Banyuwangi dan Pelindo III Jalin Sinergi Jadikan Pantai Boom Wisata Bahari Terintegrasi
Senin, 23 Maret 2015
BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi dan PT Pelindo III (Persero) menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) tentang pengelolaan wisata Pantai Boom. Kerja sama ini diteken GM PT Pelindo III Cabang Tanjung Wangi Bangun Swastanto dan Plt Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Yanuar Bramuda.
Dalam PKS tersebut diatur mengenai bentuk kerja sama berupa uraian hak dan kewajiban kedua pihak baik Pelindo maupun pemerintah daerah dalam pengembangan Pantai Boom, mulai dari pengelolaan tiket masuk, jasa parkir kendaraan, kebersihan, keamanan hingga promosi dan pemasaran kawasan wisata Pantai Boom.
Bramuda mengatakan, setelah penandatanganan PKS, pihak Pelindo III segera membuat masterplan penataan kawasan Pantai Boom dengan melibatkan arsitek nasional Ahmad Djuhara. Pantai Boom yang memiliki luas 44,2 hektar ini akan diarahkan untuk pengembangan wisata maritim terpadu. Namun tidak semua kawasan ini akan dikembangkan secara komersil. Akan dibagi zona-zona seperti kawasan komersil, publik dan kawasan perikanan. “Masyarakat umum masih tetap bisa ke Pantai Boom seperti biasanya, begitu juga nelayan tetap bisa melakukan aktifitasnya,” terangnya saat dihubungi.
GM PT Pelindo III Cabang Tanjung Wangi Bangun Swastanto menambahkan, dalam mengelola Pantai Boom, Pelindo III akan melibatkan anak perusahaannya, yaitu PT Pelindo Properti Indonesia (PPI). "Nantinya Pemkab Banyuwangi, Pelindo III, dan PPI akan membentuk semacam perusahaan patungan (joint venture) yang akan mengurusi semua hal terkait pengembangan Pantai Boom," kata Bangun.
Presiden Direktur PPI Prasetyo mengatakan, Pantai Boom diproyeksikan sebagai kawasan wisata maritim terlengkap di Indonesia. Kawasan ini akan dilengkapi marina (dermaga sandar yacht/kapal pesiar), hotel, restauran dan pusat hiburan. “Pantai Boom sangat potensial untuk dikembangkan dengan konsep tersebut," ujar Prasetyo.
Banyuwangi, kata Prasetyo, memiliki destinasi wisata yang sangat beragam dan unik. Mulai wisata pantai seperti Pantai Pulau Merah, Pulau Tabuhan, dan Teluk Hijau. Selain itu, ada wisata gunung di Kawah Ijen serta wisata petualangan di Taman Nasional Alas Purwo dan Sukamade. “Destinasi inilah yang menjadi daya tarik pemilik yacht. Karena saat sandar, biasanya mereka akan mencari obyek wisata di sekitarnya, dan Banyuwangi punya itu,” kata Prasetyo.
Sebagai langkah awal, lanjut Prasetyo, pengembangan Pantai Boom dimulai dengan pembangunan marina. Pembangunan ini akan dimulai pada akhir 2015 dan ditargetkan sudah bisa beroperasi ada awal 2017. "Tahun ini setelah masterplan selesai, langsung kita kebut dengan studi kelayakan sehingga bisa langsung membangun. Marina ini nantinya mampu menampung hingga 40 yacht. Untuk selanjutnya kita juga membuka peluang bagi investor untuk melengkapi fasilitas lainnya seperti hotel dan pusat hiburan,” terang Prasetyo.
Prasetyo pun telah memiliki beberapa strategi untuk mempromosikan kawasan wisata maritim Pantai Boom. Salah satunya menawarkan Pantai Boom kepada ke beberapa klub layar dunia. Prasetyo sudah bertemu operator Fremantle Sailing Club. Operator ini biasanya melakukan rally laut dengan kapal yacht yang biasanya menempuh rute Bali-Lombok-Labuan Bajo. “Kami usahakan menambah rutenya mulai dari Pantai Bom Banyuwangi,” ujar Prasetyo. (Humas Protokol)