Banyuwangi Festival Berhasil Picu Kreativitas Warga
Sabtu, 7 Mei 2016
BANYUWANGI – Sejak dimulai pada tahun 2012, even Banyuwangi Festival terus meningkat jumlahnya. Mulai awal berlangsungnya yang menggelar 12 event, tahun ini telah mencapai 53 event. Ini membuktikan masyarakat Banyuwangi mulai bersemangat mengangkat potensi lokalnya menjadi sebuah daya tarik wisata. Seperti Osing Culture Festival yang digelar pada Sabtu (7/5) di Desa Banjar Licin.
Osing Culture Festival yang baru pertama kali masuk helatan Banyuwangi Festival 2016 ini merupakan inisiatif dari warga Desa Banjar sendiri. Melihat pariwisata Banyuwangi yang berkembang, terutama Gunung Ijen yang mampu menyedot ribuan wisatawan menimbulkan ide dari masyarakat setempat untuk mengolah potensinya menjadi sebuah daya tarik wisata.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka Osing Culture Festival mengatakan menjadi even yang spesial karena idenya berasal dari inisiatif warga Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Tradisi menyadap nira yang berlangsung turun temurun dengan semua prosesnya, menurut dia, ternyata mampu disuguhkan menjadi sebuah atraksi wisata yang menarik dan unik.
“Saya sangat mengapresiasi event ini, karena tumbuh dari prakarsa masyarakat untuk mengangkat potensi daerahnya menjadi sebuah atraksi wisata. Ini membuktikan masyarakat mempunyai konsep, kreativitas, dan memiliki harapan untuk memajukan desanya,” ujar Anas.
Menurut Anas, kreativitas masyarakat ini yang membuat dunia pariwisata Banyuwangi berkembang. Lantaran basis pertumbuhan pariwisatanya berasal dari tradisi masyarakat yang berkembang secara turun temurun. “Banyuwangi Festival yang dulu kita maksudkan sebagai pemicu tumbuhnya kreasi masyarakat dari bawah, ternyata berhasil. Banyak desa yang memiliki tradisi kuat dan kreasi tinggi meminta kepada kami untuk masuk kalender Banyuwangi Festival. Dan tidak main-main, tradisi masyarakat di sini ternyata sangat kuat, dan memiliki daya pikat wisatawan,” ujar Anas.
Bagi Anas, sektor pariwisata ini mampu mendorong kreativitas warga, tumbuhnya rasa seni masyarakat, hingga melestarikan maupun menciptakan kuliner khas mereka. “Bukan itu saja, pariwisata bagi kami sebagai bentuk konsolidasi bagi masyarakat. Contohnya event Using culture ini yang merupakan murni gagasan dari masyarakat, mereka semua bergotong royong mempersiapkan even ini supaya menarik. Semua yang mengerjakan event ini warga, kami hanya membantu promosi dan manajemen acaranya saja,” ujar Anas.
Banyuwangi Festival saat awal digelar pada tahun 2012 memasukkan 12 event dalam kalendernya. Dari tahun ke tahun evennya terus bertambah. 2013 ada 15 event, 2014 (23), 2014 (38), dan 2016 (53). Penambahan even ini tidak hanya berasal dari even yang digelar oleh pemerintah daerah, namun juga berasal dari tradisi yang lama berkembang di masyarakat, seperti Using Culture Festival tersebut. Selain Osing Culture Festival, sebelumnya beberapa seni tradisi masyarakat telah lebih dulu diangkat lewat B-Fest seperti Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah; Tradisi Seblang di Desa Oleh sari dan Desa Bakungan, Glagah; Kebo-Keboan Alas Malang di Desa Alas Malang, Singojuruh.
“Tahun ini saja ada tradisi lama masyarakat seperti Puter Kayun, Petik Laut Muncar, dan Gredoan dari Desa Macan Putih Kabat kami masukkan agenda Banyuwangi Festival 2016,” ujar Anas.
Selain itu beberapa jadwal B-Fest yang juga berasal atas inisiatif masyarakat adalah Festival Karo Rafting & Kali Badeng yang mempromosikan alam Songgon, Banyuwangi Underwater yang mengangkat destinasi Wisata Laut Bangsring dan Ijen Summer Jazz di Java Banana, Ijen.
Ditambahkan Anas, sektor pariwisata digenjot karena terbukti ikut mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan per kapita Banyuwangi melonjak 80 persen dari Rp 20,8 juta (2010) menjadi Rp 37,53 juta (2015). Pendapatan per kapita Banyuwangi sudah berhasil melampaui sejumlah kabupaten/kota di Jatim yang sebelumnya selalu di atas Banyuwangi. "Sektor wisata juga menjadi pengungkit sektor lain seperti infrastruktur. Tahun ini target pembangunan dan perbaikan jalan kami sepanjang 800 kilometer. Beberapa destinasi wisata harus bagus aksesnya, kecuali yang memang dikonsep adventure. Di beberapa destinasi wisata, tahun ini kami bangun dan perbaiki aksesnya seperti di Pantai Bangsring,” ujarnya.
Geliat bisnis dan pariwisata tecermin dari lonjakan penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang mencapai 1.308 persen dari hanya 7.826 penumpang (2011) menjadi 110.234 penumpang (2015). Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di Banyuwangi pada tahun ini ditargetkan mencapai 50.000 orang, naik dibanding tahun lalu yang sekitar 40.000 orang. Adapun wisatawan domestik ditargetkan bisa menembus 2 juta orang dari posisi tahun lalu sebesar 1,7 juta. Jumlah wisatawan ini diverifikasi dari data hotel dan pengelola destinasi wisata.
Sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata di Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga tumbuh pesat. Berdasarkan data BPS, nilai akomodasi dan makan-minum yang berkaitan dengan hotel dan bisnis kuliner meningkat sekitar 80 persen dari Rp 666 miliar (2010) menjadi Rp 1,19 triliun (2014). Total PDRB melonjak dari Rp 32,46 triliun (2010) menjadi Rp 60,05 triliun (2015) atau naik hingga 85 persen. (Humas)