Banyuwangi Lanjutkan Program Bedah Rumah
Sabtu, 13 Agustus 2016
BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi melanjutkan program bedah rumah bagi warga miskin. Program ini dilaksanakan berkelanjutan dengan menyinergikan dana APBD dan sumbangan banyak pihak, termasuk dunia usaha.
"Jadi memang ini kerja bersama, baik itu pemerintah daerah, masyarakat, maupun dunia usaha, termasuk teman-teman pemerintah desa," ujar Kepala Dinas Sosial Banyuwangi Alam Sudrajat.
Setelah tahun lalu membedah ratusan rumah bersama masyarakat dan dunia usaha, tahun ini Pemkab Banyuwangi menyiapkan dana Rp 700 juta melalui APBD Perubahan 2016. Dana itu akan ditambah dengan menggalang kepedulian banyak pihak. "Misalnya ada karyawan di kantor bank yang urunan bersama-sama membedah satu rumah. Jadi ini tugas bareng," kata Alam.
Program serupa, lanjut Alam, juga akan dilanjutkan pada tahun depan dengan anggaran yang lebih besar dan pelibatan publik yang lebih luas. Alam menambahkan, masih terdapat kendala dalam pelaksanaan program bedah rumah, yaitu permasalahan kepemilikan lahan. Ada warga miskin yang rumahnya menumpang di lahan orang lain. Untuk kondisi tersebut, dana APBD tidak bisa digunakan. Jika tetap memakai dana APBD, bisa menimbulkan masalah hukum.
"Dalam konteks seperti itu, yang digunakan adalah dana dari kepedulian masyarakat dan dunia usaha," papar Alam. Program bedah rumah, imbuh dia, juga melibatkan elemen lain seperti Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan diperlukan untuk mengontrol kesehatan warga miskin penghuni rumah tak layak huni yang mayoritas adalah warga berusia lanjut.
"Kami juga selalu menawarkan warga berusia lanjut yang tinggal sendirian di rumah tidak layak huni untuk kami bawa ke panti sosial. Itu terutama kami tawarkan ke warga yang benar-benar sudah tak produktif, artinya tidak mempunyai pekerjaan di sekitar rumahnya, dan rumahnya juga menumpang di lahan orang lain. Di panti sosial lebih terjamin makanan dan pemantauan kesehatannya," ujar Alam.
Kendati demikian, Alam tak bisa memaksa. Ada warga yang tinggal sendirian dan benar-benar sudah tak produktif, namun tak mau dipindah ke panti sosial. Seperti halnya Misdi alias Joko kakek tua yang tinggal di Dusun Secawan, Desa Dadapan Kecamatan Kabat Banyuwangi. Misdi sempat ditawarkan oleh pihak Dinsos untuk tinggal di panti jompo, namun dia menolaknya.
"Ya kami tidak memaksa. Untuk yang seperti itu, akan ada kunjungan berkala termasuk untuk memantau kesehatannya melalui Puskesmas terdekat. Kami juga berharap warga sekitar peduli dengan memberikan laporan ke kami, karena pasti ada yang terlewat dari jangkauan kami," ujar Alam.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, program bedah rumah membutuhkan sinergi banyak pihak. "Kami minta maaf karena belum semua bisa disentuh program ini. Ke depan dengan kebersamaan kita terus tingkatkan dan benahi program ini," ujar Anas. (Humas)