Bupati Gunung Kidul Belajar Pariwisata Ke Banyuwangi
Jumat, 24 Maret 2017
BANYUWANGI – Seiring perkembangannya yang terus melaju selama enam tahun ini, Banyuwangi tak henti-hentinya menerima kunjungan kerja (kunker) dari berbagai daerah. Salah satunya, Bupati Gunung Kidul, Pemprov DIY ingin belajar pariwisata dan SAKIP ke Banyuwangi.
Bupati Gunung Kidul, Hj Badingah, sengaja datang ke Banyuwangi sendiri didampingi Ketua DPRD-nya beserta 80 pejabatnya diterima Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekkab) Djajat Sudrajat, di pendopo kabupaten, Jum’at (24/3).
Bupati Badingah, yang juga sempat mengunjungi lounge pelyanan publik pemkab ini, menuturkan pihaknya ingin belajar penuh bagaimana keberhasilan Banyuwangi membuat event-event pariwisata berkelas.
Fokus kami, lanjut Bupati dua periode ini, adalah untuk belajar bagaimana mengelola keunggulan pariwisata dan mengemas event wisata tersebut sehingga bisa dikenal luas.
“Banyuwangi dan Gunung Kidul ini saya fikir potensi yang bisa dijual sama yakni alam. Namun kemajuan Banyuwangi jauh jauh melesat dari kami. Berbagai inovasinya selalu mendapat nilai tertinggi dan excellent. Karena itulah kami ingi belajar semua program yang dimiliki Banyuwangi,” tuturnya.
Selain itu, Bupati Badingah juga ingin tahu resep bagaimana top leader Banyuwangi mampu menggerakkan aparat birokratnya memiliki jiwa enterpreneur dan bisa terjun langsung menangani puluhan event Banyuwangi Festival, tanpa melibatkan Event Organizer (EO).
“Inilah yang menjadi motivasi utama kami datang kemari. Bagaimana cara menjual daerah hingga tumbuh seperti ini,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, prestasi Banyuwangi sebagai kabupaten penyandang predikat terbaik Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) juga sangat mengispirasi kami untuk belajar SAKIP ke sini. “SAKIP Banyuwangi sudah meraih predikat, padahal kami sudah berdarah-darah masih nilainya B. Kunjungan ini tidak akan berhenti sampai disini, kami akan berlanjut hingga kami bisa belajar seluruhnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekkab Djajat Sudrajat, menyatakan, kunci keberhasilan Banyuwangi meraih predikat memuaskan tersebut adalah komitmen pimpinan daerah yang sangat tinggi dan konsisten terhadap dokumen perencanaan sampai pertanggungjawaban pembangunan. Kinerja SAKIP ini jelas dan terukur, serta program-program diefisienkan sesuai manfaat ke masyarakat. “Salah satu programnya, penguatan administrasi keuangan desa, Pemkab Banyuwangi telah merancang manajemen keuangan desa yang bernama e-Village Budgeting (e-VB) dan e-Monitoring System (e-MS) yakni sebuah sistem pengawasan elektronik,” jelas Djajat.
Terkait pariwisata, kata Djajat, sektor pariwisata menjadi salah satu pengungkit sektor lainnya yang saling bersinergi dalam menumbuhkan perekonomian. Dalam mengembangkan pariwisatanya, Banyuwangi konsisten melakukan promosi daerah melalui event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival.
Tahun 2017 ini ada 72 even digelar sepanjang tahun sebagai cara mengungkit kunjungan wisatawan. Dalam menyelenggarakan festival-festival atau memberikan pelayanan publik, di Banyuwangi selalu dilakukan secara keroyokan antar SKPD. Semua ego sektoral masing-masing SKPD ditanggalkan.
“Sehingga pelaksanaan event-event bisa dikerjakan dengan tanpa menggunakan event organizer (EO) dari luar, cukup PNS,’ ujarnya.
Sedangkan untuk pengembangan obyek pariwisata, Banyuwangi tak meniru dearah lain. Cukup memaksimalkan potensi pariwisata yang ada. Seperti gunung, pantai, perkebunan, hutan dan persawahan menjadi destinasi yang siap dikunjungi wisatawan.
“Beberapa destinasi wisata, lanjut Djajat, harus bagus aksesnya, kecuali yang memang dikonsep adventure. Untuk akses ini, kami melengkapi infrastruktur pendukungnya. Seperti bandara dan pembangunan jalan menuju akses wisata,” katanya.
Geliat bisnis dan pariwisata di Banyuwangi bisa dilihat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di Banyuwangi pada tahun 2016 ada 77 ribu, melampui yang ditargetkan 50.000 orang. Adapun wisatawan domestik di tahun 2016 mencapai 3,2 juta juga melampaui yang ditargetkan dengan angka 2 juta. Jumlah wisatawan ini diverifikasi dari data hotel dan pengelola destinasi wisata.
Selain Gunung Kidul, pada hari itu ada Kabupaten Subang, Jawa Barat dan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang berkunjung ke Banyuwangi. Mereka datang hanya ingin mem- benchmark sejumlah program Banyuwangi untuk diadopsi di daerahnya masing-masing. (humas).