangi. Apalagi ini diikuti para dokter spesialis andrologi dari seluruh Indonesia yang akan membahas seputar permasalahan seksologi terkini. “Selamat datang di Banyuwangi dan terima kasih atas kehadiran disini. Mungkin setelah acara ini selesai, bisa mengunjungi beberapa destinasi di Banyuwangi, kami punya banyak destinasi wisata,”ujar Anas.  

Terkait dengan isu seksologi sendiri, Anas memandang penting untuk dibicarakan. Sebab, seksologi merupakan hal mendasar dan konseptual yang telah ada pada diri manusia. Bahkan, dalam ilmu agama pun masalah seksologi telah diajarkan secara lengkap dan menyeluruh. “Masalah seksologi tidak akan pernah habis dibicarakan. Dan ini selalu kontekstual dibahas pagi siang maupun malam. Bahkan di dalam terminologi Agama Islam khususnya di persantren sudah tidak asing. Karena hampir setiap hari, pertama kali masuk yang dibahas adalah thaharoh.  Dengan acara ini semoga bisa menghasilkan cara-cara baru penanganan berbagai permasalahan bidang seksologi,” kata Bupati Anas.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And menyampaikan perlunya, pertemuan Ilmiah Duatahunan (PID) ini kembali digelar. “Bagi sebagai profesional di bidang seksualitas, penanganan sejumlah permasalahan tidak atas dasar mitos, budaya, dan bahkan pemahaman agama saja. Tetapi akan kita selesesaikan dengan ilmiah salah satunya lewat ini,” ujar Wimpi.

Sebagai seorang profesional, kata Prof Wimpi, dalam menghadapi berbagai masalah seksual, berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan terkini di bidang Seksologi. Tanpa mengikuti perkembangan ini maka penanganan berbagai kasus seksualitas tidak akan mencapai hasil yang optimal.

Apalagi, dalam satu dua tahun terakhir ini, muncul beberapa isu panas terkait seksualitas yang sempat menjadi topik di masyarakat luas. Tragedi Yuyun, seorang pelajar 14 tahun yang meninggal setelah diperkosa oleh 14 remaja berusia 16-23 tahun harus menjadi perhatian kita. Panasnya tragedi ini segera memunculkan kembali desakan hukuman “Kebiri kimia”.

Sebelum itu lanjut dia, topik “LGBT” menjadi topik yang seru dibahas walaupun kemudian keluar dari konteks ilmiah. Kekerasan seksual terhadap anak, laki- laki dan perempuan, sebelumnya sempat menjadi topik panas juga dengan topik Pedophilia. Semua peristiwa terkait seksualitas seolah tak pernah berhenti karena manusia memang mahluk seksual.

“Karena itu pada acara tahun ini, kami mengangkat berbagai isu itu dalam simposium yang harus kita bahas bersama secara ilmiah,” ujarnya.

Selain masalah seksual, pertemuanIlmiah Duatahunan IV ini juga akan membahas berbagai pencegahan penyakit dalam tubuh yang sering kita temui dalam praktek sehari-hari, kebugaran dan menjaga kestabilan tubuh, dan tidak lupa sexuality dengan segala permasalahannya yang mungkin akan kita jumpai pada pasien kita, “Sexuality in Indonesia Now”. (Humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :