Beragam Atraksi Seni Warnai Peringatan HUT TNI di Banyuwangi
Rabu, 5 Oktober 2016
BANYUWANGI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-71 di Banyuwangi digelar secara sederhana namun tetap meriah. Tanpa upacara besar, Banyuwangi memperingatinya dengan tasyakuran dan beragam pertunjukan seni yang mengangkat kearifan budaya lokal Bumi Blambangan.
“Ini sesuai imbauan dari Panglima TNI bahwa HUT tahun ini cukup diperingati secara sederhana di setiap wilayah dengan pertunjukan yang merakyat. Seperti yang kita gelar hari ini,” kata Komandan Kodim (Dandim) 0825 Banyuwangi, Letkol (Inf) Roby Bulan usai acara tasyakuran di Taman Blambangan, Rabu (5/10).
Dikatakan Dandim, tasyakuran HUT TNI yang terpusat di Banyuwangi tersebut gabungan dari tiga kodim di wilayah timur, yaitu Kodim 0825 Banyuwangi, Kodim 0822 Bondowoso dan Kodim 0823 Situbondo.
“Dikenal sebagai daerah yang kaya dengan kearifan lokal, Banyuwangi lantas dipilih untuk jadi tuan rumah acara ini. Kami bangga sekali, ini kesempatan menunjukkan potensi yang kita miliki,” ujar Dandim. Dalam acara tersebut digelar antara lain seni bela diri, tari tadisional Banyuwangi, dan drama epik tentang perjuangan heroik pejuang Banyuwangi, Wong Agung Wilis.
Tasyakuran ini dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, jajaran Forum pimpinan Daerah, anggota TNI dan masyarakat. Turut hadir Dandim 0822 Bondowoso Letkol. Arh. Sudrajat dan Dandim 0823 Situbondo Letkol (Inf) Ashari.
“Melalui momen ini, kami berharap TNI semakin profesional, manunggal dengan rakyat dan solid untuk mewujudkan Banyuwangi dan Indonesia yang lebih baik,” imbuh Dandim Letkol (Inf) Roby Bulan.
Acara diawali dengan suguhan apik para penari gandrung. Gerakan gemulai, dan senyuman ramah para penari langsung menghangatkan suasana pagi itu di Taman Blambangan. Dilanjutkan dengan atraksi seni bela diri yang melibatkan ratusan pelajar dan anggota TNI gabungan dari Kodim 0825 Banyuwangi, Kodim 0822 Bondowoso, dan Kodim 0823 Situbondo. Secara kompak, mereka praktik gerakan bela diri Tarung Derajat dan Yong Mo Do.
Selain tari-tarian, tasyakuran juga diwarnai pertunjukan sosiodrama yang melibatkan ratusan penari. Drama kolosan berjudul “Perang Pesisir Manis Bong Pakem” tersebut menceritakan pertempuran pasukan Wong Agung Wilis saat melawan penjajahan VOC Belanda hingga bisa melumpuhkannya.
Drama yang memadukan tarian dan cerita teatrikan tersebut, ditampilkan secara sempurna di hadapan para undangan. Selain adegan cerita perjuangan, drama ini juga dipermanis dengan beragam formasi seperti ombak dan laut. Tak hanya itu, kostum dan ornamen pendukungnya menambah hidup atraksi drama kolosal yang menuai banyak pujian itu.
“Drama ini sengaja kami suguhkan untuk menggugah semangat patriotisme masyarakat Banyuwangi. Selain juga mengenang perjuangan pahlawan kita untuk mempertahankan teritorialnya," tutup Dandim.
Drama kolosal ini melibatkan 150 penari, 20 dari anggota TNI dan sisanya dari pelajar mulai TK hingga SMA. (Humas)