Bupati Terima Peserta Diklatpim IV Pemprov Jatim

Senin, 14 April 2014


BANYUWANGI – Sebanyak 30 peserta pendidikan dan pelatihan kepimpinan tingkat IV, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melakukan benchmarking to best practices di Kabupaten Banyuwangi. Kedatangan rombongan tersebut diterima langsung oleh Bupati Abdullah Azwar Anas, di aula Rempegjogopati, Senin (14/4).

Kepala Bidang Kepemimpinan, Balai Diklat Prop. Jatim, Bagus Pujiono mengatakan kedatangan rombongan peserta Diklatpim IV ke Banyuwangi bertujuan  untuk melaksanakan salah satu mata diklat yakni benchmarking. Benchmarking merupakan proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan organisasi terhadap proses operasi terbaik di kelasnya. “Lokus yang kami fokuskan pada benchmarking kali ini adalahpengelolaan UMKM, rumah sakit umum daerah dan pariwisata Pulau Merah,” kata Bagus.

Bagus melanjutkan alasan pemilihan ketiga lokus tersebut sebagai benchmarking di Banyuwangi karena pengelolaan ketiganya diangap paling inovatif dan dipandang berhasil diantara daerah lain di Jawa Timur. “Kami berharap peserta diklatpim bisa mempelajari, mengadopsi dan menerapkan pengelolaan ketiga lokus tersebut melalui pengamatan dan analisis yang cermat. Sehingga nantinya dapat diterapkan di SKPD masing-masing dan memberikan perubahan positif,” kata Bagus.

Sementara itu, Bupati Anas menyambut baik kedatangan peserta Diklatpim Propinsi Jatim tersebut. Pada kesempatan itu Bupati menyampaikan perkembangan pembangunan di Banyuwangi. Bupati mengatakan sejak awal menjabat, dirinya telah berkomitmen untuk membenahi kabupaten yang berada paling ujung timur di Pulau jawa ini. “Banyuwangi ini jauh dari ibukota, dari provinsi,  pejabat agak malas kalo ke Banyuwangi. Karena itu kami teguh ingin melipat jarak yang jauh ini dengan membuka bandar udara. Alhamdulillah lewat proses bisnis to bisnis tanpa subsidi Pemda, bandara terus beroperasi dan peningkatan penumpang pesawat terjadi dari tahun ke tahun,” urai Bupati.

Di sektor ekonomi, lanjut Bupati, Pemkab memberikan kemudahan permodalan sekaligus perlindungan bagi rakyat kecil. Hal ini juga untuk melindungi UMKM Banyuwangi. Salah satunya  kebijakan pelarangan pembanunan mall-mall baru di tengah kota dan pelaranag pembangunan alfamart dan indomart baru. “Karena sebesar apapun modal yang digelontorkan kepada rakyat kalau mereka tidak diproteksi akan kalah dengan kapital besar,” terangnya.

Di sektor wisata, Banyuwangi mengambil kebijakan tidak ingin meniru daerah lain seperti Bali, Malang ataupun Surabaya . pariwisata Banyuwangi akan dikembangkan dengan ecotourism yang menjual keaslian  alam tanpa mengeksploitasinya serta melibatkan masyarakat dalam pengeolaannya. “Kami melarang hotel-hotel melati baru berdiri terutama di lingkungan lokasi wisata, sebagai gantinya kami melibatkan masyarakat melalui pembukaan homestay-homestay bagi wisatawan,” ucap Bupati. Selain itu Bupati juga mengatakan fasilitas lainnya sebagai antisipasi pelarangan hotel melati adalah pengembangan dormitory atau penginapan yang per kamarnya dapat dipakai oleh   empat orang atau lebih wisatawan. “Semoga pelaksanaan benchmarking di Bnyuwangi dapat memberikan manfaat bagi pengembangan organisasi peserta diklatpim IV ini,” pungkas Bupati. (Humas Protokol)

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :