Banyuwangi Terapkan Tiga Strategi Beri Nilai Tambah Produk Desa

Senin, 23 Mei 2016


BANYUWANGI - Kabupaten Banyuwangi mendorong pemberian nilai tambah bagi produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa. Dengan nilai tambah, harga yang diterima UMKM lebih bagus dan berkelanjutan.

"Ada tiga strategi peningkatan nilai tambah untuk UMKM desa, termasuk UMKM pertanian. Pertama, ada proses pengolahan produk, sehingga sebagian produk tidak dijual mentah. Kedua, pemberian konten pemasaran. Ketiga, memadukan antara sektor UMKM di desa dan pariwisata " ujar Anas saat dihubungi, Senin.

Anas mengatakan, dirinya baru saja diundang menghadiri World Village Conference yang digelar diinisiasi oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di Purwakarta, Senin (23/5). Dalam kesempatan tersebut, Anas berbagi pengalaman pengembangan daerah Banyuwangi bersama Duta Besar Meksiko untuk Indonesia Federico Salas dan Walikota South Windsor Amerika Serikat Anwar Saud.

"Acara yang digagas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini bagus sekali untuk memperkuat isu pembangunan desa, seperti yang juga menjadi arus utama pemerintahan Presiden Joko Widodo," kata Anas.

Terkait tiga strategi peningkatan nilai tambah UMKM desa, sambung Anas, mesti dilakukan bersamaan. Untuk pengolahan produk, sebagian produk pertanian desa sudah diolah menjadi berbagai produk olahan. "Misalnya, ada mi buah naga, ada olahan pisang, manggis, dan sebagainya. Jadi harga bisa lebih mahal, sehingga keuntungan UMKM desa terangkat," jelas Anas.

Adapun strategi kedua, yaitu pendekatan konten pemasaran, dilakukan dengan mengemas pemasaran UMKM desa secara lebih menarik. Misalnya, kemasannya diperbagus dan dipasarkan dengan cara yang memudahkan konsumen, seperti melalui situs belanja online banyuwangi-mall.com. Di Banyuwangi, ada rumah kreatif yang memfasilitasi desain kemasan UMKM. Selain itu, konten pemasaran ini bisa diisi dengan pemberian cerita. Misalnya, khasiat beras merah organik Banyuwangi, khasiat durian merah, dan sebagainya. Juga sudah dapat sertifikasi halal. Dan khasiat itu ditempelkan di kemasan produk serta dipublikasikan di media, termasuk media sosial," papar Anas.

Untuk strategi ketiga adalah memadukan pemasaran UMKM desa dan pariwisata. Banyuwangi tetap mengandalkan suasana perdesaan untuk "dijual" ke wisatawan. Sejumlah desa wisata menggeliat, seperti Desa Kemiren, Desa Banjar, dan Desa Tamansari. "Di sana wisatawan menikmati makanan tradisional, lansekap alam, dan menyelami kebudayaan lokal. Sekarang banyak wisatawan mancanegara yang ikut membajak sawah, memasak gula kelapa, dan sebagainya. Otomatis mereka membeli produk UMKM lokal," paparnya.

Dengan paduan tiga strategi tersebut, sambung dia, kinerja UMKM meningkat. Penyaluran kredit perbankan di Banyuwangi untuk UMKM juga dominan. Pendapatan per kapita warga melonjak 80 persen dari Rp20,8 juta pada 2010 menjadi Rp37,5 juta pada 2015. (Humas)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :