Banyuwangi Bentuk Inspektur Cilik di Sekolah-Sekolah

Rabu, 18 Januari 2017


Banyuwangi - Meningkatkan kesadaran siswa untuk menjaga konsumsi makanan sehat, Banyuwangi akan membentuk Inspektur Cilik. Inspektur yang dijabat oleh siswa ini akan mengawasi temannya untuk tidak jajan makananan yang mengandung zat membahayakan tubuh. 

Hal itu dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat pertemuan dengan 153 calon kepala sekolah Sekolah Dasar di pendopo Banyuwangi, Rabu (18/1). Anas mengatakan sengaja membentuk pengawas cilik ini karena saat ini banyak jajanan yang dijual di sekitar sekolah mengandung zat berbahaya. 

"Ini sangat membahayakan masa depan generasi kita. Pola makan seperti ini harus mulai kita ingatkan ke anak-anak kita. Ini salah satu tugas inspektur cilik, mengingatkan sesama temannya untuk tidak mengkonsumsi makanan yang berbahaya," ujar Anas. 

Inspektur ini, kata Anas, akan dibentuk di tiap kelas. Bila inspektur ini mengetahui ada temannya jajan yang tidak sehat, dia bisa langsung mengingatkan temannya atau lapor ke guru dan kepala sekolah langsung. 

"Bukan hanya mengawasi jajanan temannya, namun Inspektur Cilik juga harus melaporkan ke pihak sekolah bila ada temannya yang tidak bisa sekolah maupun yang berpotensi tidak bisa melanjutkan sekolah. Biasanya siswa lebih tahu dulu kondisi temannya," kata Anas. 

Meskipun ada inspektur cilik, namun kata Anas, pengawasan makanan ini tetap menjadi tanggung jawab pihak sekolah, terutama kepala sekolah. Karena, menurut Anas, soal kesehatan bukan hanya tanggung jawab bidang kesehatan saja. 

"Sekarang ini pola makan kita sudah berubah, banyak yang menggangu kesehatan. Dibutuhkan langkah preventif. Untuk itu, tugas kepala sekolah salah satuny memastikan siswa mengonsumsi makanan yang tidak berbahaya di lingkungan sekolah," jelas Anas. 

Anas pun menegaskan kepala sekolah harus berani mengajak penjaja makanan di sekolah untuk duduk bareng. Harus bisa mengajak mereka untuk tidak menggunakan bahan makanan berbahaya, seperti zat pewarna pakaian ataupun minyak yang dioakai berulang kali. 

"Masa SD dan TK ini penting, karena mereka dalam masa pertumbuhan. Semua sekolah harus melakukan ini, sekolah harus kompak melarang pedagang menjajakan makanan yang tidak sehat," ajak dia. 

Dalam kesempatan itu, Anas juga meminta kepada sekolah untuk menjadi manajer di sekolahnya, yakni bertanggung jawab terhadap anak didik juga terhadap lingkungan di sekitar sekolahnya.

"Sudah tidak ada alasan lagi bagi kepala sekolah untuk tidak bisa menyelesaikan masalah anak  putus sekolah. Pemkab dan juga aparat desa serta masyarakat sudah memiliki jaring pengaman untuk mereka. Mulai dari program garda ampuh, siswa asuh sebaya, hingga beasiswa Banyuwangi Cerdas," tegas Anas.

Selain itu, kepala sekolah diminta lebih perhatian kepada lingkungan sekitar sekolah agar lebih asri, serta melakukan pendampingan kepada anak didik dari penggunaan media telekomunikasi dan tindak kekerasan pada anak. "Ajari mereka untuk berani melaporkan jika mendapat perlakuan kekerasan di tempat tinggalnya. Kita kan punya unit reaksi cepat Banyuwangi Children Center," tegasnya. 

Kepala sekolah juga harus bisa memotivasi kegiatan positif di luar jam sekolah. "Bisa dengan menumbuhkan kegiatan kebudayaan di lingkungan sekolah. Dan, saya mohon, setiap Jumat bagi guru dan siswa Muslim mengadakan tahlil dan sholawatan," pungkas Anas. (Humas)

 


Berita Terkait

Bagikan Artikel :