Bupati Anas Beli Kembang Dermo di Penutupan Ritual Adat Seblang Olehsari

Kamis, 30 Juli 2015


Bupati Anas Beli Kembang Dermo di Penutupan Ritual Adat Seblang Olehsari

BANYUWANGI – Setelah menjalani prosesi  ritual selama tujuh hari, Seblang Olehsari, di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah ditutup Kamis (30/7). Penutupan ritual yang merupakan salah satu rangkaian gelaran Banyuwangi Festival 2015 dihadiri ribuan masyarakat dari berbagi penjuru desa. Karena ritual ini dipercaya suku using sebagai penolak balak.

Prosesi ritual penutupan Seblang Olehsari cukup sakral dan membuat semua penonton ikut larut dalam acara ini. Seperti sebelumnya, prosesi penutupan seblang ini juga diawali seorang pawang dengan membawa gadis Seblang ke arena untuk dipasangkan mahkota omproknya. Selanjutnya para pawangpun seperti biasanya membacakan mantra-mantra  sembari diiringi gending Seblang Lukinto, yang dipercaya sebagai sarana roh Sang Hyang masuk ke dalam tubuh Fidiyah Yuliati nama penari seblang ini.

Prosesi terus berlanjut hingga dinyanyikan 28 gending penari seblang tetap menari. Diantaranya gending Liliro Kantun , Cengkir Gadhing , Padha Nonton Pupuse , Padha Nonton Pundak Sempal , Kembang Menur , Kembang Gadung , Kembang Pepe hingga Kembang Dermo sebagai gending penutup.

 Pada saat gending Kembang Dermo ini dibawakan, penari seblangpun reflek langsung membawa tampah yang berisi bunga Dermo untuk dijual ke penonton.Istimewanya pada prosesi ini Bupati Abdullah Azwar Anas membeli kembang dermo untuk dibagikan kepada penonton.  

“Ini adalah salah satu budaya dan tradisi adat masyarakat Using dalam mengejawantahkan rasa syukurnya. Budaya ini saya harap tetap dilestarikan sehingga tidak hanya menjadi tontonan masyarakat Olehsari saja, tetapi bisa dinikmati masyarakat di luar Desa Olehsari,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas, usai membeli bunga.  

Usai menjual bunga, prosesi akhir dilanjutkan dengan ider bumi. Dimana penari bersama para pawang, sinden, dan seluruh perangkat keliling desa menuju empat penjuru yang dianggap sebagai tempat bermula desa Olehsari berdiri hingga ke makam Mbah  Buyut Ketut.  Saat berada di makam mereka mengadakan ritual do’a-do’a kepada leluhur. Setelah dari makam iring-iringan seblang kembali ke arena untuk menuntaskan prosesi kembalinya roh sang hyang hingga menjelang Magrib.

Dalam ritual kembalinya roh cukup menegangkan sebab kalau tidak bisa bangun penari akan kehilangan nyawanya. Penari tidak melakukan gerakan tari lagi, tapi kepalanya tertunduk, siap untuk dilepas omproknya oleh pawang. Sebagai ritual terakhir wajah penari seblang dicuci dengan Tuyo Arum yang telah diberi mantra dan dimasukkan dalam kendi yang berisi bunga pecari,bunga wongso dan bunga sundel. “Dengan melakukan prosesi seblang selama tujuh hari, segala balak dan blai telah hilang dari desa kami. Kami percaya Seblang untuk menolak bala dan sebagai tradisi nenek moyang untuk membersihkan desa,” terang Ansori, Ketua Sesepuh Adat Seblang. (Humas Protokol)   

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :