Bupati: Kepala Sekolah Harus Jadi agen Informasi Bagi Siswa

Kamis, 8 Oktober 2015


BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta kepala sekolah agar menjadi agen informasi bagi para anak didiknya. Kepala sekolah harus bisa menjadi pembuka akses bagi siswanya dalam mendapatkan informasi, khususnya informasi terkait jenjang siswa ke depannya. Hal itu dikatakan Bupati Anas saat meresmikan kantor sekolah SMAN Darussholah, Singojuruh, Kamis (8/10).

“Setiap siswa berhak untuk sukses, termasuk siswa yang ada di daerah pinggiran. Bila selama ini kesempatan itu lebih besar dimiliki mereka yang berada di perkotaan, namun, saat ini hal itu tidak boleh terjadi. Anak di wilayah pedesaan berhak memiliki kesempatan yang sama asal mendapatkan informasi. Makanya, saya minta kepala sekolah SMA harus bisa menjadi penyalur berbagai informasi positif bagi siswanya,” kata Bupati Anas.

Ditambahkan bupati, kepala sekolah juga harus inovatif merancang program-program baru untuk kemajuan sekolah dan anak didiknya. Dicontohkan Anas, caranya bisa dengan membuka kelas baru khusus siswa kurang mampu. Atau kelas khusus para penghapal Al-qur’an. “Agar programnya jalan, kepala sekolah bisa berkolaborasi dengan kepala-kepala desa dan pondok-pondok pesantren di sekitar sekolah. Dengan begitu, saya yakin problem drop out akan tersolusi dalam satu tahun,” ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, pemda sudah menyediakan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu dan penghafal Qur’an. “Kami juga tengah gencar menyurati perguruan-perguruan tinggi, agar mau menerima mereka. Jadi kita bisa mengangkat derajat anak-anak daerah dengan memberi kesempatan mengenyam pendidikan kepada mereka,”  imbuh bupati.

Sementara itu, Kepala SMAN Darusholah, Mochammad Rifai mengatakan bahwa sekolahnya telah bekerja sama dengan dua pondok pesantren (ponpes). Yakni, ponpes Darusholah dan ponpes Nurul Qur’an. Dari kerjasama ini, terbentuk dua kelas kece (kelas cemerlang) dan satu kelas hafidz.

Kelas cemerlang, diperuntukkan bagi santri dan siswa umum yang memang ingin hebat tidak hanya di ilmu umum tapi juga ilmu agama. Sedangkan kelas hafidz, khusus untuk anak-anak penghafal al-qur’an. Pagi hari, mereka belajar di sekolah sama dengan siswa kelas reguler, malamnya mereka akan ikut kelas diniyah. “Tujuannya, agar anak-anak ini punya nilai tambah saat lulus nanti. Tidak hanya pintar ilmu umum, tapi mereka diharapkan juga memiliki pengetahuan yang dalam tentang Al-qur’an, minimal terjemahannya,” pungkas Rifa’i.

Selain itu, dia juga membuka satu kelas khusus bagi siswa kurang mampu yang mendapatkan rekomendasi dari kepala desa yang berkolaborasi dengan sekolah.  (Humas Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :