Banyuwangi Gelar Festival Pendidikan

Kamis, 27 April 2017


BANYUWANGI – Menjelang Hari Pendidikan Nasional, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Pendidikan. Sebuah festival yang menampilkan beragam inovasi dan kreasi para pelajar dari jenjang SD hingga SLTA.

Even yang masuk agenda Banyuwangi Festival 2017 ini dipusatkan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bajulmati, Wongsorejo, Kamis (27/4). Ribuan siswa dan pendidik terlihat meramaikan festival dimaksud.

Festival Pendidikan dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas via whatsapp call, karena sedang menghadiri High Level Meeting Leadership Enhancement and Administrative Development for Innovative Governance in Asia (LEADING) di Tokyo Jepang.

Anas mengatakan pendidikan adalah pilar utama untuk mencapai kemajuan sebuah bangsa. Untuk itu, guru dan generasi muda sangat berperan penting.

"Pemkab terus berkomitmen meningkatkan pendidikan. Porsi APBD terbesar masih untuk pendidikan untuk mendukung berbagai program pendidikan agar warga bisa menikmati pendidikan yang lebih baik dan jenjang lebih tinggi," ujar Anas.

Di hadapan para siswa tersebut, Anas juga mendorong mereka terus meningkatkan kapasitasnya untuk bisa bersaing di ranah global. Meski maju, lanjut Anas, kita tetap harus berpijak pada budaya dan tradisi lokal yang luhung. "Contohlah Jepang, mereka maju tapi tradisinya tetap dipegang kuat. Semua harus percaya diri," seru Anas.

Festival pendidikan adalah wadah kretivitas dan inovasi sekolah dari jenjang PAUD hingga SLTA. Dalam festival ini, inovasi-inovasi sekolah dipamerkan dalam etalase pameran pendidikan.  Antara lain, gerakan sepeda ontel oleh beberapa SD, Program Siswa Asuh Sebaya, karya solar cell oleh siswa SMK, hingga program peduli lingkungan laut seperti yang yang digagas SD Islam Sunan Kalijaga Wongsorejo.

SD Sunan Kalijaga yang lokasinya berada di kawasan pesisir Desa Sumber Kencoco ini menampilkan program peduli lingkungan laut lewat marine education. Karena berada di pinggir pantai, sekolah menyediakan jaring keramba untuk memelihara ikan, dan siswa diberi kebebasan memelihara ikan di sini.

”Kami ingin mengenalkan lingkungan laut pada siswa, tidak hanya teori namun juga praktek langsung. Mereka kami ajak memelihara ikan dalam keramba agar nilai ekonomisnya bertambah,” ujar Kepala Sekolah SD Islam Sunan Kalijaga, Ridwan Hasan.

Selain unjuk inovasi program, even dimaksud juga menampilkan permainan tradisional, seperti lomba egrang, kelompen, dagongan, gobag sodor. “Permainan ini sebagai media pengungkit semangat kekompakan dan kebersamaan antar pendidik, sehingga bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Kalau semua kompak dan mau bergotong royong, semua program pendidikan akan dapat terwujud,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Sulihtiyono.

Banyuwangi sendiri selama enam tahun terakhir ini telah menggagas sejumlah inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di antaranya, Siswa Asuh Sebaya (SAS), sebuah program kepedulian oleh para siswa didik mampu untuk membantu siswa yang tidak mampu. Sejak dilaunching 2013 hingga saat ini, telah terkumpul Rp 9,5 miliar.

“Jumlah ini, 90 persennya telah terdistribusi untuk membantu meringankan biaya penidikan anak yang tidak mampu,” ujar Sulihtiono.

Selain itu juga ada Beasiswa Banyuwangi Cerdas, bantuan biaya pendidikan gratis bagi siswa tidak mampu namun berprestasi yang diberikan kepada siswa dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Program beasiswa Banyuwangi Cerdas pada 2016 dialokasikan Rp 3,75 miliar bagi mahasiswa yang berprestasi tidak mampu, mahasiswa yatim piatu, dan penyandang disabilitas berprestasi.

“Total sejak 2011, beasiswa yang telah disalurkan mencapai Rp 14,4 miliar untuk membiayai 700 anak muda berprestasi yang kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik di Banyuwangi maupun luar Banyuwangi,” papar Sulihtiano.

Bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah, pemkab telah menyiapkan jaring dalam sebuah program Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh). Hingga akhir 2016 lalu telah mampu meluluskan 5.098 siswa yang putus sekolah.

Banyuwangi juga memiliki program pemerataan pendidikan yang dirangkai dalam Gerakan Banyuwangi Mengajar. Para fresh graduate diajak untuk mengabdikan ilmunya di daerah pelosok. Di bawah keterbatasan akses dan fasilitas, para anak muda ini ditantang untuk bisa mengamalkan ilmunya.

“Program ini telah diikuti 50 pengajar muda. Mereka yang mayoritas mahasiswa asal Banyuwangi ini ditempatkan di seluruh desa pelosok. Kami akan terus merekrut lulusan fresh graduate dari lulusan Banyuwangi Cerdas untuk disebar lagi ke berbagai desa,” pungkas Sulih. (*) 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :