Bupati Buka Festival Hadrah Al-Banjari Se-Jatim – Bali

Kamis, 15 Oktober 2015


BANYUWANGI – Kesenian hadrah adalah salah satu kesenian khas islami yang mendapat tempat di hati umat Islam. Seni ‘terbang’ yang berirama menghentak, rancak, dan variatif membuat kesenian ini banyak digandrungi. Hingga detik ini hadrah yang berasal dari kota Banjar ini paling banyak diminati dan bahkan menjadi ekskul di sekolah-sekolah, pondok pesantren dan mulai semarak pula di kampus-kampus.

Alasan inilah yang menjadikan SMAN 1 Glagah Banyuwangi menyelenggarakan Grand Festival Hadrah Al-Banjari Se-Jawa Timur – Bali. Festival yang digelar Rabu (14/10) kemarin tersebut sekaligus untuk memperingati tahun baru Islam,  1 Muharram 1437 Hijriah.

Acara ini diikuti 53 kelompok hadrah. Lima belas kelompok  diantaranya  berasal dari Banyuwangi, dan 38 kelompok sisanya  dari berbagai kota di Jawa Timur. Antara lain Malang, Gresik, Pasuruan, Jombang, Nganjuk, Sidoarjo, Jember, Situbondo, dan Probolinggo.

Menurut Kepala Sekolah SMAN 1 Glagah, Sudi Winoto, kegiatan ini digelar untuk yang kedua kalinya. Tahun lalu, kegiatan serupa digelar dengan  skala lebih kecil yaitu se-Jatim saja. “Kali ini kami mengemasnya dengan skala lebih besar, yakni Se-Jatim dan Bali, mengingat peminat hadrah di Bali juga tak kalah banyak. Walau pun  tahun ini dari Bali belum ada yang mendaftar sebagai peserta,”ujar Sudi Winoto.

Saat membuka kegiatan tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan apresiasinya yang mendalam. “Ini acara yang bagus untuk memperingati tahun baru Islam. Jika di luar sana banyak anak muda yang berhura-hura dalam memperingati tahun baru, disini justru sebaliknya. Anak-anak mampu mengemas acara hiburan yang bernilai ibadah, dan ini semuanya well organized. Semoga kegiatan yang bagus ini bisa diteruskan dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya,”kata Bupati Anas.

Bupati Anas menambahkan, sholawat sambil bermain rebana saat ini mulai mengemuka dan disukai banyak kalangan. Itu sebabnya beberapa waktu lalu pemkab mengundang Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam puncak acara Festival Santri. Sebelumnya saat digelar Jazz Beach Festival pun juga ada jazz sholawat. “Kami memasukkan unsur sholawat ini untuk memberi ruang bagi umat muslim, sebagaimana kami beri ruang untuk  umat agama lain dalam berbagai kesempatan,”tuturnya.

Ketika lomba berlangsung, supporternya pun tak kalah seru dengan festival band lainnya.  Bedanya, mereka bersorak sambil kemudian mengikuti lantunan sholawat yang dibacakan. Salah satu kelompok yang mendapat applause dari penonton adalah Hadrah Al-Banjari Baiturrohim. Tim hadrah  dari Desa Gombeng, Kecamatan Kalipuro ini mampu menyihir mata dan telinga para hadirin dengan pukulan rebananya yang rancak dan bersemangat. Lantunan ‘Syahru Robbi’ yang dibawakannya pun mengajak penonton untuk bersholawat bersama.

 “Kami bangga bisa berpartisipasi dalam acara ini. Kalah menang tidak jadi masalah,” kata Husaini, koordinator Hadrah Al-Banjari Baiturrohim. Husaini mengaku, timnya mempersiapkan diri selama 2 minggu dengan fokus pada variasi pukulan dan vokal. Maklum, penilaian dalam lomba hadrah meliputi 3  unsur. Yaitu  vokal, pukulan  dan adab.

Dalam perlombaan yang berlangsung dari pagi hingga tengah malam tersebut, akhirnya diperoleh 5 besar yang menjadi juara.  Juara I Iqsas Al-Mukhtar, Malang;  Juara II Zalzalah, Malang;  Juara III Miftahul Jannah Banyuwangi. Juara 4 diraih oleh Liwa’ul Muridin Blokagung, Banyuwangi;  dan Juara V Sunan Kalijogo, Pasuruan.

Untuk diketahui, Hadrah Al-Banjari masih tergolong jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga di Pulau Jawa. Karena perkembangannya yang menarik, kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan.

Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian. Kemudian alat musik ini semakin meluas perkembangannya hingga ke Indonesia, mengalami penyesuaian dengan musik-musik tradisional baik seni lagu yang dibawakan maupun alat musik yang dimainkan. Demikian pula musik gambus, kasidah dan hadroh adalah termasuk jenis kesenian yang sering menggunakan rebana.

Keunikan musik rebana termasuk banjari adalah hanya terdapat satu alat musik yaitu rebana yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nyanyian dzikir atau sholawat yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. (Humas & Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :