Banyuwangi Children Center Berjalan Efektif, Pemkab Akan Tambah Anggaran P2TP2A

Rabu, 15 Juni 2016


BANYUWANGI - Setelah pemkab membentuk Banyuwangi Children Center (BCC), kerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banyuwangi kian meningkat. Ini karena, BCC ternyata sangat efektif untuk menangani kasus kekerasan terhadap anak. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan BCC yang merupakan pusat perlindungan anak ini ternyata mendapat respon positif. Banyak pihak yang melaporkan masalah anak. Bahkan anak-anak bisa langsung mengirim keluhan atau permasalahan ke BCC. Rata-rata tiap harinya BCC mendapat empat sampai lima informasi terkait masalah anak. Namun dari sekian banyak informasi yang masuk, terdapat sekitar 10 kasus yang membutuhkan penanganan serius.

"Ketika ada informasi masuk, tim langsung menanganinya. Baik Camat, Kepala desa, UPTD pendidikan terkait, langsung merespon. Muaranya akhirnya pada P2TP2A. Karena itu sebagai apresiasi, kami akan menambah anggaran operasional mereka," kata Bupati Azwar Anas saat rapat koordinasi dengan SKPD di Pendopo Banyuwangi, Selasa (14/6).

Ditambahkan Azwar Anas, dukungan anggaran itu akan diberikan dalam bentuk mobil operasional khusus P2TP2A, anggaran operasional, hingga menaikkan honor bagi anggota P2TP2A yang kinerjanya khusus menangani kasus perempuan dan anak.

"Ini sebagai bentuk penghormatan kami. Karena kerja mereka yang saat ini tambah banyak," kata Anas. Pemkab Banyuwangi juga telah menyiapkan ”Rumah Aman” bagi anak yang menjadi korban. Di tempat itu mereka akan didampingi, baik untuk pemulihan psikis maupun fisiknya.

Sejak diluncurkan 21 Mei lalu, BCC mendapatkan tanggapan positif dari warga Bumi Blambangan. Tidak hanya warga dewasa yang mengadukan perlakuan kekerasan terhadap anak yang terjadi di sekitar lingkungannya, BCC juga menjadi tempat aduan langsung dari anak-anak yang mengalami permasalahan.

Seperti aduan dari anak perempuan yang masih kelas 6 SD, di Wilayah Kecamatan Cluring pada Minggu (12/6). Lewat BCC, anak berusia 12 tahun itu, berharap bisa dipertemukan dengan orang tua kandungnya. Kasus ini pun segera ditindak lanjuti oleh tim BCC di wilayah aduan berasal.

Setelah mendapatkan data dan alamat dari anak tersebut, Minggu malam itu juga, hanya selang 2 jam, camat kepala desa setempat segera mendatangi rumah dimana anak itu tinggal untuk menggali keterangan lebih lanjut. 

Anak itu kini ditangani P2TP2A, terkait memahamkan tentang siapa orang tuanya. Karena, untuk melakukan hal tersebut butuh pendamping khusus atau semacam konselor yang bisa menyampaikan sesuai dengan kondisi anak tersebut.

Selain kasus tersebut seminggu sebelumnya BCC juga menerima laporan dari siswi lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang ingin melanjutkan pendidikan setara SMA namun terbentur biaya. Anak yatim piatu tersebut mengirim pesan pendek ke BCC tentang kondisinya yang tinggal bersama kakek dan nenek-nya yang pemulung. Anak tersebut sekarang langsung didaftarkan ke SMK Puspa Bangsa Cluring, dan langsung mendapatkan orang tua asuh yang bersedia menjamin pendidikannya hingga perguruan tinggi. 

"BCC ini salah satu upaya untuk mengantisipasi dan menangani kekerasan anak. Ternyata responnya sangat positif," kata Anas. (humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :