Banyuwangi Serahkan Alat Mesin ke Petani Senilai Rp 8,63 miliar
Rabu, 30 September 2015
BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi berupaya mempertahankan dan mengembangkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan. Para petani di kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa itu tahun ini mendapatkan bantuan alat-alat mesin pertanian senilai Rp 8,63 miliar. Alat-alat itu berupa dua unit rice transplanter (mesin penanam padi), 28 combine harvester (pemanen kombinasi), 32 power tresher multiguna (perontok padi), 57 pompa air, 143 traktor roda dua.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, bantuan tersebut digerojokkan agar kinerja para petani bisa semakin meningkat. "Bantuan alat seperti ini diberikan tiap tahun dengan skala dan sasaran yang berbeda. Pemberian bantuan alat mesin pertanian merupakan sinergi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," ujar Anas saat secara simbolis melakukan penyerahan bantuan itu sekaligus panen bersama ratusan petani di area persawahan Desa Lidah, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Rabu (30/9).
Anas menambahkan, dalam empat tahun terakhir Pemkab Banyuwangi telah membangun dan merehabilitasi total 1.087 titik irigasi. Selain itu, bantuan benih serta pendampingan juga dilakukan. "Kami baru merekrut 29 tenaga penyuluh pertanian untuk melengkapi penyuluh yang sudah ada. Kita semua ingin sektor pertanian bisa tetap survive dan unggul. Di Banyuwangi juga mengatur pengendalian lahan pertanian yang tercantum di Perda Tata Ruang agar bisa menekan laju konversi lahan," kata dia.
Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi, Ikrori Hudanto, mengatakan, total luas panen padi di Banyuwangi dari 2010-2014 rata-rata 119.005 hektare (ha) per tahun. Produksi padi dari tahun 2010–2014 rata-rata 784.147 ton per tahun. Sepanjang Januari s/d September 2015, dengan luas panen 106.154 ha, produktivitas padi di Banyuwangi mencapai 65,28 kuintal per ha.
“Produktivitas padi sawah di Banyuwangi rata-rata 6,5 ton per hektare, melebihi produktivitas padi Jawa Timur 5,98 ton per hektare maupun nasional 5,13 ton per hektare,” ujar Ikrori.
Sementara itu, panen raya di Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Rabu (30/9) berlangsung meriah. Panen raya tersebut merupakan hasil dari program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP PTT) dengan sistem jajar legowo. Sistem jajar legowo adalah pola tanam yang menggunakan dua kosong atau empat kosong. Artinya, ada ruang kosong setiap dua atau empat baris padi, sehingga perawatannya lebih mudah, sirkulasinya udaranya bebas, dan pendeteksian penyakit bisa dilakukan lebih dini. Selain itu, jumlah batang padi yang ditanam juga lebih banyak.
“Praktis dengan sitem ini hasil panen petani jauh lebih tinggi. Dalam satu hektare bisa mencapai 72,53 kuintal, lebih tinggi dibanding sistem konvensional yang hanya 65,28 kuintal per hektare,” kata Ikrori.
Panen raya di Kecamatan Gambiran ini, kata Ikrori, dilaksanakan oleh 8 kelompok tani dengan total lahan 111 hektare.
Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan sejumlah sarana produksi GP PTT, di antaranya benih padi, pupuk urea, NPK, pupuk organik, pestisida, dan biaya tanam untuk tiap kelompok tani dengan luas lahan satu hektare. (Humas protokol)