Banyuwangi Gandeng HIPPA Bangun Irigasi Tersier
Kamis, 8 September 2016
BANYUWANGI – Sebagai penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar, sektor pertanian mendapatkan perhatian serius dari pemkab Banyuwangi. Di antaranya meningkatkan kapasitas ketersedian air yang akan disalurkan ke lahan pertanian. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Banyuwangi menggandeng Gabungan Himpunan Petani Pengguna Air (GHIPPA) untuk pengembangan dan rehabilitasi jaringan irigasi.
Dalam kerjasama yang diluncurkan pada Kamis (8/9), di Kantor Koordinator Eksploitasi Air Irigasi Kecamatan Srono, Dinas PU Pengairan memberikan bantuan dana kepada 7 GHIPPA. Dana tersebut kemudian dikelola mandiri oleh masing-masing untuk membangun maupun merehabilitasi saluran irigasi tersier di daerahnya.
"Tahun 2016 ini, ada 7 GHIPPA dengan total anggaran Rp . Di antaranya GHIPPA Sumber Kajar, Songgon; Tri Gama, Songgon; GHIPPA Sekar Arum, Kabat; dan GHIPPA Tirto Kalibaru Manis, Kalibaru," ujar Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo.
Dijelaskan Guntur, program kerjasama ini merupakan kelanjutan dari program Water Resources and Irrigation Sector Management Program (WISMP), program nasional pengelolaan sumber daya air dan irigasi dengan memanfaatkan dana pinjaman luar negeri (Bank Dunia). WISMP sendiri telah dimulai semenjak tahun 2007.
“Karena program ini kami nilai baik, maka kami berinisiatif untuk melanjutkan program yang akan berakhir tahun ini dengan menggunakan anggaran daerah. Sepertinya, untuk daerah lain masih belum ada yang melakukan tindak lanjut seperti ini,” tutur Guntur.
Guntur menilai program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena program WISMP ini melatih ketrampilan anggota HIPPA, mulai dari manajemen pengelolaan, pengentahuan sosio ekonomi untuk mengembangan usahanya, hingga pelatihan praktis tata cara pembangunan dan rehab irigasi di desanya.
“Pada tahun sebelumnya, setiap GHIPPA telah mendapat beragam pelatihan, mulai dari bagaimana memperbaiki irigasi, menghitung debit air, mengembangkan uang kas anggota dan lainnya. Maka, saat ini, mereka terlibat secara partisipatif secara langsung,” cetus Guntur.
Maka secara bertahap, pada tahun ini APBD Banyuwangi mulai melakukan pembiyaan program tersebut terhadap 3 GHIPPA, sisanya yang 4 pendanaan dari WISMP. Mengingat GHIPPA telah dinilai memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Ke depannya, lanjut dia, program ini akan terus ditingkatkan dengan memperbanyak GHIPPA untuk terlibat dalam kerjasama tersebut. “Tahun depan, kami targetkan lebih dari 10 GHIPPA yang akan ikut kerjasama ini,” ungkap Guntur.
Upaya lain Dinas PU Pengairan meningkatkan kecukupan air adalah membangun embung baru. Pada tahun ini akan dibangun 20 embung yang tersebar di berbagai daerah di Banyuwangi. “Untuk sementara ini, pembangunannya berada di daerah Genteng, Songgon dan Sempu,” lanjut Guntur.
Masing-masing embung, menurut Guntur yang juga Ketua ISSI Jatim itu, akan mampu menampung 1.000 sampai 2.000 L3. Pembangunan embung ini merupakan alternatif selain pembangunan waduk yang berskala sedang maupun besar. Jika menggunakan sistem embung, menurut Guntur, tak perlu melakukan pembebasan lahan, karena hanya memanfaatkan ceruk-ceruk kosong.
“Sampai saat ini, sudah ada 80 titik ceruk yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan embung,” ungkapnya. (Humas).