Banyuwangi Beri Ruang Untuk UMKM
Selasa, 10 Desember 2013
BANYUWANGI – Banyuwangi mulai memberikan ruang untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk semakin melebarkan sayapnya. Kesan itu tampak saat Banyuwangi Expo 2013 sekaligus Festival Kuliner serta Pameran Lukisan dan Patung resmi dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Senin (9/12) kemarin. Pameran yang diselenggarakan pada tanggal 9 – 16 Desember ini diisi dengan berbagai stand yang menampilkan keunggulan yang dimiliki Banyuwangi.
Penyelenggaraan pameran ini, ujar Bupati Anas, sekaligus menjadi ajang untuk menunjukkan pada masyarakat sejauh mana kualitas pelayanan publik di Banyuwangi berkembang. Begitu pun dengan UMKM dan ragam kuliner khasnya. “Dengan ditampilkannya produk-produk UMKM dalam pameran semacam ini, ternyata makin membuka mata kita bahwa begitu banyak potensi yang dimiliki Banyuwangi dan masih bisa terus di-explore.Ada kerajinan batik Banyuwangi, asesoris, berbagai jenis souvenir dari kayu kelapa, dan masih banyak lagi,”tutur bupati yang spontan memberikan pujiannya atas pelaksanaan pameran yang terkesan jauh lebih rapi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Terkait kuliner, kata bupati, makanan khas Banyuwangi itu sendiri sekarang sudah mulai dikenal dan banyak peminatnya. Awalnya, lanjut bupati, orang tertarik dari namanya yang unik dan dikenal suka mencampur lebih dari satu jenis makanan seperti rujak soto atau pecel rawon. Semakin kesini ternyata tak hanya dua jenis makanan itu yang mendapat tempat di hati wisatawan. “ Ada salah satu rumah makan di Banyuwangi yang dikenal dengan Kare kepala ikan Blambangan-nya. Ketika rumah makan ini ikut pameran kuliner di Bali, ternyata hidangannya ini sangat digemari, sehingga wisatawan yang datang berkunjung, sebanyak 20 bus seluruhnya memesan makanan ini. Targetnya, ke depan kita akan terus memperbaiki cita rasa dan performance makanan yang bisa memikat hati wisatawan, sehingga itu akan menarik minat mereka untuk bisa berkunjung kembali ke Banyuwangi,”tandas bupati.
Terletak di beberapa area, pameran ini terbagi atas sejumlah stand. Di sepanjang jalan di depan Gesibu terdapat 54 stand pelayanan publik, instansi vertikal, BUMN dan BUMD, dan Perguruan Tinggi. Area dalam Gesibu dipenuhi oleh 140 peserta pameran bonsai tingkat Jawa Timur dan lomba adenium se-Jawa Bali, juga 129 peserta kontes pisang yang diikuti beberapa desa dan kecamatan di Banyuwangi. Uniknya, tak hanya sekedar memamerkan pisang yang menjadi salah satu komoditi unggulan Banyuwangi, tapi juga ditampilkan aneka jajanan berbahan dasar pisang yang diikuti oleh 54 peserta.
Beberapa makanan khas Banyuwangi turut menyemarakkan festival kuliner yang bertempat di areal trotoar selatan Gesibu. Ada 14 stand yang memamerkan hidangan khas Bumi Blambangan, diantaranya sego gepuk remuk, jangan lompong Osing, soto dan bakso Osing, tahu petis Gandrung, pecel rawon, rujak soto, rujak bakso, kare kepala ikan Blambangan, dan jenis-jenis jajanan pasar seperti ketan kirip, ketan abang, orog-orog, lopis, lanun, klepon, uleng-uleng dan cenil. Tak ketinggalan, 20 stand UMKM binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) yang menjual aneka kerajinan. Juga terdapat beberapa stand tanaman hias dan tanaman buah yang disertai lomba penataan taman mini outdoor yang diikuti 10 peserta. Sementara secara bersamaan di Gedung Wanita juga ada pameran lukisan dan patung yang diikuti 200 peserta. Baru hari pertama dibuka, seluruh stand yang ada mampu menyedot begitu banyak animo masyarakat. Terbukti dari ramainya kunjungan masyarakat Banyuwangi di seluruh stand hingga malam hari. (Humas & Protokol)