Banyuwangi Rilis Aplikasi Wisata Berbasis Android

Sabtu, 12 April 2014


SURABAYA - Terobosan pemasaran wisata dilakukan Kabupaten Banyuwangi dengan merilis aplikasi berbasis Android. Langkah ini diharapkan bisa semakin mengatrol kinerja sektor wisata di kabupaten berjuluk ”The Sunrise of Java” tersebut.

            Peluncuran aplikasi tersebut digelar di Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya, Jumat (11/4/2013). Hari itu juga ditandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pemkab Banyuwangi dan Telkomsel untuk mendorong promosi wisata daerah, baik melalui sarana teknologi informasi maupun pemasaran luar ruang. Pihak Telkomsel diwakili oleh Executive VP Telkomsel Jawa Bali Yetty Kusumawati.

            Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pendekatan promosi wisata harus selalu relevan dengan perilaku pasar. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara kelima terbesar pengguna telepon pintar (smartphone). Mengutip riset Yahoo! dan Mindshare, pengguna smartphone di Indonesia mencapai 41 juta pada pertengahan 2013 dan akan menjadi 103,7 juta pengguna dalam tiga tahun mendatang.

            ”Penetrasi penggunaan smartphone diprediksi akan terus naik, termasuk yang berbasis sistem operasi Android. Sistem operasi Android sedang melejit mengalahkan sistem operasi yang lainnya. Karena itu, kami meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android,” ujar Bupati Anas.

            Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna internet di Indonesia hingga akhir 2013 sudah mencapai 71,19 juta orang. Mayoritas di antaranya mengakses internet melalui ponsel. Pasar itulah yang dibidik oleh Banyuwangi untuk mempromosikan sektor pariwisatanya.

            ”Hampir setengah dari para pengguna internet adalah kaum muda yang bisa dikategorikan sebagai kelas menengah. Mereka adalah penggerak pasar sektor pariwisata,” tutur Bupati Anas.

            Menurut Bupati Anas, saat ini konsumen pariwisata meminta lebih. Mereka tidak hanya ingin datang ke obyek wisata alam maupun wisata budaya, namun juga sangat memperhatikan kenyamanan dalam memperoleh informasi. Salah satu sumber rujukan informasi utama adalah internet. Informasi itu tidak hanya dari satu sumber sepihak dari pengelola tempat wisata dan pemerintah daerah, tapi juga dari pihak lain seperti blogger maupun rekomendasi teman.

            Karena itulah, pemasaran wisata Banyuwangi dilakukan secara terintegrasi. Secara berkala, Banyuwangi mengundang media massa, blogger, dan tokoh-tokoh berpengaruh untuk datang. ”Dari sanalah informasi menyebar. Kami mengoptimalkan media konvensional dan social media, mulai dari Twitter, Facebook, Youtube, Path, dan Instagram,” beber Bupati Anas.

            Dengan berbagai promosi itu, sektor pariwisata di Banyuawangi terus bergeliat menjadi penopang ekonomi masyarakat setelah sektor pertanian dan industri pengolahan. Berdasarkan survei oleh tim independen, belanja wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi rata-rata mencapai Rp 1,9 juta per orang dengan masa tinggal di daerah tersebut selama dua hari.

            ”Saat ini kami terus memperluas destination life-cycle sehingga daerah tidak hanya dikenal melalui satu atau dua destinasi wisata. Semakin banyak yang dikunjungi tentu makin banyak duit yang berputar. Saat ini kita kembangkan Pantai Pulau Merah, Pantai Boom, dan Teluk Ijo. Secara bertahap, nanti digarap obyek wisata alam dan budaya yang lain,” jelasnya.

            Bupati Anas mengatakan, semua sektor industri kreatif yang berbasis pariwisata mengalami peningkatan kinerja. Misalnya, sektor jasa hiburan kebudayaan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam setahun terjadi nilai tambah Rp22,3 miliar pada 2011 menjadi Rp26,2 miliar pada 2012.

            Sektor kuliner terepresentasi dari nilai tambah restoran yang meningkat dari Rp.560,5 miliar menjadi Rp. 654,4 miliar. Adapun sektor perhotelan tumbuh dari Rp.286,6 miliar menjadi Rp.341,8 miliar

Sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang lekat dengan kerajinan rakyat, dalam setahun pada 2012 menghasilkan transaksi Rp.4,7 miliar, tumbuh dari tahun sebelumnya sebesar Rp.4 miliar. Sedangkan sektor kertas dan barang cetakan naik dari Rp.155,2 menjadi Rp.175,1 miliar.

            Perkembangan sektor industri berbasis wisata tersebut selaras dengan pertumbuhan sektor pertanian yang berdasarkan data BPS terjadi nilai tambah dari Rp.12 triliun menjadi Rp.13,9 triliun. ”Ini bukti bahwa integrasi antar-sektor, yaitu dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (jasa, termasuk wisata), berlangsung dengan baik. Sehingga pertumbuhan ekonomi merata,” kata Bupati Anas.

 

Gandeng Perusahaan Telekomunikasi

            Terkait kerja sama dengan Telkomsel, Anas mengatakan, pihaknya mengapresiasi peran serta operator telekomunikasi dalam memajukan daerah. ”Tentu pemerintah daerah tidak bisa bergerak sendirian. Telkomsel sebagai operator milik pemerintah Indonesia sangat berperan ikut membantu kami,” ujarnya.

            Sejumlah kerja sama yang dilakukan antara lain dalam bentuk location based advertising di mana semua pengguna Telkomsel yang memasuki Banyuwangi akan menerima SMS pemberitahuan tentang daerah-daerah wisata yang ada di kabupaten tersebut. ”Jadi kalau Anda lewat Banyuwangi, akan terima itu SMS. Dari sana informasi bisa didapatkan, selain dari saluran lain seperti aplikasi Android, media massa, dan sebagainya,” tutur Bupati Anas.

            Bupati Anas pun menambahkan promosi ini tidak akan berhenti pada sistem android saja. "Kami akan segera merambah ke sistem berbasis IOS dan Blackberry," pungkas Bupati Anas.  (humas Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :