Bupati Anas Jamu Warga Rantau Dengan Kuliner Khas Banyuwangi
Jumat, 8 Juli 2016
BANYUWANGI – Setiap tahun, pemkab Banyuwangi menggelar acara halal bi halal Diaspora Banyuwangi. Acara yang digagas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sejak lima tahun lalu ini selain sebagai ajang melepas kangen bagi diaspora (warga rantau) Banyuwangi, juga sebagai moment untuk bernostalgia dengan kuliner khas Banyuwangi.
Tradisi Diaspora yang digelar pemkab Banyuwangi selalu dihadiri ribuan perantau asal Banyuwangi yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti kali ini yang digelar pada hari ke-3 bulan Syawal, Jumat (8/7), para perantau dengan beragam profesi ini datang dari berbagai wilayah. Mulai dari Jakarta, Bandung, Kalimantan, Papua, ada yang juga datang dari negeri jiran Malaysia, Taiwan dan Melbourne Australia ini. Tujuan mereka sama, ingin merasakan kembali kekhasan Bumi Blambangan yang telah lama mereka tinggalkan, termasuk kulinernya.
Karena dalam diaspora ini, Banyuwangi sengaja menyuguhkan beragam kuliner khas yang jarang ditemui perantau di tempat tinggalnya sekarang. Ada banyak menu yang disajikan untuk mengobati rasa rindu pada kuliner khas Banyuwangi. Ada rujak soto, sego cawuk, pecel pithik, lontong sayur, keserut, sayu kelor lengkap dengan sambal sereh.
Semua menu kuliner ini tersaji cukup menggiurkan. Apalagi digelar di halaman pendopo belakang kabupaten yang suasananya sangat asri. Bak pesta kebun yang cantik, kuliner-kuliner ini disantap penuh suka cita oleh para perantau.
“Kalau belum makan rujak soto rasanya belum mudik ke Banyuwangi. Rujak soto di sini enak dan pas saya sangat senang,” kata Rizki Chaeriz, diaspora dari Bandung.
Bupati Anas mengatakan sengaja menjamu para warga rantau Banyuwangi ini untuk mengobati kangen mereka akan makanan khas Bumi Blambangan. "Bagi warga rantau tak ada laen yang dikangeni selain kampung halaman dan makanan khasnya dahulu. Makanya, kami sengaja menghadirkan kuliner khas ini," ujar Anas.
Anas pun menambahkan, acara ini juga digelar untuk menggelorakan cinta kepada tanah kelahiran. Selain juga, lanjut Anas, untuk menggalang solidaritas daerah mengingat perantau yang tersebar di berbagai wilayah nusantara.
Tak sekedar halal bi halal, para perantau asal Banyuwangi sengaja dikumpulkan untuk diajak bersama berkontribusi bagi kemajuan Banyuwangi. "Pak Arif (menpar) ini, kini menjadi ikon diaspora Banyuwangi bukan karena menjadi menteri. Tapi karena memiliki komitmen yang tinggi sebagai warga asal Banyuwangi untuk memajukan daerah. Dan saya berharap para perantau lain bisa meniru jejak langkah beliau untuk ikut membangun Indonesia, khususnya Banyuwangi" tutur Bupati Anas.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Menteri Pariwisata Arief Yahya yang juga sebagai putra asli Banyuwangi. ARrief selalu hadir di setiap acara Diaspora yang digelar sejak 2012.
Selain makanan khas para perantau juga disuguhi, beraneka jajanan tradisional khas Banyuwangi sebagai menu pembuka. Seperti cenil, orog-orog dan putu ayu. Jajanan yang terbuat dari tepung beras, gula ternyata sangat diminati warga perantau yang sudah jarang menemukannya.
Begitu juga dengan minuman yang disuguhkan bagi para perantau juga cukup lengkap, mulai temu lawak, es degan, es jeruk dan es buah tersedia semua. Minuman ini terasa pas untuk mengakhiri jamuan bagi para perantau ini. (Humas)