Bupati Anas Minta Kades yang Lamban Terapkan Layanan Online Segera Berbenah
Selasa, 11 Oktober 2016
BANYUWANGI – Memastikan layanan administrasi publik berjalan lancar, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengunjungi kantor desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Selasa (11/10). Saat sidak di sana, Bupati Anas terkejut lantaran masih mendapati pengurusan surat administrasi warga yang dilakukan secara manual.
Tiba di desa tersebut, Bupati Anas langsung menuju front desk untuk mengecek sejauh mana praktik Smart Kampung dijalankan di kantor desa ini. Anas pun langsung bertanya kepada petugas bagaimana proses pengurusan surat pernyataan miskin (SPM) warga yang dilakukan online. Ternyata, Anas menemukan jawaban dari petugas tersebut tidak bisa langsung diurus karena warga masih wajib menyertakan formulir manual yang harus menunggu pengesahan dari Camat.
“SPM tidak perlu menunggu formulir semacam ini. Pengesahan dari camat tinggal dikirim data saja, kalau cocok, Camat tinggal mengesahkan dan langsung bisa dikirim secara online. Kenapa harus manual begini,” ujar Anas kepada Kepala Desa Pakistaji, Mustain.
Menurut Anas, lewat program smart kampung masalah seperti ini seharusnya tidak terjadi. Smart Kampung sendiri adalah program yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas layanan publik di desa-desa. Desa yang telah memenuhi kriteria Smart Kampung juga telah ditunjang oleh pelayanan berbasis teknologi informasi, jadi pengurusan surat administrasi warga tidak perlu lagi diurus ke kota.
“Saya mampir di desa ini, karena Kecamatan Kabat dari laporan progress smart kampungnya kurang dari yang kita harapkan. Ternyata saya menemukan sendiri. Harapan saya, ini segera dibenahi ya Pak Kades, agar bisa mengejar kecamatan lain yang telah berjalan baik,” ujar Anas.
“Sudah banyak sejumlah kewenangan bupati kita delegasikan kepada camat. Semua surat administrasi telah kita desain agar warga cukup mengurusnya di tingkat desa. Pengesahan dan tanda tangan bisa dilakukan lewat daring. Bahkan pengesahan musrenbangdes cukup diverifikasi oleh camat, untuk memudahkan kontrol pembangunan. Ini semua untuk mengefisienkan waktu pengurusan layaan administrasi warga,” ujar Anas.
Anas lalu meminta kepada Mustain untuk mengoptimalkan pelayanan publiknya. “Saya minta programnya dipercepat. Bukan sekedar ada wifi saja, namun yang paling penting surat-surat warga ini bisa diatasi dengan cepat. Termasuk bagaimana kantor desa menjadi basis aktivitas warga desa,” ujar Anas.
Apalagi, lanjut Anas, seiring dengan meningkatnya anggaran desa semua aparat desa harus bisa mengoptimalkan pelayanannya. “Penanganan rumah tidak layak huni warga desa mulai sekarang harus ditangani desa. Apalagi tahun ini kita tambah dana transfer ke desa Rp 10 miliar. Seperti desa Pakistaji ini yang dapat Rp 1 miliar. Tentunya mereka harus lebih bisa mengoptimalkan pelayanannya,” ujar Anas.
Sejumlah desa di Banyuwangi telah menjelma menjadi Smart Kampung. Misalnya Desa Sumberayu, Kecamatan Muncar dan Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu telah membuka layanan desa di malam hari. Begitu juga Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh yang memiliki mobil layanan gratis bagi warganya. Lalu ada Desa Temurejo yang Badan Usaha Milik Desa secara kreatif telah mengelola sejumlah kebun warganya menjadi lokasi agrowisata.
Sebelum meninjau Desa Pakistaji, pagi tadi Bupati Anas menyerahkan bantuan pangan kepada warga yang rawan pangan. Anas menyerahkan simbolis bantuan berupa paket sembako tersebut kepada lima orang lansia di Desa Badean, Kecamatan Kabat.
“Di beberapa titik, masih ada masyarakat kita yang kurang mampu. Dengan bantuan bahan pangan ini, kita intervensi supaya stabilitas ekonomi di titik-titik ini semakin baik, terutama bagi mereka yang kurang mampu dan dari cluster yang perlu bantuan sosial, bukan bantuan produktif berupa pinjaman kredit. Sehingga kebutuhan fisiologis mereka bisa terpenuhi dengan baik,” kata Bupati Anas.
Pada tahun ini, Kantor Ketahanan Pangan Banyuwangi menganggarkan sebanyak 600 paket yang akan dibagikan kepada para kaum dhuafa yang tersebar di enam desa Banywuangi yang tergolong wilayah rawan pangan.
Di Kecamatan Giri, ada Kelurahan Boyolangu, Desa Jambesari, dan Desa Grogol. Sedangkan untuk Kecamatan Kabat, ada Desa Badean, Desa Labanasem, dan Desa Macanputih. Setiap desa dijatah 100 paket sembako. (Humas)