Belasan Mahasiswa Asing Belajar Kesenian Di Banyuwangi

Rabu, 14 Agustus 2013


BANYUWANGI – Eksotisme wisata Banyuwangi serta seni budaya suku Using memiliki daya pikat yang mampu menyedot perhatian dunia. Terbukti, Banyuwangi dipilih sebagai satu dari empat kota di Indonesia yang menjadi jujugan bagi mahasiswa yang mendapat beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), Direktorat Diplomasi Publik Kementrian Luar Negeri RI untuk belajar seni, kultur dan budaya.

Belasan mahasiswa mancanegara yang berasal dari 12 negara seperti  Amerika Serikat, Nauru, Polandia, Maroko, Kroasia, Tonga. Serta negara wilayah Eropa dan Asia seperti Yunani, Papua Nugini, Fiji, Australia dan Filipina serta perwakilan Indonesia sendiri, merupakan peserta Program Reguler.  Ke-12 peserta kegiatan tersebut antara lain Andrew Stepehen Carpenter (AS), Haylee Clare Burton (Australia), Aprina Tarigan (Indonesia), Najat El Mimouni (Maroko), Anja Zojceska (Kroasia), Velmah Alukes (Papua Nugini), dan Jiuta Vucago Tigaera (Fiji). Juga ada Anna Ligierska (Polandia), Irene Summer Olssom (Nauru), Vasileia Maria Lekkou (Yunani), Jan Andreaw B. Denila (Filipina) dan Pianola Vahe (Tonga).

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Mohammad Yanuarto Bramuda menjelaskan, mahasiswa yang ke Banyuwangi ini merupakan mahasiswa seni dengan berbagai macam profesi. Mulai dari pelukis, fotografer, hingga jurnalis yang peduli terhadap kebudayaan dan kesenian lokal. “Mereka belajar di Banyuwangi selama 5 hari dimulai Sabtu (10/8) hingga Rabu mendatang,” kata Bramuda.

Ketertarikan mereka datang ke Banyuwangi ini, kata Bramuda, hasil pencarian informasi via internet sejumlah tempat wisata yang ada di Jawa Timur. “Setelah browsing, mereka ternyata sangat tertarik dengan Triangle Diamond Banyuwangi (Gunung Ijen, Pantai Sukamade, Pantai Plengkung). Dan akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke sini. Dan Kawah Ijen jadi jujugan pertama mereka,” jelas pria yang akrab disapa Bram ini.

Selain mengunjungi obyek wisata, mereka juga dikenalkan sejumlah kesenian lokal Banyuwangi, kesenian Gandrung dan Seblang Olehsari. Mereka juga diajak mengunjungi Sanggar Genjah Arum milik Iwan Setiawan. Di sanggar yang terkenal dengan kekhasan rasa kopi Banyuwangi ini, mereka belajar tari Gandrung.  Saat alunan musik Gandrung yang energik dan khas dimainkan, mereka langsung bersemangat mengikuti gerakan penari Gandrung. “Sampur (selendang) yang melingkar di leher masing-masing dikibaskan ke samping diikuti hentakan suara kendang serta senyum renyah dari bibir mereka tatkala mengikuti semua gerakan tari gandung. Tarian Gandrung benar-benar “menghipnotis” mereka, walau  mereka hanya beberapa jam saja mempelajarinya,” cerita mantan Kabag Organisasi Setda Kabupaten Banyuwangi.  

Kekaguman belasan mahasiswa pada Banyuwangi tak berhenti sampai disini, mereka juga terlihat mengagumi keramahan warga tanah Using ini. Itu diekspresikan oleh seorang mahasiswa asal Filipina  Jan Andrew B Denila dengan melukis maestro Kopi Banyuwangi, Iwan Setiawan dengan secangkir kopinya. “Saya sangat suka Banyuwangi, selain budaya juga warga using yang ramah,” kata Jan Andrew ditirukan Bramuda.

Sementara itu, penanggung jawab dan pembina program kerjasama pertukaran pelajar seni dan budaya, Diaztiarni, mengatakan, dipilihnya Banyuwangi sebagai salah satu tempat belajar karena Banyuwangi dianggap memiliki seni budaya yang masih sangat kental. Juga kearifan lokal dan masyarakat suku Using yang sangat ramah. "Dan dari kunjungan ini mereka sangat mengapresiasi terhadap ke-natural-an serta keaslian Banyuwangi. Ini inti program yang dicari," ungkap Diaz.

Sekedar diketahui, setelah mengunjungi Kawah Ijen pada hari Minggu lalu, sehari berikutnya mereka menikmati city tour (pendopo, klenteng, Museum Blambangan ) dan dilanjutkan menonton pertunjukan Seblang Olehsari  dan mengunjungi Sanggar Genjah Arum. Mereka juga mengunjungi Pantai Plengkung dan Pantai Sukamade. Dan di akhir kunjungan, mereka diajak melihat kerajinan khas Banyuwangi. (Humas & Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :