Bupati Anas Dorong Siswa Sadar Sampah

Rabu, 20 Juli 2016


Banyuwangi - Momen Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) yang merupakan masa awal bagi siswa baru untuk memasuki jenjang pendidikan lanjut, mendapat perhatian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ia mengimbau kepada semua sekolah, baik SMP, SMA maupun SMK, untuk memberikan materi terhadap siswa baru tentang pentingnya pengelolaan sampah.

Hal tersebut, disampaikan oleh Bupati Anas saat menjadi motivator pada kegiatan PLS di SMK Negeri 2 Tegalsari, Selasa (19/7). Bupati Anas menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Banyuwangi untuk mengajarkan tentang pengelolaan sampah.

"Nanti, Pak Sulih (Kepala Dinas Pendidikan - red), Pak Arif (Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan) tolong ajarkan para siswa baru ini bagaimana memisahkan sampah organik, anorganik dan bagaimana cara mendaur ulangnya untuk menjadi hal yang bermanfaat," imbau Anas dihapan ratusan siswa baru SMK N 2 Tegalsari.

Permasalahan sampah yang tak tertangani akan mengancam kebersihan dan pencemaran terhadap lingkungan. Sedangkan sampah di Banyuwangi sendiri, menurut Anas, paling banyak berasal dari sampah rumah tangga. Jika tidak tertangani, maka akan dibuang sembarangan di seputar pekarangan, bantaran sungai, got maupun ke laut secara langsung.

"Tentu, kita sulit untuk bisa masuk ke masing-masing rumah, tetapi anak-anak sekolah ini bisa masuk ke rumahnya untuk menumbuhkan kesadaran akan pengelolaan sampah di rumahnya masing-masing," tutur Anas seusai memberikan motivasi kepada siswa baru.

Dengan demikian, lanjut dia, pembuangan sampah dari rumah tangga terlebih di lingkungan sekolah, bisa ditekan lebih rendah. "Kalau kesadaran akan sampah ini tumbuh pada semua pelajar, maka bisa menular ke keluarganya," harapnya. "Anak ini kan jadi "polisi" yang baik di keluarganya. Ia akan mengawasi sampah di rumahnya,' imbuhnya.

Tidak hanya berhenti disitu, Anas juga menginginkan, para pelajar juga bisa memanfaatkan sampah tersebut untuk bisa menjadi bahan yang berguna. "Misalnya, sampah organik bisa diproduksi menjadi pupuk organik. Sedangkan yang lainnya dibuat hasta karya atau sejenisnya," Anas memberikan contoh.

Untuk mendorongnya, pihak sekolah bisa membuatkan ekstra kurikuler di masing-masing sekolah yang khusus mengurus sampah. "Tidak perlu bikin ekstrakulikuler yang rumit-rumit, cukup ekstrakulikuler pengelolaan sampah. Mulai dari reuse, recycle, reduce," pungkasnya. (Humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :